Mencoba Berharap dari Manusia. Sampai Kapan ?

21 Jul 2008 | Cetusan

Menyimak hebohnya berita tentang Sazkia Mecca dan foto merokoknya,
mengingatkanku pada kejadian yang terjadi empat tahun lampau.
Pada saat banyak orang pemeluk kristiani, termasuk aku terpukau pada film Passion of The Christ.
Betapa film itu begitu berani merekonstruksi tentang apa yang terjadi pada 2000 tahun yang lampau ketika Yesus disalibkan hingga mati karena sesuatu yang bukan kesalahanNya itu.
Lengkap dengan detail penyiksaan yang berdarah-darah, mengharu haru sekaligus menyalakan kobaran api iman di dalam dada.

Dari sekian banyak kehebohan menyambut rilisnya film berdurasi 127 menit tersebut, satu hal yang juga muncul
adalah sekalangan orang yang kemudian terperangkap pada pemahaman bahwa film Passion of The Christ pastilah turut mengubah hidup para pemainnya.
Orang-orang berharap supaya para pemain seperti James Caviezel (pemeran Yesus),
Maia Morgenstern (pemeran Bunda Maria), Monica Belluci (pemeran Maria Magdalena)
dan semua kru yang terlibat dalam pembuatan film itu mengalami perubahan gaya hidup menjadi lebih beriman dan minimal menolak memainkan peran film syur pada karir mereka selanjutnya.

Akan tetapi hal itu tak berlangsung lama.
Orang-orang yang terperangkap seperti itu adalah sama saja dengan orang-orang yang mencoba mengantang asap, sesuatu yang sangat tidak mudah dan hampir mustahil untuk dilakukan.
Dengan alasan apapun, mereka, para actress dan actor itu, adalah juga manusia yang memiliki kebebasan untuk memilih hidupnya terlepas dengan sesudah atau sebelum memainkan Passion of The Christ.
Kembali kita harus menyadari bahwa “sesuci” apapun film itu, ia bukanlah surga itu sendiri.
Tetaplah ia anak kandung produksi yang menghitung mana untung dan jangan sampai mencapai buntung.
Tetaplah ia adalah hasil interpretasi peran, dan peran itu bukan hal yang sesungguhnya menjadi milik si pemeran di alam nyata.

Justru sekarang kepentingan kita adalah bagaimana supaya dengan bantuan film tersebut kita semakin bisa memaknai iman,
atau dalam bahasa pentakostalnya “lebih menyembah Tuhan” untuk menjalani hidup yang lebih baik dari hari-hari sebelumnya.
Masalah pemain filmnya mau mau bertindak apa saja diluar film, itu bukan urusan kita meski seharusnya dengan membintangi
film “yang tidak biasa itu” ada kesempatan yang teramat besar untuk hidup “lebih baik” yang teramat sayang untuk dilewatkan.

Jadi pada akhirnya aku pun biasa saja ketika kemarin di penyewaan DVD langgananku
melihat ada film baru dari Monica Belluci dengan sampul yang memamerkan belahan dadanya yang memesona itu.
Bagiku, dalam film itu, ia bukan lagi Maria Magdalena, si pelacur yang bertobat itu..
Ia, ya ia adalah Monica Belluci, bintang film yang salah satu filmnya adalah Passion of The Christ.
Thats it!

So, masih mencoba untuk berharap dari manusia ?


ps: Postingan ini juga kupersembahkan untuk seorang teman yang pernah mengeluarkan album rohani lantas beberapa saat sesudahnya sering kutemui sujud berlutut berdoa di gereja.
Hei, kemana saja kamu kok sudah jarang terlihat lagi? Apakabarnya?
Kunantikan album terbarumu supaya kita bisa bertemu lagi di gereja, di dalam doa :)

Sebarluaskan!

9 Komentar

  1. Keterbatasan manusia, kadang banyak dilupakan orang lain ketika kita berharap sosok yang kita idolakan sesempurna yang ia perankan dalam sebuah episode kehidupan, tapi ia hanyalah manusia biasa yang akan berprilaku seperti yang lainnya… salam

    Balas
  2. paling kalo di kritik, “itukan tuntutan skenario…”
    gak beda sama artis Indo …:D

    Balas
  3. kadar keimanan bukan dilihat dari kostum atau bungkusnya khan.

    Balas
  4. haha… ya ya… dont judge a book by its cover tetep berlakukan…. saskia mecca…? makasi deh don… ke laut ajah

    Balas
  5. alo don! dah balek jogja to?:D
    ah passion of the christ… cambuknya serem yah… hiii kinky:D

    Balas
  6. setujuuu…
    soalnya kita terlalu sering mengkultuskan seseorang..
    orang baik pasti selamanya dicitrakan menjadi baik..
    sekali berbuat jahat pasti citranya adalah penjahat..
    padahal orang bisa berbuat setiap saat. Jadi nilailah orang pada saat itu juga, bukan saat kemarin ataupun besok..
    salam

    Balas
  7. Adalah wajar jika penonton film mengasosiasikan seperti itu, antara film yang ditontonnya dengan pemain film (beserta kru?). Karena ada relasi nilai di sana.
    Tapi kalau sampai berharap lebih, ya penontonnya yang mesti ditanya, bukan pemainnya.
    Apakah pengarang sudah mati berlaku juga di ranah perfilman?
    I dont know… :-??

    Balas
  8. yang terlihat seringkali tidak seindah yang dibayangkan .. jadi sebaiknya kita pandai-pandai menempatkan pikiran .. salam

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.