Mengajarkan doa

20 Sep 2010 | Agama, Cetusan


Beberapa waktu lalu, teman dekatku bertanya via YM, “Mas, anakmu sudah kau kenalkan dengan Tuhan?”
Aku ‘mengenalkan’ Tuhan’melalui piranti agama yang aku dan istriku anut, Katholik, sejak Odilia, anakku itu, masih dalam kandungan.
Pada saat itu, setiap pergi ke gereja, saat doa Bapa Kami (Our Father / Pater Noster) dikumandangkan, selain menggandengku, tangan istriku yang sebelah lagi ditumpangkan di atas perutnya buncitnya sebagai pertanda bahwa kami, aku, istri dan anakku, bergandengan tangan dan menyuarakan doa yang sama seperti yang diajarkan Yesus itu.
Sesaat setelah lahir, inginku membisikkan doa Bapa Kami ke telinga anakku.
Ide ini terinspirasi oleh beberapa kawan muslim yang membisikkan adzan di telinga orok mereka sesaat setelah lahir. Tapi karena keadaan, waktu itu Odilia harus di-capsuled beberapa hari setelah lahir sehingga tak memungkinkanku untuk menyuarakan doa di telinganya, aku lantas memegang tangan mungilnya dari lubang akses kapsul khusus itu dan ‘kuajak’ ia berdoa Bapa Kami.
Sebulan lebih sedikit setelah ia lahir, bertepatan dengan Hari Raya Paskah, aku dan istriku membaptiskan Odilia ke Gereja Katholik. Orang-orang yang skeptis terhadap agama akan berujar bahwa itu adalah pemaksaan kepercayaan, sementara tetangga sebelah yang fanatik bisa berujar “Kristenisasi!” Tapi apa daya, aku tak punya pilihan, Itulah janjiku saat pernikahan yang kuucapkan di hadapan Tuhan yaitu mengajar dan mendidik anak-anakku secara Katholik, tiada lain.
Menginjak usia tiga bulan, saat ia sudah mulai bisa lebih ‘alert’, aku maupun istriku selalu mengajaknya untuk berdoa malam dan pagi.
Kugenggam tangan kanannya untuk bersama-sama membuat tanda salib, mengatupkan tangannya ke depan dada dan sambil menatap matanya, kuajak dia untuk bersyukur tentang hidup kepada Tuhan.
Teristimewa untuk pagi, ketika mengajaknya berdoa, aku gendong Odilia dan membuka jendela menghadap ke arah timur memandang kilau jingga di kaki langit dan mengucap syukur.
(Ah, well…. aku ini ternyata Pagan sekali ya! Orang-orang Pagan-Katolik ritus timur jaman dahulu memang selalu berdoa menghadap ‘kiblat’ timur karena mereka (dan aku) percaya bahwa Yesus untuk kedua kalinya akan datang dari arah timur… hahaha)
Enam bulan, ketika ia mulai menerima asupan makanan lunak, setiap hendak makan meski tangan dan kakinya sudah diayun-ayunkan karena tak sabar menahan lapar, aku selalu menahan sejenak dan berujar “Eits, berdoa dulu ya, Odilia!” lalu kupimpin ia untuk mengucap syukur atas makanan yang masih diberikan Tuhan kepadanya. Sesekali kuselipkan pula doa bagi saudara-saudara yang masih kesulitan untuk mendapatkan jatah makan seperti yang hendak kuberikan kepadanya.
Lalu temanku yang di atas kuceritakan bertanya lagi itu, kembali bertanya “Kenapa kamu ajarkan semua itu ke anakmu, Mas?”
Aku diam sejenak… beberapa kali aku mencoba menulis jawaban di kotak jawab YM di hadapanku tapi berkali-kali pula aku menghapusnya sambil menunggu otakku menemukan kata yang pas sebagai jawaban.
Hingga akhirnya jawaban ini pun tersurat “Karena tak ada kekuatan lain yang lebih kuat dari Nya yang harus kuajarkan sebagai dasaran hidupnya kelak, Bung!”

Sebarluaskan!

14 Komentar

  1. Setuju sekali dengan kalimat terakhirmu, Don…
    Bagi kita yang berkeluarga dengan satu agama, akan sangat mudah untuk mengenalkan agama kepada anak kita. Tentu menjadi sebuah usaha yang tidak mudah, jika seorang anak terlahir dari orangtua yang berbeda agama, dan dirimu telah mengalaminya…
    Oleh karenanya, ketika aku bertanya kepada seorang Profesorku yang Katolik dan menjadi aktivis dialog antar agama serta pluralisme di Jogja tentang bagaimana pandangannya soal nikah antar agama, beliau mengatakan: “saya sangat menjunjung tinggi perbedaan, dan saya sangat menghormati perbedaan itu, tapi saya tidak menyarankan nikah antar agama, karena anak tidak bisa mengenal dua keyakinan secara bersamaan dalam umurnya yang masih kecil”.
    So, tidak ada salahnya jika kita mengenalkan agama kita kepada anak sedari dini

    Balas
  2. sungguh, sebuah penanaman sikap religius yang layak dicontoh ini, mas don. sejak odilia masih dalam kandungan, dia sudah diajarkan bagaimana cara berdoa yang baik. semoga kelak odilia tumbuh dan berkembang menjadi insan yang taat dalam beribadah sesuai dengan agama yang diyakininya.

    Balas
  3. Sudah menjadi kewajiban dan juga naluri orang tua untuk mengajarkan hal yang baik pada anaknya, termasuk dalam hal berdoa.

    Balas
  4. Nice Article, inspiring. Aku juga suka nulis artikel bidang penyembuhan dan kesehatan di blogku : http://www.TahitianNoniAsia.net, silahkan kunjungi, mudah-mudahan manfaat

    Balas
  5. Pengenalan sejak dini akan ada yang lebih kuasa memang bagus dan mantap. Coba kalo wis tuwek mengenal Tuhan, kan berabe. Mungkin para pencoleng uang negara tidak kenal Tuhan sejak kecil sehingga kalau udah masuk penjara baru belajar agama.
    Selamat atas kelahiran anaknya. Terlambat memang….

    Balas
  6. like this ..

    ?Karena tak ada kekuatan lain yang lebih kuat dari Nya yang harus kuajarkan sebagai dasaran hidupnya kelak, Bung!?

    true .. so true .. mohon ijin share link ke temen .. thank you ..

    Balas
  7. Don, senang membaca tulisanmu ini. Sejak kecil hendaknya kita mengajarkan agama pada anak kita, bahkan sejak sebelum berhubungan intim agar semua merupakan ibadah.
    Dengan orangtua yang saling memahami, dengan agama yang tepat, maka kehidupan rumah tangga akan tentram dan damai, karena pada saat-saat kita mendapat cobaan kepada Tuhan kita mengadu dan berdoa, mohon mendapat kan petunjuk Nya.

    Balas
  8. Aku mencoba mengingat-ingat, bagaimana awal mula dulu orang tuaku mengajarkan agama kepadaku. Tapi aku nggak ingat. Pokoknya, sepanjang yang berhasil kugali dari memoriku, aku tahu bahwa ada Tuhan yang menciptakan manusia dan alam semesta, dan bahwa Dia selalu mengawasi kita. Sampai sekarang, apapun yang kulakukan, bahkan ketika tak ada seorangpun yang tahu, aku tahu Tuhan melihatku …

    Balas
  9. Aku baru belakangan ini mulai mengajarkan doa pada anakku, Don. Memang setiap kali aku sholat dia pasti melihat, tapi karena aku masih sedikit confuse tentang apakah dia akan ikut aku or suamiku, jadi aku memang agak terlambat untuk itu.
    Tapi belakangan ini aku mulai mengajarkan dia berdoa sebelum tidur. Doa singkat dulu, dan pelan-pelan dia mulai terbiasa… :)

    Balas
  10. Aku lupa kapan awalnya aku diajari berdoa oleh orangtuaku.
    Yang jelas sih, setiap kali makan bersama, pasti berdoa bersama..
    nice share, Don… semoga kelak kalau aku punya anak, aku (kami) bisa mengajarinya berdoa juga…

    Balas
  11. Andai semua orang tua hendak melakukan itu semua terhadap anaknya sejak kecil, tentulah akan membawa kehidupan damai terjadi di mana-mana, Om.

    Balas
  12. Congrats tulisannya menggugah… andai aku bisa memutar roda ini kembali akan copy paste.. Yang telah saya lakukan adalah selalu membawa mereka ke gereja. Begitu mereka tidak bisa diatur, saya langsung membawa pulang ke rumah. Akhirnya mereka tahu kalau di gereja mereka harus sopan dan berdoa. Doa dan renungan serta sedikit sharing dengan anak-anak kami lakukan pada malam hari. Ditengah berbagai problem anak-anak sekitar, kami bersyukur Tuhan memberikan kami dan mereka kemudahan.. Semua selesaikan sekolah mereka, walau kami tahu pendidikan diri akan terus berjalan. Populis Dei in via…tak akan pernah selesai di bumi pengembaraan ini.

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.