Mengelola pewartaan

15 Agu 2018 | Kabar Baik

Yesus hari ini seperti dikutip dari tulisan Markus (lih. Markus 9:2-10) mengalami transfigurasi.? Di atas Gunung Tabor yang tinggi, di hadapan tiga murid utama, Petrus, Yakobus dan Yohanes, Ia berubah rupa (transfigurasi). PakaianNya putih mengkilat lalu tiba-tiba muncul sosok dua nabi besar yang pernah hidup sebelum Yesus, Musa dan Elia di kanan-kirinya dan berbicara dengan Yesus entah tentang apa?

Pagi ini, aku merenungi dua nilai dari peristiwa itu.

Legitimasi

Semua yang dilakukan Yesus memiliki alasan luhur, begitu pula dengan proses transfigurasi ini. Untuk apa dan apa perlunya Ia mengadakan hal tersebut?

Menunjukkan legitimasi.

Yesus merasa perlu untuk meyakinkan manusia bahwa Dia adalah Mesias yang dinanti. Untuk itu Ia mengundang tiga murid utamaNya untuk naik ke Tabor dan menjadi saksi atas proses itu.

Ada dua pesan yang disampaikan.

Pertama, kehadiran Yesus itu selaras dengan Taurat, bukan sebuah pemberontakan yang hendak menghilangkan atau mengubahnya. Untuk itulah muncul sosok Musa dan Elia, dua nabi besar Yahudi sebagai penegasan itu.

Kedua adalah yang terpenting karena datang dari Allah Bapa. Melalui awan yang menaungi, Bapa hadir melalui pesan, ?Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.” (lih. Markus 9:7) Hal ini adalah penegasan bahwa Yesus itu Anak Allah yang dikasihiNya.

Pengelolaan Pewartaan

Selain legitimasi, hal kedua yang bisa kita pelajari dalam proses transfigurasi ini adalah bagaimana sebuah pewartaan Kabar Baik harus dikelola

Selain takjub dan bangga, rasa yang barangkali muncul pada diri Petrus, Yakobus dan Yohanes yang jadi saksi transfigurasi adalah beban yang berat.

Kenapa berat?

Bayangkan! Mereka baru saja melihat proses transfigurasi yang begitu menakjubkan. Mereka tentu ingin membagikan cerita itu. Tapi mereka diminta diam dan tidak memberitahu kepada siapapun sampai Yesus bangkit dari maut.

Pernahkah kamu membayangkan, suatu waktu kamu dipanggil seorang konglomerat terkaya di dunia lalu diberitahu bahwa kamu berhak untuk mendapatkan seluruh kekayaannya.? Senang? Tentu! Tapi ada syaratnya! Kamu nggak boleh ngomong ke siapapun sampai orang itu mati!

Berat, kan? Padahal kamu maunya duit itu dikasih sekarang untuk ngelunasin hutang, bayar ini, bayar itu, beli rumah, mobil dan lain sebagainya?

Pewartaan perlu dikelola dan para murid utama, meski berat tapi mereka tak egois dan mau menuruti apa yang dikatakan gurunya.

Tapi kira-kira kenapa ya Yesus nggak mau peristiwa transfigurasi itu disampaikan saat itu juga? Kenapa harus menunggu setelah Ia bangkit dari orang mati?

Tentu yang tahu cuma Yesus. Tapi kalau boleh menebak, tebakanku, Yesus menghindari kehebohan yang tiada guna! Dengan dahsyatnya mukjizat serta pengajaran-pengajaran yang membuka mata hati rakyat, kehadiran Yesus pun sudah menghebohkan, apalagi kalau Yohanes, Petrus dan Yakobus mengungkap trasnfigurasi? Bisa jadi Yesus langsung dibunuh saat itu juga dan tak berkesempatan lebih panjang untuk menyebarkan Injil ke kota-kota lain sebelum Yerusalem.

Nah, jika kalian setuju dengan tebakanku, kalian bisa juga menerapkan hal ini dalam hidup kalian.

Mewartakan Kabar Baik tidak melulu berisi cerita tentang ?hal-hal? yang kadang susah diterima nalar masyarakat awam yang identik dengan misalnya, penampakan, bentuk awan yang mirip wajah Yesus, bagaimana orang disembuhkan sakit secara mendadak, dan hal senada lainnya.

Semua ada tingkatan-tingkatan yang harus dikelola berdasarkan waktu, apa dan kapan sesuatu harus diwartakan. Pewartaan Kabar Baik juga tak hanya berfokus pada hal-hal itu saja. Pewartaan Kabar Baik haruslah membumi karena kita masih hidup di bumi. Melalui bagaimana kita menerima sapaan kasih Allah yang sederhana dari hari ke hari, bagaimana kita dimenangkan dalam menghadapi permasalahan-permasalahan hidup? disitu Tuhan juga dipermuliakan.

Sydney, 7 Agustus 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.