Mendengarkan suara Tuhan di tengah bisingnya dunia. Mana bisa?

12 Des 2019 | Kabar Baik

Kalian pernah ikut acara retret atau rekoleksi? Dulu aku suka sekali ikut acara-acara seperti itu. Aku bisa benar-benar larut dalam nuansa spiritual, mendengarkan suara Tuhan yang dibangun dan sepulang dari acara yang biasanya digelar akhir pekan, pikiran jadi fresh! Tercerahkan!

Tapi sayangnya ketercerahan itu tak berlangsung lama. Seminggu masih OK, tapi sebulan kemudian biasanya udah ?kembali ke normal.? Udah lupa bahwa sebulan sebelumnya aku pernah ikut retret dan aku sangat menikmatinya nuansa spiritualnya.

Mendengarkan suara Tuhan vs bisingnya dunia

Setelah sekian lama akhirnya kusadari kenapa hal-hal tersebut terjadi. Ketika ikut retret, kita tidak merasakan kebisingan dunia. Akses ke handphone dan dunia luar pun kadang dibatasi. Bahkan aku pernah ikut retret yang mewajibkan para pesertanya untuk diam, tidak bicara dengan peserta lain pada jam-jam tertentu. Dalam keadaan seperti itu, kita bisa lebih jernih mendengar ?suara Tuhan.?

Berbeda jika kita kembali ke hidup keseharian. Dunia kita rasakan begitu bising. Bising tak hanya suara tak hanya visual tapi semuanya. Semua informasi yang berlalu lalang di sekitar kita membuat terkadang sulit untuk mendengar suaraNya.

Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!

Tapi dalam Kabar Baik hari ini, Yesus menyatakan perintah tegas, ?Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!? (Mat 11:15) Perintah ini tak hanya berlaku saat retret saja! Perintah ini untuk dilaksanakan setiap saat selama kita hidup.

Maka mendengarkan suara Tuhan di tengah bisingnya dunia memang menjadi tantangan. Bersyukur kita tak sendirian. Yesus mengutus Roh Kudus untuk menjadi pembimbing kita dalam mendengarkan suara Tuhan. Tapi lagi-lagi persoalan tetap ada. Karena Roh Kudus adalah Roh yang lemah lembut dan tidak pernah memaksa, terkadang kita mengabaikanNya.

Kemarin aku mengalami kejadian sederhana yang kupikir selaras dengan Kabar Baik hari ini.

Sepulang kantor, di dalam kereta yang mengantarkanku pulang, di sela-sela kursi aku melihat ada kulit pisang yang tertinggal di sana. Awalnya aku cuek saja, toh bukan aku yang makan? Toh nanti juga ada petugas yang membersihkan?

?Lagipula kalau kulit pisangnya minta tolong untuk dibuangin tentu ia akan bicara! Nyatanya tidak, kan?? gumamku.

Aku lantas larut dalam kegiatan lain kesukaanku selama di dalam kereta, nonton video dari layar handphone-ku!

Tapi sesekali waktu, mataku tak sengaja kembali menatap kulit pisang tadi dan setiap hal itu terjadi aku merasakan ada yang ingin disampaikan entah oleh siapa kepadaku, ?Haruskah kulit pisang itu kuambil dan kubuang di tempat sampah di stasiun nanti??

Dan nyatanya itulah yang terjadi! Begitu sampai di stasiun, aku memberanikan diri untuk mengambil kulit pisang itu lalu membuangnya di tempat sampah yang disediakan.

Mendengarkan suara Tuhan melalui hal-hal kecil

Bagiku, itu adalah contoh kecil mendengarkan suara Tuhan. Ia bersuara, menyampaikan pendapat terbaik tentang apa yang bisa kulakukan untuk membangun KerajaanNya di atas bumi.

Tapi apa iya sih Tuhan bicara tentang hal-hal kecil seperti kulit pisang tadi? Bukankah dalam Kabar Baik hari ini yang dibahas adalah tentang kedatangan Yesus?

Menurutku justru karena Tuhan itu Maha Besar maka Ia amat mudah menjangkau kita melalui hal-hal yang besar maupun yang kecil. Lagipula, kalau tak memulai segalanya dari hal kecil, bagaimana mungkin kita bisa menguasai hal-hal yang besar?

Eh kawan-kawan?
aku mau titip doa dong untuk anakku yang kedua. Namanya Elodia. Hari ini, 12 Desember 2019, dia berulang tahun yang ke-7. Doakan semoga panjang umur, sehat selalu dan jadi anak yang takut akan Tuhan, mengasihiNya serta sesama. Semoga ia juga bisa semakin mendengarkan suara Tuhan sepanjang hidupnya.

Sydney, 12 Desember 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.