Mengenali kebiasaanNya

26 Apr 2019 | Kabar Baik

Untuk ketiga kalinya, Yesus menampakkan diri di depan para murid. Kali itu di tepi Danau Tiberias. Petrus dan para murid lain masih di atas perahu sedang hendak pulang karena semalam-malaman menangkap ikan tapi tak mendapatkan.

Awalnya mereka tak tahu bahwa sosok itu adalah Yesus. Bahkan ketika Ia bertanya dari pinggir pantai adakah makanan bagiNya, para murid tetap tak sadar bahwa itulah Dia.

Hingga akhirnya Yesus meminta mereka untuk menebar jala di sebelah kanan perahu. Ikan yang didapat begitu banyak hingga mereka tak kuat lagi mengangkatnya.

Di saat itulah Yohanes, murid terkasih yang menuliskan semua ini berkata pada Petrus, ?Itu Tuhan!? (lih. Yoh 21:7)

Mereka lantas makan bersama dan sepanjang pertemuan tak satupun dari murid menanyakan, ?Siapakah Engkau?? karena mereka tahu yang di hadapannya adalah Yesus, Putra Allah.

Titik awal untuk mengenaliNya

Ada dua hal yang muncul dalam pikiranku, sejak kapan dalam cerita itu, Yohanes mengenali Yesus?

Sejak para murid diminta untuk menebarkan jala di sebelah kanan perahu atau setelah ikan-ikan yang terjaring begitu banyak?

Menurut tebakanku, sebagian (kalau tak semua) dari para murid mengerti bahwa yang dihadapi adalah Yesus sejak Ia meminta untuk menebar jala di sebelah kanan perahu.

Kenapa? Karena hal yang mirip sama pernah dilakukan Yesus terhadap Simon Petrus pada awal perjumpaan. Waktu itu Simon Petrus telah berusaha mencari ikan semalam-malaman tapi tak mendapatkan hasil hingga akhirnya bertemu Yesus yang meminta mereka untuk kembali berlayar untuk mendapatkan hasil. (lih. Lukas 5:4)

KebiasaanNya

Dari kebiasaanNya, para murid tahu tanpa perlu mempertanyakan lagi itukah Dia!

Apa yang bisa kita pelajari dan renungi dari sini?

Tuhan memiliki kebiasaan dan dari kebiasaanNya itu pula kita tak perlu bertanya lagi apakah Ia adalah Tuhan atau bukan?

Sekitar sepuluh tahun silam, pernah aku kehilangan pekerjaan padahal anak pertamaku baru saja lahir belum sampai empat bulan umurnya. Pusingku bukan kepalang! Bagaimana membayar tagihan rutin bulanan? Bagaimana mendapat uang untuk membeli popok dan bagaimana-bagaimana yang lain yang amat memusingkan!

Tapi di titik itu, aku percaya bahwa salah satu kebiasaan Tuhan adalah, Ia tak kan tega meninggalkan umatNya sendirian!

Untuk itu aku tetap berusaha tenang dan mencari pekerjaan baru. Hingga suatu siang, tak lama sesudahnya aku mendapat panggilan telepon dari sebuah perusahaan.

Adapun perusahaan itu adalah produsen film porno. Ia membutuhkan tenaga web developer/designer dan mereka yakin aku bisa dan suka bekerja dengan mereka.

Tawaran gajinya besar dan saat diinterview melalui telepon, dengan nada bercanda, si pemilik perusahaan berkata, ?Dan kujamin kamu pasti suka kerja di sini?? 

Ah, siapa yang tak suka? Membuat situs web untuk konten porno itu kan ?memanjakan mata? dan digaji pula?!

Tapi aku lagi-lagi mencoba tenang dan tak terburu-buru menerima. Aku mengambil waktu untuk berpikir dan dalam pikiranku aku membayangkan dan bertanya, akankah pekerjaan itu datang dari Tuhan? Adakah Tuhan memiliki kebiasaan untuk menawarkan pekerjaan ?yang seperti itu??

Aku berkeputusan untuk menolaknya! Tidak! Bukan! Itu bukan kebiasaan Tuhan!

Aku kembali fokus untuk berusaha keras mencari lowongan demi lowongan. Akhirnya aku mendapat satu pekerjaan baru di sebuah perusahaan document management bertaraf global. Gajinya lebih kecil dari tawaran pekerjaan produsen film porno tadi. Tapi aku tak menunggu terlalu lama untuk memutuskannya waktu itu. Aku terima pekerjaan karena kuyakin itu datang dari Tuhan! Bagiku, berkat dan rejeki yang datang dariNya berasal dari jalan yang halal dan benar pula!

Lebih dekat dan mendekat

Tapi barangkali ada dari kalian yang bertanya, sejauh apa kita bisa tahu itu adalah kebiasaanNya? Bukankah setan itu cerdik! Ia bisa saja memalsukan diri memberi tawaran seolah-olah pekerjaan itu berasal dari Tuhan?

Benar!
Oleh karenanya faktor seberapa dekat kita dengan Tuhan menjadi sangat penting di sini. Hanya orang-orang terdekatlah yang mampu mengenali kebiasaanNya secara mendalam. Kalau dekatnya hanya setengah-setengah, berhati-hatilah karena iblis terkadang hiperaktif untuk mendekati kita dan mempelajari cara kita untuk percaya kepada kebiasaanNya dan dari situ mereka melancarkan serangan untuk membuat kita percaya pada kebiasaan-kebiasaan mereka!

Lalu bagaimana mengetahui dan mendeteksi bahwa kita sudah dekat dengan Tuhan?

Bagiku sederhana.

Ketika kamu merasa sudah dekat dan lebih dekat kepadaNya dibandingkan orang lain, percayalah bahwa sejatinya kamu belum dekat-dekat amat kepadaNya.

Tuhan itu bagai samudra dalam, Ia tak terselami seutuhnya. Kita harus merendahkan diri serendah-rendahnya di hadapan Tuhan baru kita bisa tenggelam semakin dalam. Kalau tidak, itu sama halnya kita hanya berenang-renang di permukaanNya!

Sydney, 26 April 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.