Menggembalakan diri sendiri sebelum jadi gembala orang lain

6 Mei 2019 | Kabar Baik

Yesus bertanya tiga kali kepada Simon Petrus, ?Apakah engkau mengasihi Aku?? Lalu pada setiap jawaban yang diberikan Petrus, Yesus memintanya untuk menggembalakan umat-umatNya.

Pada akhirnya Petrus memang jadi pemimpin pertama. Warisannya dibawa sampai sekarang oleh setiap Paus yang menjabat hingga akhir zaman.

Kabar Baik yang ditulis Yohanes hari ini tidak hanya diperuntukkan bagi mereka yang memang diangkat menjadi ?gembala umat.? Kabar Baik ini tak hanya untuk Paus, uskup maupun pastor. Tuhan mau supaya kita juga mendapatkan ?sesuatu? dari Kabar Baik ini.

Menggembala itu Mengelola

Menggembalakan itu mengandung banyak makna. Tapi jika kita bisa menarik satu benang merah, menggembalakan kurang lebih berarti mengelola. Orang yang mengelola, dalam konteks ?peternakan domba? adalah gembala. Gembala mengelola kawanan domba.

Dalam konteks pekerjaan, gembala barangkali bisa disamaartikan sebagai manajer, kepala bidang atau bahkan CEO. Dalam konteks keluarga, gembala adalah kepala rumah tangga.

Lalu bagaimana kalau kamu bukan manajer, kamu bukan kepala rumah tangga? Tetap masih perlukah kita merenungi Kabar Baik hari ini untuk hidup yang lebih baik?

Perlu karena setiap orang awalnya harus mampu dan terus-menerus belajar untuk menggembalakan diri sendiri terlebih dulu.

Menggembalakan diri sendiri

Menggembalakan diri sendiri bagiku adalah bagaimana mengelola hidup kita supaya menuruti apa yang kita jadikan tujuan hidup. Sebagai umat Allah, sudah barang tentu tujuan hidup kita adalah untuk menjadi saksi bahwa Tuhan mengasihi kita dalam hidup sehari-hari.

Apa jadinya kalau hidup tanpa penggembalaan diri? Seperti halnya kawanan domba yang tidak bergembala. Mereka akan lepas kendali. Ada yang memisahkan diri untuk mencari rumput, ada yang tak mau bergerak dan memilih duduk ?leyeh-leyeh? di bawah pohon yang rindang tapi yang paling tak beruntung adalah domba yang tersesat lalu dimakan musang karena tak ada yang menggembalakannya.

Hidup tanpa penggembalaan adalah hidup yang carut-marut. Seorang yang tak menggembalakan dirinya barangkali akan merasa nyaman menjalani hidup tapi stagnan dalam beriman. Selalu punya alasan untuk tidak mau dekat dengan Tuhan dalam ibadah dengan alasan, ?Ah, nanti-nanti saja kalau sudah tua. Sekarang fokus dulu mencari uang!?

Atau ada juga yang merasa sudah ikut segala macam ibadah namun tetap ?tersesat? karena tak memiliki motivasi lain selain supaya ia tampak alim dan tampak rajin beribadah. Akibatnya, ia kehilangan orientasi dan menjalankan segala sesuatu yang seharusnya baik jadi hambar dan hampa.

Yang lebih parah lagi, orang yang tak tergembalakan hidupnya beresiko untuk menjadi orang yang sangat rentan ?termakan? kepentingan-kepentingan iblis yang hadir melalui bujuk serta rayuan. Menghalalkan segala cara untuk meraih kesenangan diri dan duniawi dan lama-lama tak lagi mengindahkan Tuhan sebagai satu-satunya tujuan.

Kita diundang untuk menggembalakan diri terlebih dulu. Mengelola kehendak dan hawa nafsu sebelum melangkah untuk mencari ?umat? yang mau kita gembalakan.

Sydney, 6 Mei 2019?

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.