Mengampuni atau pura-pura mengampuni

10 Mar 2020 | Kabar Baik

Hari ini Yesus bicara tentang bagaimana kita seharusnya mengampuni. PerintahNya jelas, ampunilah (orang lain yang bersalah) jika ingin kesalahan kita pun diampuniNya.

Tapi sesulit apa sih sikap hati untuk tidak menghukum orang lain ketika kita tahu bahwa orang itu memang benar-benar bersalah? 

Misalnya ada seorang ketahuan nyopet di terminal bus. Ramai orang lantas memukulinya dan sekiranya kamu tersadar bahwa dompetmu termasuk yang juga dicopetnya, adakah kamu tak tertarik untuk ikutan memukuli?

Begitu juga tentang perselingkuhan. Ada sepasang suami-istri menikah lalu tiba-tiba sang suami selingkuh dengan wanita lain dan ketika sang suami terang-terangan mengakui perbuatannya, seringan apa sang istri bisa langsung mengampuninya saat itu juga dan bilang, ?Nggak papa.. Aku sudah memaafkanmu??

Mengampuni? Tak mudah!

Tak semua orang bisa mengampuni dengan mudah dan kita tak perlu menganggap rendah orang seperti itu. Kita tidak pernah tahu ada apa dibalik ketidakmudahan itu. Bisa jadi memang hatinya keras bagai pualam. Tapi barangkali justru karena ia memandang pengampunan itu bukan perkara remeh-temeh  yang mudah diberikan.

Sebaliknya, tak semua yang mudah mengampuni sejatinya sudah benar-benar mengampuni kesalahan orang lain lho. Siapa tahu alasannya karena ia ingin cepat-cepat diampuni kesalahannya juga oleh Tuhan maka ia pura-pura mengampuni. Siapa tahu ia tak pernah mengampuni tapi melupakan? Dua hal yang sangat berbeda secara hakikat, bukan?

Pengampunan itu perkara serius

Pengampunan memang perkara serius bahkan Tuhan sendiri juga sangat serius ketika membuka jalan pengampunan bagi manusia. Ia harus turun ke bumi, merendahkan diri serendah-rendahNya, mengalami sengsara bahkan akhirnya harus menyerahkan nyawa di atas kayu salib.

Pengampunan juga bukan hal yang sekali jadi. Ia adalah sebuah proses panjang. Maka kalau ada yang merasa sudah mengampuni tapi tak lama kemudian tiba-tiba perasaan dendam muncul kembali di dalam benak hal itu lumrah saja terjadi karena memang proses pengampunan belum selesai.

Tiga tahap mengampuni

Memulai untuk mengampuni adalah dengan mulai menyelesaikan persoalan di dalam diri terlebih dulu. Dalam konteks nyata, membuka pintu maaf dimulai dengan menyadari apa yang telah terjadi, apa yang telah melukai dan kenapa kita bisa sampai terluka olehnya.

Seorang bisa mengampuni harusnya tahu secara sadar apa yang harus diampunkan. Kan nggak lucu kalau ada orang bilang, ?Aku udah mengampunimu? tapi ketika ditanya apa yang harus diampuni ia menggeleng tidak tahu.

Tahap kedua adalah dengan menyadari bahwa meski sakit, hidup ini berjalan terus maka kita harus move on!  Menganggap hal yang terjadi sebagai pelajaran dan menemukan solusi untuk ke depan supaya hal seperti itu tak terjadi lagi.

Barulah di tahap selanjutnya kita memaafkan meski barangkali orang tadi belum meminta maaf. Memaafkan adalah wujud kedewasaan hati dan pilihan sikap hidup yang menghadap ke masa depan yang tak mau dibebani dengan hal-hal yang belum terselesaikan di masa lalu.

Berakhir sampai sini? Tidak! Kan Yesus sendiri bilang memaafkan itu tujuh puluh kali tujuh banyaknya, maka lakukanlah demikian adanya, berulang-ulang, tertatih-tatih, terhuyung-huyung hingga akhirnya di ujung sana nanti, semua bersih cemerlang tanpa jelaga.

Sydney, 10 Maret 2020

Sebarluaskan!

2 Komentar

  1. Thanks for sharing, Mas DV. Saya banyak tertegun waktu baca postingan ini.

    Balas
    • sama2, mas

      Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.