Meneladani Maria: Menyimpan segala perkara dan merenungkannya

1 Jan 2020 | Kabar Baik

Hari ini dunia merayakan tahun baru masehi, sementara Gereja, masih dalam perayaan Natal hari ke-delapan, merayakan Hari Raya Santa Maria Bunda Allah. Karena Anak Maria, Yesus, adalah sungguh Allah sungguh Manusia, maka Bunda Maria tidak hanya menjadi ibu dari Yesus tapi juga ibu dari Allah. Hal ini seturut dengan hasil Konsili Efesus tahun 431 Masehi. Tapi dalam konteks keseharian, apa yang bisa kita petik dari Kabar Baik hari ini? Apa yang bisa kita lakukan dengan meneladani Maria?

Kedatangan para gembala

Para gembala yang sedang menjaga domba-dombanya di malam hari di dekat tempat Yesus lahir didatangi malaikat yang mengabarkan kabar sukacita kelahiran Tuhan. (lih. Lukas 2:10-11)

Mereka lantas berduyun-duyun datang ke palungan Yesus dan berjumpa dengan Yosef serta Maria.

Kepada mereka, para gembala menceritakan bagaimana mereka didatangi malaikat. Tapi apa reaksi Maria? Ia menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya. (lih. Lukas 2: 19)

Aku tertarik dengan reaksi Maria tersebut.

Kalau aku ada di posisi Maria, barangkali reaksiku akan seratus delapan puluh derajat berkebalikan! Aku langsung keluarin handphone, bikin Facebook Live atau instastory di Instagram dan mengabarkan pada khalayak di social media, ?Hey Guys, kita kedatangan tamu nih! Para gembala dari desa sebelah. Eh tau nggak, mereka baru didatangin para malaikat dan malaikat itu bilang kalau anak aku yang baru lahir ini adalah Juru Selamat yang dijanjikan Allah loh! Seru kan guys!? Tentu saja sambil berharap banyak yang nge-like dan syukur-syukur nge-share sehingga jumlah yang ?view? banyak!

Jaman itu memang belum ada social media, tapi kalaupun sudah ada, Bunda Maria tidak akan melakukan seperti yang kulakukan di atas. Kenapa? Karena meski membanggakan, mengabarkan hal tersebut saat itu bukanlah sesuatu yang bijaksana. Bayangkan kalau lantas hal itu terendus para prajurit Herodes, bisa-bisa mereka langsung mendatangi dan bayi Yesus dibunuh karena Herodes memang menginginkan hal tersebut terjadi, bukan?

Meneladani Maria: Tenang, tidak terpancing euforia

Maria memilih bersikap menyimpan segala perkara di dalam hati dan merenungkannya. Pilihan sikap ini tidaklah berarti bahwa Maria pasif nan apatis. Sebaliknya, Maria menunjukkan sikap ketenangannya dalam menerima Kabar Gembira dari Tuhan. Ia tidak terpancing perasaan euforia sesaat. Dalam tenangnya itu, Maria menyusun langkah terbaik yang bisa ia dan suaminya berikan untuk membesarkan Tuhan.

Dalam kita mengelola kabar, meski dari Tuhan sekalipun, ada baiknya kita meneladani Maria; tidak mengedepankan perasaan meski untuk itu tentu tidak mudah.

Tahun-tahun belakangan ini kita sering melihat bagaimana banyak orang terlalu mengedepankan perasaan ketika mendengar sebuah kabar. Ada kabar bahwa capres A adalah keturunan PKI, karena emosi langsung menyebarluaskan ke khalayak. Ada kabar tentang seorang tokoh yang dituduh menghina agama, langsung naik pitam dan mengkoordinasi massa untuk turun ke jalan.

Dan yang terjadi hari ini, ada musibah banjir yang terjadi di Jakarta. Alih-alih menunjukkan simpati atau merancang bantuan, yang dilakukan justru mengolok-olok Sang Gubernur.

Katakanlah Sang Gubernur memang salah tapi apakah dengan mengolok maka air akan langsung turun dan keadaan membaik? Adakah mengolok-olok adalah reaksi hasil dari permenungan yang mendalam?

Hey, ini sudah tahun 2020!
Dan mumpung masih tanggal satu, di tahun yang baru, yuk meneladani Maria. Maria yang tak pernah tinggal diam tapi Maria yang tak terlalu reaktif terhadap perasaan. Maria yang menggunakan pendalaman dalam hati dan permenungan untuk berpikir dan bergerak mengusahakan yang terbaik bagi Tuhan dan sesama.

Selamat Tahun Baru! Tuhan memberkati perjalanan kita semua.

Wodonga, 1 Januari 2020

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.