Mengenal nabi-nabi palsu di sekitar kita. Perlukah?

28 Jun 2017 | Kabar Baik

Kabar Baik Hari Ini 28 Juni 2017

Matius 7:15 – 20
“Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.

Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri?

Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik.

Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik.

Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.

Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.

Renungan

Temanku berbisik, “Kamu ingat dia?”
“Pengajar ternama, kan?” jawabku.

“Dulu!”
Aku mengangkat bahu.

“Nabi palsu sekarang!”
Aku mengernyitkan dahi.

“N-A-B-I P-A-L-S-U!”
Aku kaget.

Apakah nabi palsu itu?
Yesus memberi batasan tegas. Nabi palsu itu bergantung dari buah-buahnya. Kalau buahnya tak baik, palsulah kenabiannya!

Tapi yang menarik kini, aku teringat pengajaran Yesus tentang pokok anggur yang benar. Yesus adalah pokok anggur yang benar yang daripadaNya muncul buah-buah yang benar pula. Maka, mana mungkin ada pohon lain yang buahnya lebih benar dari Kebenaran Sejati itu sendiri?

Aku tak tahu dan aku tak mau tahu tentang siapa gerangan di sekeliling kita yang sudah menjelma menjadi nabi palsu.

Aku lebih fokus pada bagaimana menjadi ranting yang berbuah lebat karena seperti kata Yesus dalam Yohanes 15:2, “Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.”

“Jadi kamu tak percaya kalau dia itu nabi palsu, Don?” lanjut kawanku yang kutulis di awal renungan ini.

Aku tersenyum. “Bukannya aku tak percaya, tapi aku tak punya waktu untuk menilainya. Lagipula siapakah diri ini hingga diberi kewenangan untuk bisa menghakimi sesamaku sebagai nabi yang palsu atau tak palsu?”

Kawanku terdiam dengan muka masam. Mungkin dalam batinnya ia sedang mengata-kataiku sebagai nabi yang tak kalah palsunya juga.

Peduli amat! Tak perlu ambil pusing! Sudahkah berbuah hari ini? Apa buahmu? Kebaikan, keramahan, kelembutan hati dan pemaafan atau kebencian, fitnah, gosip dan dusta?

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.