Mengasihi secara radikal

14 Okt 2018 | Kabar Baik

Akhir-akhir ini, setiap mendengar istilah radikalisme dalam beragama, hal? itu membuat bulu kuduk kita berdiri. Bayangan ngeri terpatri karena ulah segelintir oknum yang menurutku mengobrak-abrik istilah ?radikalisme? itu sendiri.

Tapi adakah sejatinya tindak radikal itu semuanya berkonotasi negatif?

Sebagai seorang Katolik, aku memahami Yesus mengajarkan cara mengasihi sesama yang sangat radikal, sangat prinsipil. Kukatakan demikian karena cara pandang kita dalam mengasihi diubahNya sedemikian hebat!

Seperti yang tertuang dalam Kabar Baik hari ini,

Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; (lih. Luk 6:27)

Dahsyat, bukan?
Kita diajak mengasihi musuh dan berbuat baik pada yang membenci. Kenapa? Alasan Yesus begini,

jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka (lih. Luk 6:32)

Yesus mendorong kita menjadi pengasih yang luar biasa, yang tak suam-suam kuku, yang radikal!

Ada banyak contoh yang bisa kita ambil dan jadikan pelajaran dari orang-orang di sekeliling kita tentang bagaimana mereka memaafkan dan mengasihi musuhnya.

Kalau kamu masih ingat kasus pembunuhan Ade Sara? Orang tua Ade memaafkan dan begitu mengasihi orang yang sudah jelas mengaku dan dihukum karena membunuh anak tunggalnya itu.

Atau kalau kalian ingat peristiwa yang terjadi di Gereja St Lidwina di Jogja pada 11 Februari 2018 silam? Romo Karl Edmund Prier SJ (Romo Prier) dibacok orang tak dikenal saat sedang mempersembahkan misa. Tapi ia pun memaafkan si pembacok.

Ada lagi Paus Yohanes Paulus II yang kini sudah wafat dan ditahbiskan sebagai orang suci, pada 1981 sempat dicoba dibunuh oleh Mehmet Ali A?ca di Vatikan. Percobaan itu gagal, Mehmet masuk penjara tapi Sri Paus tetap memaafkan.

Ah, tapi susah, Don! Mereka itu orang-orang terpilih!

Eitsss. Jangan gitu dulu! Yang pasti memang tak gampang tapi kalau tak dicoba sama sekali maka selamanya akan sulit, bukan?

Jadi mari mencoba setidaknya melalui orang-orang terdekat yang ada di sekeliling kita.?

Barangkali kalian adalah suami dari istri yang pernah berselingkuh? Maafkanlah dan kasihi ia! Atau sebaliknya, suamimu bolak-balik jatuh ke pelukan wanita lain? Cobalah untuk membuka hati kepadanya. Atau kamu adalah anak yang selama ini diperlakukan secara kasar dan tak dihargai orang tua? Maafkan mereka! Kasihi mereka! Atau kamu kecewa karena anakmu yang kau kasihi nekad pindah agama untuk mengikuti pasangannya? Doakan! Maafkan! Kasihi!

Mengasihi secara radikal memang sulit! Tapi jangan melulu berpatokan pada hasil karena asalkan kita tak berhenti untuk terus mencoba, hal itu sudah luar biasa!

Bayangkan jika seluruh manusia yang tinggal di dunia ini tak pernah berhenti untuk mencoba mengasihi sesama, bukankah dunia akan jadi tempat yang lebih menyenangkan untuk kita tinggali dan hidupi?

Yuk mulai mengasihi secara radikal, secara luar biasa! Tak perlu tunggu besok! Tak perlu nanti-nanti! Lakukan sekarang juga tepat setelah kamu membaca renungan ini!

Sydney, 13 Oktober 2018

Jangan lupa isi?Survey Kabar Baik 2018. Hasil isian kalian dalam survey tersebut sangat mempengaruhi bagaimana pola tulisan dan distribusi renungan Kabar Baik ini akan berkelanjutan.?Klik di sini?untuk informasi selengkapnya!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.