Mengasihi musuh atau melupakan musuh?

18 Jun 2019 | Kabar Baik

Salah satu hal tersulit dalam menjadi orang Katolik adalah mengasihi musuh.

Dalam catatanku kemarin yang kuberi tajuk ?Memberi Pipi Kiri? aku menuliskan bagaimana cara mengasihi musuh. Hari ini, kita mau terjun lebih dalam pada pemahaman, ?Ngapain sih harus mengasihi musuh??

Mengasihi musuh

Tapi sebelumnya, aku hendak bilang bahwa ketika melihat ada seseorang yang belum bisa memaafkan musuhnya, berhati-hatilah dalam memberi nasihat. ?Makanya jangan dendam! Kasihilah musuhmu!? adalah nasihat yang mudah dan seolah teduh untuk diucapkan, tapi kenyataannya untuk menjalankan bukanlah hal yang mudah.

Karena untuk tidak dendam, untuk memaafkan, untuk mengasihi musuh perlu waktu yang tidak singkat.

Aku  punya musuh, sosok yang dua puluh dua tahun silam kuanggap membuat porak-poranda keadaan ekonomi kedua orang tuaku.

Aku memutuskan untuk mulai proses memaafkannya pada awal 2001. Ketika itu aku mulai berusaha mendekat dan ingin kenal lebih dalam dengan Tuhan melalui iman Katolik. Aku ikut sebuah acara retret yang bertujuan menyembuhkan dendam yang kerap dinamai sebagai ?retret luka batin.? Setelah acara yang menuai derai-derai air mata itu, aku menganggap semuanya beres dan aku memaafkannya sebagaimana aku memaafkan musuh-musuhku yang lain.

Tapi beberapa tahun kemudian, ketika aku bernostalgia tentang masa lalu dengan salah satu kawan lama, tiba-tiba dendam itu menyeruak begitu kuat dan hebat!

Saking hebatnya, aku jadi benar-benar terguncang dalam periode waktu yang tak singkat. Aku jadi gampang uring-uringan, tak fokus kerja, bahkan sampai mempengaruhi kondisi fisikku; beberapa kali ketika dendam begitu mencuat aku sampai muntah-muntah.

Melupakan musuh

Aku memutuskan untuk kembali dengan serius memaafkannya. Membawa nama musuhku dalam doa, memohon berkat dari Tuhan supaya aku dianugerahi kerahimanNya sehingga aku bisa memaafkan.

Tak berapa lama, rasa dendam itu hilang. Tapi beberapa tahun kemudian ketika rasa itu muncul lagi, gangguan seperti itu kambuh kembali.

Lama-lama aku jadi mengerti polanya bahwa ketika aku lupa, aku memaafkan, ketika aku ingat, aku kembali dendam.

?Lupa? pada akhirnya kerap kujadikan sebagai sarana untuk memaafkan meski kadang aku jadi berpikir, bagaimana mungkin kita mengasihi musuh kalau kita melupakannya? Apakah kita bisa mengasihi dalam keadaan lupa?

Lalu bagaimana baiknya?
Terima musuh seutuhnya dan jalani proses memaafkan dan mengasihi seberat apapun itu. Ini adalah resiko karena aku memilih jalan yang kuanggap benar sambil terus merenungkan jalan salib hidup yang harus kuusung seperti halnya dulu Yesus mengusungnya.

Sempurna

Perjuangan ini tidak akan pernah sia-sia! Karena Yesus dalam Kabar Baik hari ini menuntut kita sempurna seperti halnya Bapa di Surga sempurna melalui jalan ini, mengasihi musuh.

Sampai kapan kita sempurna??
Tidak akan pernah kita sempurna selamamasih hidup dalam daging dan dunia ini. Maka pertanyaannya harus diubah, ?Sampai kapan kita tak ingin berubah menjadi sempurna??

Sydney, 18 Juni 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.