Menempatkan rasa percaya dengan baik dan benar

25 Feb 2019 | Kabar Baik

Seorang anak dibawa kepada Yesus karena ia kerasukan roh jahat. Orang tua si anak itu berkata begini kepadaNya, ?Sebab itu jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami.” (Markus 9:22)

Lalu jawaban Yesus adalah,? “Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” (Markus 9:23)

Si orang tadi belum percaya betul pada Yesus makanya ia menggunakan frase, ?jika Engkau dapat berbuat sesuatu?? Tapi kalau kita cermati, apa yang menjadi jawaban Yesus menurutku agak ?beda?.

Aku sempat berpikir, harusnya Yesus menjawab begini, ?Katamu: jika engkau dapat? Ya jelas aku dapat! Aku kan Tuhan!? Karena memang Ia Tuhan dan mampu melakukan segala.?

Tapi kenapa Yesus tidak menjawab demikian? Kenapa Yesus malah menempatkan frase ?Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!? Adakah itu berarti pula sebaliknya, bahwa mustahil bagi orang yang tidak percaya? Kalau demikian adakah kemustahilan itu bukan pada kuasaNya tapi pada kepercayaan orang yang memintanya?

Kepercayaan sebagai tanggapan

Tuhan menuntut kepercayaan kita. Kepercayaan muncul sebagai tanggapan dan tak hanya berupa perkataan tapi juga sikap proaktif / gumregah dalam perbuatan kita.

Suatu waktu pernah aku dan kawanku hendak pergi ke sebuah acara yang dihelat pada malam hari. Namun sayangnya hingga sore hari, hujan tak kunjung berhenti sedangkan kami sebenarnya agak malas kalau harus berbasah-basah ria. Maklum, dulu kami belum punya mobil dan akses taksi online belum semeriah sekarang.

Lalu kawanku bilang begini, ?Ya Tuhan, nanti malam jangan hujan dong! Kami mau ada acara nih??

Tapi hujan tak kunjung reda lalu kawanku bilang, ?Artinya kita kurang percaya nih Don! Batalin aja deh acaranya!?

Bagiku, memaknai sebuah kepercayaan itu tak demikian. Tuhan dan kepercayaan kita terhadapNya tak bisa dipertaruhkan hanya dalam sebuah penggalan doa singkat yang meminta supaya hari tidak hujan.

Kalau tetap hujan, bukan berarti kita tidak percaya, kalau hujan bukan berarti Tuhan tidak mampu membuat hari terang-benderang.

Karena hujan-tidak hujan, keduanya jika terjadi adalah seturut ijin yang diberikan olehNya. PenyertaanNya hadir dalam cara kita berpikir dan berkeputusan menyikapi keadaan.

Jadi kalau tidak hujan? Bersyukurlah!

Kalau hujan? Bersyukurlah karena kita diberi kemampuan untuk pinjam jas hujan untuk naik motor ke tempat acara. Bersyukurlah ketika kita punya mobil atau bisa ambil taksi untuk pergi dan tetap ikut acara.

Kalaupun sama sekali nggak bisa ke sana karena hujan? Tetaplah bersyukur karena itu berarti Ia ingin kamu mengerjakan hal lainnya yang tak kalah baiknya.

Disitulah letak kepercayaan kita. Kepercayaan yang tak hanya berarti kata-kata, kepercayaan yang menjiwai setiap perbuatan dan mewujud di dalamnya.

Sydney, 25 Februari 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.