
Entah siapa penemu angka pada mulanya, tapi satu hal yang pasti ada begitu banyak hal menarik yang bisa dikaitkan dengan angka.
Orang menghitung harga dengan angka, menakar beras yang hendak dibelinya dengan “angka” timbangan dan “angka” harga.
Orang bersuka cita dengan angka, ketika kita mendapatkan gaji dengan “angka” yang besar, kita pun bersorak sorai oleh karenanya.
Seorang terpidana mati bisa jadi berduka cita dengan angka,
ketika mengetahui bahwa jatah hidupnya tinggal bisa dihitung dengan “angka” hari maka lesu lah seluruh nafas kehidupan menanti nahas. Eh atau barangkali ia malah senang karena hendak
meninggalkan dunia fana ini secepatnya?
Entahlah!
Orang-orang memaknai angka dengan sekehendak hatinya.
Kehendak itu lantas menjadi aturan serta mitos ketika orang-orang disekelilingnya, turun-temurunnya dan turun-temurun dari orang-orang disekelilingnya tadi mengiyakan kehendak itu.
Maka jadilah angka ini dipandang lebih menguntungkan daripada angka itu karena hal ini dan itu.
Maka jadilah angka ini jika disandingkan dengan angka itu akan lebih mengenaskan hasilnya ketimbang angka itu dan ini.
Tak heran kalau kebanyakan orang lantas bilang angka delapan adalah angka keberuntungan dibanding angka yang lainnya karena pemakluman di atas itu tadi.
“Nggak ada garis terputusnya, Don!” begitu kata teman saya mengutarakan alasan kenapa angka “8” adalah angka keramat nan menguntungkan.
Ia menjelaskan bahwa tidak ada garis yang terputus yang selalu melingkar membentuk dua bulatan saling tindih menjadi angka delapan.
“Oh, sama halnya dengan di adat Jawa, Nyo! Angka tujuh juga yang menguntungkan!” demikian balasku padanya.
Banyak orang, terutama orang Jawa sepertiku mengaitkan angka 7 dengan angka terbaik.
Lihatlah, Trans7 yang sebelumnya adalah TV7 melambung mungkin bukan semata-mata karena Empat Mata-nya Thukul Arwana, tapi lebih karena angka “7” nya ?
Sheila on 7, grup musik Yogya yang kesohor itu juga ngetop dan sukses mungkin bukan karena “Om Duta” ataupun Eross Chandra-nya tapi barangkali karena angka “7” nya pula ?
Ya mungkin-mungkin saja.
So, sama halnya dengan tahun lalu dimana orang-orang pada heboh kebelet kawin dan mengadakan perhelatan syukur lainnya dipas-paskan pada angka “777” yang bermakna 7 Juli 2007,
tahun ini pun tak mengherankan kalau angka delapan yang bersanding tiga menjadi 8-8-8 angka keramat sekaligus angka keberuntungan karena berarti ada tiga garis tak terputus yang
berdampingan. Angka itu pun terbaca sebagai delapan agustus dua ribu delapan. Belum lagi jika ditambahkan dengan dua buah angka 8 lagi menjadi jam delapan lewat delapan menit,
wah ciamik rasanya! Eh tapi gimana dengan delapan detik dan delapan mirodetik?
Ah, lebai kalau itu mah!
So, ada apa saja saat tanggal 888 kemarin itu denganmu?
Berapa undangan nikah yang kamu terima dan kamu sambangi serta sumbangi?
Berapa acara-acara spesial dari industri yang menggoda untuk didatangi dan mungkin dibelanja-i?
Kalau aku, selain sempat melihat siaran langsung melalui televisi pembukaan olimpiade di China yang diadakan tepat pada tanggal dan
jam keberuntungan itu, kemarin aku juga pergi ke Semarang untuk mendatangi pernikahan salah satu orang yang pernah menjadi sahabat dekatku.
Pembukaan olimpiade yang katanya terbaik. Pesta pernikahan temanku itupun menurutku juga yang terbaik terutama pada lezatnya makanan yang luar biasa maknyusnya.
Eh, tak hanya itu… Aku juga ketiban “kamar terbaik” karena semula aku memesan kamar standard di Grand Candi Semarang, eh lha kok pas sampai di
reservasinya dibilang “Karena kamar standar penuh, Bapak Donny kami upgrade ke kamar grand panorama…”
“Hah, omaigod, grand panorama? Apa pula itu Pak?”
“Oh kamar panorama itu salah satu ruangan terbaik yang kami miliki..”
Hoho, yang terbaik, bukan ?
Tapi tak selamanya kombinasi angka “8” itu adalah tentang yang terbaik dan yang baik-baik lainnya.
Ternyata ada pula ramai-ramai orang yang kemarin memperingati dua puluh tahun revolusi nasional Birma a.k.a Myanmar atau yang lebih dikenal sebagai 8888 Uprising karena terjadi pada
8 Agustus 1988 dan memakan banyak korban jiwa.
Terkait dengan hal terakhir itu tadi, iseng-iseng aku pun bertanya pada teman saya itu lagi
“Lho, Nyo… lha nek itu, 8888 kok malah isinya orang ndak mujur, tho?”
“Wah nek itu aku ndak tau.. atau mungkin hmmm mungkin karena kelebihan angka 8 nya jadi empat.. empat itu kan angka nggak baik!”
Aku pun cuma manggut-manggut lalu berujar “Wooo.. gitu tho!”
Tinggalkan Balasan