Mengalami dan merasakan Firman Allah, bukan hanya mengetahui dan mempelajarinya saja?

23 Sep 2017 | Kabar Baik

Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.”
(Lukas?8:15)

Kabar Baik hari ini, lagi-lagi, Yesus mengisyaratkan pentingnya memberi tanggapan atas kasih Allah.

Kali ini, Ia menganalogikan manusia menerima firman Tuhan itu layaknya biji yang ditaburkan. Ada yang jatuh di pinggir jalan, di tanah berbatu-batu, di tengah semak berduri, tapi juga tentu ada yang tumbuh di tanah yang baik.

Dalam kehidupan sehari-hari masa kini, kuncinya menurutku ada pada bagaimana kita menanggapi firman Tuhan, apakah menganggap firman itu hanya di level pengetahuan saja atau menempatkanNya sebagai pedoman hidup yang kita ?hidupi? sehari-hari.

Sebagai sebuah petikan contoh hidup yang sederhana barangkali begini, kita curiga pada seorang warga baru di kampung. Sepertinya ia memiliki kecenderungan suka mencuri. Orang yang menempatkan firman Tuhan hanya di level pengetahuan, mereka akan kebingungan menentukan sikap mana yang harus diambil, melabrak dan mengusir orang tersebut atau mendiamkannya saja.

Ketika mereka diprovokasi untuk mengusir, pada akhirnya pertimbangan untuk membiarkan akan kalah dan mereka bergabung dalam demo menuntut supaya warga baru itu pindah dengan alasan takut merusak suasana yang sudah kondusif dan agamis di kampung tersebut.

Sementara orang yang menempatkan firman Tuhan sebagai pedoman untuk kehidupan sehari-hari, mereka tetap teguh menganggap bahwa mencuri itu dosa tapi sekaligus mereka juga akan teguh mempertahankan sisi kemanusiaan yang tidak mengijinkan adanya penindasan dan kesemena-menaan terhadap setiap orang termasuk mereka yang mungkin adalah pencuri. Orang-orang seperti ini pada akhirnya akan menempuh jalur yang lebih manusiawi dan formal ketimbang mendemo ataupun ‘main kasar’.

Kok kamu bisa nebak gitu, Don?
Orang yang membawa firman Tuhan ke dalam kehidupan sehari-hari adalah orang yang berani menjalani hidup dan membuat keputusan berdasarkan firman yang diterimanya. Sedangkan orang-orang yang baru berani membawa firman Tuhan dalam tahap pengetahuan dan tidak mau membawaNya ke dalam sendi hidup sehari-hari, mereka akan lebih banyak bimbang bukan tentang bagaimana mengambil keputusan sikap hidup tapi bimbang mempertanyakan kebenaran firman Tuhan itu sendiri?

Jadi, belajar tentang firman Tuhan itu amat penting, tapi yang lebih penting adalah menjalankannya dalam kehidupan sehingga kita nggak kaget ketika apa yang kita hadapi tak seindah apa yang diceritakan dalam kitab-kitab yang kita pelajari.

Sydney, 23 September 2017

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.