Mendengar dan terdengar

14 Des 2017 | Kabar Baik

Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!
(Matius 11:15)

Mendengar dan terdengar itu dua hal yang sangat jauh berbeda maknanya.

Saat pertama kali sampai di Australia, 2008 silam, kupikir kendala adaptasi bahasa yang terbesar adalah bagaimana aku bicara, menerjemahkan apa yang ada dalam pikiran melalui kata-kata dalam Bahasa Inggris.?Ternyata bukan cuma itu! Mendengarkan apa yang diucapkan lawan bicara adalah hal yang juga tak kalah dahsyatnya untuk diperhatikan!

Pernah aku pergi cari makan ke sebuah kafe penjual sandwich.

Setelah saling sapa, dia bertanya, ?Hey ? $#^@$ds7dsah43232dsa??Aku tersenyum lalu manggut-manggut dan bilang, ?Ya?ya?. that?s true?!?

Si penjual yang adalah seorang bapak tua itupun mengernyitkan alis dan bilang, ?Hey, i was asking you, Mate?.?

Akupun terkaget-kaget.
Kalian mungkin bertanya kenapa aku menuliskan apa yang dikatakan si Bapak itu sebagai ?Hey ? $#^@$ds7dsah43232dsa? ya karena memang begitulah yang terdengar oleh telingaku karena aku belum terbiasa menangkap perkataan orang-orang di sini dan saat itu aku tak mendengarkan.

Baru setelah melihat perubahan air muka Si Bapak, aku pasang atensi dan mendengarkan.

Mendengarkan melibatkan tak hanya telinga tapi juga pikiran serta hati. Informasi suara yang kita dengar lewat telinga, masuk ke dalam otak. Dengan bantuan hati, otak lantas berpikir reaksi apa yang harus kita lakukan/katakan. Sedangkan ?terdengar? hanya melibatkan telinga menganggap sinyal suara yang masuk ke dalam gendang telinga adalah sesuatu yang hanya cukup sampai di situ saja tak perlu diproses ke otak apalagi hati.

Perkataan Tuhan hari ini sangat keras, ?Kamu punya telinga? Kamu hendaknya mendengar!? Artinya, telinga tidak hanya digunakan untuk menangkap sinyal suara tapi secara bersama-sama dengan pikiran dan hati harusnya dipakai untuk menangkap maknaNya dan menanggapinya dengan aksi.

Yohanes Pembaptis dan begitu banyak murid-murid Yesus mewartakan Kabar Baik yang melukiskan tentang Yesus melalui berbagai cara. Adakah kita mendengarkan atau menganggap hal tersebut sebagai suara yang cukup terdengar saja?

Tapi kalau orang yang tak dikaruniai pendengaran bagaimana? Apakah ayat ini masih relevan, Don?

Tentu! Tuhan memberi panca indera dan melalui kelima indera tersebut kita menerima pewartaaan memasukkannya dalam hati dan pikiran dan dengan segenap daya serta upaya menanggapi hal tersebut dengan aksi.

Jadi, dengarkanlah, rasakanlah lalu bereaksi dengan cara memberikan yang terbaik?atau kamu mau menunggu Tuhan sampai harus ?mengernyitkan dahi? kepadamu baru kamu tergopoh-gopoh pasang atensi sepertiku terhadap si bapak penjual sandwich itu?

Sydney, 14 Desember 2017

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.