Mengalami Tuhan Dalam Keterpepetan

28 Apr 2022 | Cetusan

Orang baru ingat Tuhan ketika kepepet. Idealnya sih nggak gitu, tapi biasanya demikian.

Dan keterpepetan itu bisa mewujud dalam banyak hal. Seorang kawan terpepet karena hutang. 

Kawan lain cerita kalau pacarnya hamil duluan. Aku sih bilang, “Kawinin!”

Dia menjawab, “Yang kuhamilin istri orang!” 

Tapi yang ingin kuceritakan adalah keterpepetan remeh-temeh yang terjadi sehari-hari tapi justru dari situ aku ingin kita melihat bersama tentang dimana dan bagaimana sosok Tuhan berperan.

Waktu masih tinggal di Jogja, hampir setiap akhir pekan aku mudik ke rumah orang tuaku di Klaten. 

Kadang kalau pas malas motoran, aku memanfaatkan transportasi publik, bus antar kota-antar propinsi.  Kalau dari Jogja, nyegatnya di Njanti dekat Rm Ayam Goreng Suharti.

Suatu waktu, seperti biasa, begitu bus datang aku segera nyengklak lalu duduk. Tapi nggak lama kemudian, saatu aku baru mau mengeluarkan handphone dan earphone untuk memutar musik tiba-tiba perutku bergejolak. Rasanya seperti diaduk-aduk. Tidak lama kemudian keringat dingin bercucuran dan sekujur tubuh merinding.

Untuk mengatasinya, yang biasa kulakukan adalah pergi ke toilet lalu buang air besar. Tapi saat itu tentu aku tak bisa melakukannya. Aku sedang berada di atas bus yang bergerak dan bus yang kutumpangi adalah bus ekonomi yang tidak menyediakan toilet. Tiket pun sudah kubayar untuk tarip hingga Klaten. Aku benar-benar tersudut. 

‘Untungnya’ aku ingat Tuhan. Akupun berdoa, “Tuhan, bantu aku! Aku kebelet e’ek tapi you know, aku sedang ada di bis…!”

Dalam pikiranku, Tuhan akan menghentikan rasa mulasku. 

Akupun menunggu tindakan-Nya. Tapi hingga lima menit sesudahnya, rasa mulasku justru bertambah. Aku makin tidak tenang.

Aku tetap berdoa, mengulang doa yang sama, “Tuhan, bantu aku! Aku kebelet e’ek tapi aku sedang ada di bis…!”

Hingga pada satu titik, saat rasa mulasku belum usai sampai ke tanda titik, aku melihat bis yang kutumpangi baru saja melewati sebuah pom bensin di seputaran Kalasan. Otakku lantas berpikir bahwa di pom bensin pasti ada toilet umum. Aku segera berdiri dan memberi aba-aba pada kernet bahwa aku akan turun. 

“Lho ra sido tekan Klaten, Bos?” tanyanya kepadaku.

“Ora! Kepising!” balasku.

Segera setelah turun aku berlari ke pom bensin yang barusan terlewati, menuju ke toilet dan menyelesaikan hajat. Masalah selesai!

Setelah semuanya selesai aku segera kembali keluar ke jalan raya mencari bis, melanjutkan perjalanan dalam perasaan lega tanpa terpepet lagi!

Aku ingat dan berdoa kepada Tuhan ketika aku tersudut kebelet e’ek.

Tuhan memang tak menghentikan rasa mulasku meski jika mau ya sebenarnya bisa saja namanya juga Tuhan.

Tapi Tuhan menerbitkan pikiranku untuk tanggap bahwa aku baru saja melewati pom bensin dan di pom bensin pasti ada toilet. Tuhan juga memampukanku untuk berpikir bahwa aku memang rugi karena udah bayar tiket bis sampai Klaten tapi daripada boker di celana karena aku tak sanggup menahan sampai tiga puluh menit kemudian untuk sampai di rumah, lantas apa kata dunia?

Dari situ aku belajar, bahwa dalam keterpepetan, Tuhan itu ada dan menemani kita tidak melulu untuk keluar dari keterpepetan dengan cara yang kita inginkan dan bayangkan. Ia kadang menunjukkan cara yang tak pernah kita pikirkan sebelumnya dan yang pasti, apapun cara yang ditunjukkanNya, Tuhan menemani kita dalam keterpepetan tersebut.

Kembali ke cerita waktu itu. Setelah cebok, memakai celana (duh, Don! ngapain yang kayak gini perlu diceritakan secara detail?!) dan membayar ongkos toilet, aku berjalan kembali ke tepi jalan untuk menanti bus berikutnya. Dengan rasa lega aku menggumam “Puji Tuhan!”

Sebuah awalan yang baik bukan? Karena artinya aku tetap ingat Tuhan meski sudah atau sedang tidak ada dalam keterpepetan sekalipun.

Kalian?

Sebarluaskan!

1 Komentar

  1. Ngakak baca ceritanya.
    Jadi ingat dulu pernah kebelet berak waktu kecil.
    penggalaman yang gak bakal pernah terlupakan.

    Walaupun ceritanya lucu sangat inspiratif sekali ini buat saya,
    Jadi inget dulu pas masa sulit di pekerjaan.

    Sekarang sepertinya sedang mengalami kembali Keterpepetan ini.
    Syukur ini memberi motivasi saya untuk cari solusi dan lebih fokus.

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.