Mencuci dosa

20 Okt 2018 | Kabar Baik

Seorang perempuan yang terkenal sebagai pendosa mendatangi Yesus yang sedang dijamu di rumah Simon, orang Farisi. Ia melakukan begitu banyak hal untuk memohon supaya dosanya diampuni. 

Kaki Yesus dibasahi dengan air matanya, diseka dengan rambutnya dan diciumi serta diminyakinya dengan minyak wangi. Yesus terharu, Ia mengampuni dosa-dosa perempuan itu.

Kepada Simon, Yesus mengatakan bahwa kunci untuk diampuni adalah banyak berbuat kasih seperti ditulis Lukas dalam Lukas 7:47.

Tapi kasih yang bagaimana yang bisa menjadi silih pengampunan dosa?

Kasih yang mau merendahkan hati dan diri di hadapan sosok yang kita kasihi seperti yang dilakukan perempuan pendosa itu yang mau menggunakan minyak wangi, rambutnya bahkan air matanya untuk membasuh kaki Yesus.

Ada seorang pengusaha kaya raya yang tidak pernah absen dalam membantu begitu banyak hal bagi Gereja dan sesama.

Setiap Natal dan Paskah, ibarat kata, panitia pelaksanaan upacara selalu meminta sumbangan uang kepadanya dan mereka tak pernah pulang dengan tangan hampa. Ketika ada bencana alam dan kebutuhan-kebutuhan sosial, ia tak ragu untuk turun tangan, menyampaikan perhatian dan prihatinnya dalam wujud materi yang tentu saja sangat membantu.

Tapi seorang yang nyinyir dan kepo membisikiku, ?Ah, pengusaha itu sedang mencuci dosanya dengan uang-uang itu??

?Oh, kok bisa?? tanyaku gantian kepo hahaha.

?Uang itu hasil penggelapan pajak! Para buruhnya dibayar di bawah standard minimum dan kalau kamu tahu, limbah pabriknya diam-diam dialirkan ke sungai di dekat sini lho!?

Aku termangu?

Inginku juga mengatakan hal yang sama bahwa pengusaha itu sedang mencuci dosanya dengan uang, tapi jika aku menuruti emosiku, apakah bedaku dengan si teman tadi?

Akan tetapi jika yang dikatakan kawanku tadi benar, apa yang dilakukan pengusaha tadi tentu tak patut diikuti, Kenapa?  Karena kasih, apalagi mengasihi Tuhan itu tak hanya soal menjalankan hal-hal yang disenangi dan dikehendakiNya tapi juga menjauhkan diri dari perihal-perihal yang bertentangan dengan ajaranNya.

Menggelapkan pajak, membayar buruh tidak sesuai aturan dan membuang limbah tentu adalah pelanggaran.

Tapi, siapakah aku dan kawanku berhak menghakimi pengusaha tadi seenak jidat sendiri?

Bukankah lebih baik melakukan koreksi diri karena jangan-jangan kita ini malah yang kurang kasih? Padahal kasih amat diperlukan untuk pengampunan dosa-dosa kita, maka marilah saling mengasihi dengan penuh kerendahan hati. Kecuali kamu memang sudah merasa tak punya dosa? 

Canberra, 21 Oktober 2018

Jangan lupa isi Survey Kabar Baik 2018. Hasil isian kalian dalam survey tersebut sangat mempengaruhi bagaimana pola tulisan dan distribusi renungan Kabar Baik ini akan berkelanjutan. Klik di sini untuk informasi selengkapnya!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.