Menerima Tuhan dengan berat hati? Yang penting jalani!

19 Mar 2018 | Kabar Baik

Hari ini kita memperingati Hari Raya St. Yusuf, suami Santa Perawan Maria .Pernahkah kamu berpikir beratnya hidup sebagai Santo Yusuf? Angan-angannya untuk menikah secara ?normal? dengan Maria mendadak buyar karena wanita pujaan hatinya itu mengabarkan dirinya hamil. Tentang siapa yang menghamilinya pun bukan main-main! Ia dibuahi Roh Kudus!

Yusuf awalnya bukannya tak goyah, ia malah pernah berpikir untuk menceraikan Maria secara diam-diam. Tapi melalui mimpi, Yusuf dicerahkan, diberi jalan terang untuk tidak menceraikan. Pria keturunan Raja Daud yang konon adalah tukang kayu itupun menurut. Dari Yusuf kita belajar berbesar hati meski awalnya mungkin berat. Pernahkah kita berada dalam posisi Yusuf. Tak harus dalam ?skala? yang berat sepertinya, tapi dalam konteks berbeda yang mungkin lebih ringan tapi berprinsip sama? Kamu merencanakan sesuatu tapi lantas Tuhan hadir dan kamu dengan rela meninggalkan rencana itu dan menuruti kehendakNya? Waktu SMA dulu pernah suatu sore aku nonton pertandingan basket di sebuah gelanggang olahraga di Jogja sana. Saat hendak pulang, tiba-tiba seorang cewek cantik yang kukenal adalah kawan dari seorang kawanku yang lain memintaku untuk mengantar pulang ke kostnya. Waduh! Rejeki nomplok! gumamku. Segera kuboncengkan dan tangannya pun melingkar di pinggangku. Sebagai pria normal, remaja pula, fantasiku liar mengudara. Hmmm, kayaknya kalau setelah kuantar aku main-main dulu di kostnya asik nih! Aku mencari ide untuk membuatnya menahanku di kamar kostnya. ?Eh, kamu keberatan nggak kalau aku mampir bentar? Aku belum makan siang. Kamu mau? Kubelikan sekalian nanti kita makan di kamar kostmu?? Ia mengangguk. Fantasiku kian liar?ar?ar! Sesampainya di kost-kostan, aku menyandarkan sepeda motor lalu mengikutinya dari belakang. ?Kamu masuk dulu saja, Donny! Aku mau ambil piring dan sendok di dapur?? Aku masuk ke kamarnya. Kamar nan bersih dan rapi. Di atas meja ada fotonya berdua dengan seorang pria. Pasti pacarnya! Gumamku. Tapi aku tak gentar, toh hanya foto, akulah yang ada di sini saat ini! Imajinasiku kian meninggi hingga tiba-tiba dari dapur terdengar percakapan agak seru. ?Don?? sapa cewek tadi membuka pintu kamar. ?Ya?? ?Duh aku nggak enak omongnya nih!? ?Ya? Ada apa? Pacarmu telpon?? bulu kudukku meremang. Ia menggeleng. ?Lalu?? ?Aku bener-bener nggak enak!? ?Bilang aja nggak papa?.? ?Aku tahu kamu lapar, aku tahu kamu sudah beli makan untuk kita tapi aku barusan dimintain tolong oleh Bu Kos-ku nih?? ?Oh? Aku nggak boleh masuk kamar ya?? ?Bukannnn?..? Bukan-nya manja. ????? ?Bu Kostku barusan terjatuh di kamar mandi. Kakinya terkilir dan ia minta tolong untuk diantarkan ke tukang pijet situ. Kamu? kamu keberatan nggak kalau nganterin dia, Don?? Glek! Buyar sudah fantasiku! Ketika sedang hendak mengelak, dari arah belakang, datang sosok ibu kurus berwajah tirus mengenakan daster kumal dengan langkah terpincang dan wajah yang mengaduh, ?Mas, nyuwun tulung nggih?? Masa aku menolak sih? Dengan berat hati kutinggalkan cewek cantik itu, kamar yang wangi dan fantasi liarku? Jika tadi aku memboncengkan cewek cantik dengan wangi semerbak yang gelendotannya bikin fantasi kepayang, kali ini aku memboncengkan cewek sepuh dengan wangi aroma bawang merah ala dapur dengan gelendotan super kencang karena menahan rasa sakit di kakinya dan sesekali mengaduh! Akhirnya sore itu kulalui di ruang antri tukang pijet bukan di atas kasur empuk, bukan tentang bagaimana menghidupi fantasi nan liar yang kubangun sejak beberapa jam sebelumnya. Nasi bungkus yang kubeli tadi kubuka dan kumakan di sela-sela antrian orang menunggu dipijat. Jam tujuh malam, setelah Bu Kos selesai dipijit akupun mengantarkannya pulang. ?Loh, nggak jadi mampir, Mas?? tanya Bu Kost sambil mengucap terimakasih kepadaku. ?Oh, mboten, Bu. Lain waktu saja, Bu!? Aku buru-buru berlalu karena ada mobil diparkir di depan garasi kost dan tahu bahwa mobil itu milik pacar cewek cantik yang kuantarkan tadi. Aku menerima ?tugas? dari Tuhan meski awalnya berat hati. Tapi seberat-beratnya langkah setidaknya kebesaran hati membuat yang berat tetap terjalani sekuat-kuatnya, sejauh-jauhnya. Mari belajar dari Yusuf untuk menerima Tuhan seberat apapun itu?. Sydney, 19 Maret 2018
Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.