Mending mana, supir yang mandiri atau mantan presiden yang baper-an?

23 Jan 2017 | Cetusan

Berita soal Denny Indrayana, mantan Wakil Menteri Hukum dan HAM di masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, yang jadi sopir di Melbourne itu menyeruak ke publik.

Gebrakannya gak terlalu beriak, kalah bising dengan berbagai macam hal pelik di Tanah Air, tapi dari salah satu sudut social media, aku menangkap komentar sinis terkait berita Denny ini, “Profesor, dosen, mantan wakil menteri kok jadi sopir di Australia?!”

Ketika sedang hendak merenungi hal ini, tiba-tiba Tunggonono mengirim pesan via WA, “Itu namanya mentalitet, Bos!”

Aku tergeragap. Mantan satpam yang sebentar lagi bakalan punya anak yang setengah bule (karena ceweknya bule) itu menggedor batinku, menggugah sepiku, ia seperti sosok yang maha tahu!

“Hush, Nggon! Cangkemu! Ati-ati lho nanti kena UU ITE kamu! Memangnya mentalitet siapa?”

“Hehehe…Ya mentalitet orang-orang yang mengatai soal Denny yang jadi supir itu tho, Bos!” sergahnya.

Wah, menarik ini! Ngobrol dengan Tunggonono itu ngangeni apalagi kalau dia sudah mulai memberi kuliah begini…

“Orang-orang itu kan mikirnya masih primitip! Kerja itu asosiasinya dengan uang! Kerja dan uang itu asosiasinya dengan strata manusia di hadapan society-nya!”” Modhar! Cocotnya Tunggonono sudah mulai memasukkan kosa kata bahasa Inggris! Seru ini! Ini seru!

“Lho tapi kan memang harusnya begitu tho Nggon? Aku dulu aja tiap dekat dengan cewek lalu ibunya menginterogasi, ‘Kerja dimana Mas? Pangkatmu opo?’ Gitu jhe?” imbalku.

“Ya itu kan si Bos dulu. Kalau aku nggak, Bos! Waktu aku dikenalin oleh orang tua si Cathy dia cuma bilang, ‘Hi, Tunggonono!’ Udah gitu aja! Nggak pakai ditanya kenapa kamu kerja jadi penjaga gudang? Kenapa kamu kerja jadi handy man?”

Wah, ini udah ndadra ini… udah terlalu jauh, meringsek! Akupun lantas menasihati Tunggonono bahwa tak bisa membandingkan semua itu dalam apple-to-apple. “Kamu jangan begitu, Nggon! Mentang-mentang kamu sudah pindah ke Australia lantas jangan sombong gitu! Ingat lanjaranmu… dan kamu itu kacang! Selamanya kacang!”

Tapi apa yang dikatakan Tunggonono itu memang benar sih. Justifikasi sosial terhadap seseorang seharusnya memang tak boleh semata pada soal pekerjaan dan kekayaan. Asal halal dan nggak ngembat harta orang, kenapa dipermasalahkan? Toh makan nggak minta mereka?

Tak hanya Denny, kawanku yang menuntut ilmu matematika dan sedang mengejar gelar doktoral-nya di sini pun dulu dari sore hingga hampir tengah malam, ketika tak sedang banyak tugas dan pekerjaan, memilih untuk bekerja sebagai tukang cuci mobil yang kalau di Indonesia barangkali sudah dicibiri banyak orang, “Dosen! Calon Doktor kok cuma jadi tukang cuci mobil?”

Tapi, tahu nggak kamu, selepas lulus dan pulang ke Tanah Air, hasil tabungan dari kegiatan yang ‘cuma jadi tukang cuci mobil’ itu bisa digunakan untuk membeli tanah untuk tempat tinggal di Jogja sana.

Jadi, terserah kamu atau kalian atau mereka itu kerja jadi apa, sejongos apapun, serendah apapun gajinya, hal itu tak lantas menjadi ukuran bagaimana kita akan dihargai dalam masyarakat. Justru apa yang telah kita berikan kepada sesama dan lingkungan, itu bisa jadi tolak ukur sejauh mana sebaiknya kita berteman dengan seseorang.

Seperti yang ditukas Denny di laman facebooknya, “Tidak semua harus jadi Gubernur Jakarta atau Presiden RI kan?”

Bener banget. Mending jadi mantan sopir yang keren daripada mantan presiden yang… ah sudahlah!

“Nggon… Nggon, kok kamu diam saja?” Tunggonono tiba-tiba menghilang, WAnya tak berjawab lagi…

Sebarluaskan!

1 Komentar

  1. Setahun dapat milyaran dari hasil nyopirnya.

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.