Menawarkan ?Roti Hidup?

19 Apr 2018 | Kabar Baik

Kemarin ada diskusi menarik terjadi di grup WhatsApp Kabar Baik. Salah seorang anggota grup mengeluarkan pertanyaan retorik, ?Apalah gunanya ke Gereja kalau sudah tak percaya Tuhan?? Gereja di sini tentu saja adalah Gereja Katolik, gereja yang berpegang pada tradisi suci sejak Yesus hidup di dunia ini, 2000 tahun silam.

Hulu dari diskusi adalah bagaimana salah seorang anggota grup yang lain memandang betapa anak-anak ?zaman now? makin tak mementingkan arti ibadah dan agama. ?Mereka lebih agnostik saat ini. Tak peduli apa wadah agamanya yang penting percaya pada Tuhan?? kata seorang yang lainnya.

?Apa yang bisa kita lakukan untuk memperkenalkan mereka atau mengajak mereka kembali ke Gereja, Mas??

Ruang diskusi pun hening, hari berganti dan seperti layaknya puluhan hingga ratusan diskusi di grup-grup WA, topik menguap dengan sapaan hangat, ?Selamat pagi..?

Pagi ini, lagi-lagi Yesus bicara tentang Roti Hidup.

Akulah roti hidup, kataNya.Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia. (Yohanes 6:51)

Teringat pada diskusi semalam, otakku tiba-tiba terpantik, ?Oh, haruskah kita menawarkan rotiNya?? Seperti? seperti tukang roti di perumahan-perumahan itu?

Apa masih visible dan manjur di jaman ini menggunakan pola-pola lama; mendekati seseorang lalu menawarkan ?keselamatanNya??

Menelaah kepercayaan kian hari kian sulit, akupun merasakannya. Kepercayaanku kepadaNya adalah kepercayaan yang penuh ujian semata karena aku memang ingin selalu menguji apakah kepercayaanku ini otentik atau pura-pura percaya saja.

Secara manusia, kadang aku lebih percaya pada apa yang ?disabdakan? Elon Musk tentang masa depan kemanusiaan atau apa yang diajarkan Prof. Michio Kaku tentang Singularity yang menyeramkan dan membuat bulu kuduk merinding itu. (Penasaran? Googling!)

Tapi kemauanku untuk menguji kepercayaan kepadaNya justru menjadi amat penting di sini. Semangat itu justru membuatku kian hari kian mengakui bahwa kuasaNya tak terbantahkan! Kuncinya adalah bagaimana melalui segala hal yang kuhadapi, setiap orang yang kepadanya aku berinteraksi, aku menemukan Tuhan, aku membuktikan Tuhan!

Ya! Bukti adalah kunci!

Menawarkan ?Roti Hidup? kepada sesama bukan bagaimana meyakinkan orang melalui kata-kata saja. Lebih daripada itu adalah bagaimana Roti Hidup telah mengubah hidup kita sebagai orang yang berani berkata, ?Roti ini enak!?

Adakah roti hidup yang kita santap itu membuatmu memiliki hidup yang berbeda dari mereka yang tidak percaya?

Adakah roti hidup membuatmu bersikap lebih baik terhadap pembantu rumah tangga, para tetangga yang berbeda baik agama maupun pilihan calon presidennya?

Adakah roti hidup membuatku lebih peduli pada lingkungan sekitar?

Atau? atau jangan-jangan Roti Hidup hanya membuat hidup kita biasa-biasa saja?

Oh ya, kalau mau join ke grup WhatsApp Kabar Baik, hubungi saya di sini.

Sydney, 19 April 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.