Menanti Tuhan dengan sabar dan? tahu diri

31 Jul 2018 | Kabar Baik

Ketika Yesus masih berbicara dengan orang banyak itu, ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya berdiri di luar dan berusaha menemui Dia. (lih. Mat 12:46)

Kabar Baik hari ini sering kita dengar. Yesus mengajar dan berbincang dengan banyak orang yang mengerumuniNya. Tiba-tiba Maria, ibu Yesus dan saudara-saudaraNya berdiri di luar dan berusaha menemuiNya.

Murid yang melihat kedatangan mereka pun berbisik pada Yesus, ?”Lihatlah, ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau.” (lih. Mat 12:47)

Jawaban Yesus kemudian begitu menghentak. Ia mendefinisikan ibu dan saudara-saudariNya adalah siapapun yang melakukan kehendak BapaNya. (lih. Mat 12:50).

Kali ini aku tak tertarik membahas jawaban Yesus tersebut. Aku lebih ingin merenungi kenapa Maria dan saudara-saudaraNya lebih memilih berdiri di luar?

Kenapa mereka tak meringsek ke dalam meskipun ruangan penuh orang? Bukankah kalau orang-orang tahu bahwa mereka adalah kerabat Yesus maka mereka akan memberi jalan?

Tiba-tiba aku terbayang suasana orang mengantri untuk menyalami penganten dalam sebuah pesta pernikahan. Pernahkah kamu merasa sebel, sedang berlama-lama ngantri tiba-tiba MC mengumumkan, ?Mohon antrian berhenti dahulu karena Bapak (ia lantas menyebut nama seorang pejabat yang juga diundang) beserta Ibu telah datang dan hendak menyalami pengantin??

Aku pernah mengalami begitu dan sebelku bukan main! Sebelku tentu bukan pada si pejabat tapi pada panitia karena seolah menganggap penting orang yang datang terlambat dan meremehkan kita yang sudah mengantri sambil menahan lapar!

Memang ada beberapa pejabat yang menolak ?dibegitukan?. Ketika namanya diundang, alih-alih maju ke depan, si pejabat dan istrinya melambaikan tangan tanda menolak untuk didahulukan dan memilih ikut ramai-ramai mengantri.

Yang kubayangkan Maria dan saudara-saudara Yesus juga demikian. Barangkali para murid dan orang-orang yang hadir di situ juga mempersilakan mereka untuk maju ke depan menemui Yesus tapi mereka sabar dan tahu diri.

Sabar karena mereka tahu Yesus tak kan pernah berpaling, tahu diri karena mereka paham kedatangan Yesus ke dunia bukan hanya untuk mereka, keluarga besarNya, tapi juga bagi orang-orang di sekitarNya.

Dalam konteks sehari-hari, mari membawa renungan ini ke dalam sikap hidup tentang bagaimana kita menanti Tuhan dengan sabar dan tahu diri.

Misalnya saat kita sedang memohon sesuatu. Kita memang tak pernah tahu bagaimana cara Tuhan meluluskan atau tidak meluluskan permohonan itu. Tapi tak ada salahnya kita merefleksikan apa yang terjadi dalam tulisan Kabar Baik hari ini untuk membuat segalanya lebih baik.

Jika permohonan belum dikabulkan, bersikaplah sabar dan tahu diri. Sabar bahwa Yesus tak kan pernah berpaling, Ia mendengar permohonan kita.

Tahu diri bahwa apapun keputusanNya, mengabulkan atau tidak, kita adalah orang yang lemah sedangkan Yesus adalah yang paling mengerti apa yang sejatinya kita butuhkan.

Sikap sabar dan tahu diri itu pada akhirnya bermuara pada kesetiaan, bagaimana kita setia kepadaNya sama seperti Maria.

Maria membuktikan sebagai IbuNya karena ia telah begitu setia pada Yesus. Ialah yang bersama Yohanes duduk bersimpuh di bawah salib Kristus hingga kesudahanNya saat para murid lainnya lari kocar-kacir ketakutan.

Di titik ini, ketika membayangkan teladan Maria, aku sering tergetar? Kita telah begitu setia saat meminta sesuatu, saat meraih kemenangan, saat merasa hidup aman-aman saja. Tapi adakah kita tetap setia dan bersimpuh serta menaruh harap di bawah salib suciNya saat masa gelap tiba? Saat kita ditolak dan diremehkan dunia? Saat hidup seolah tak memberikan apa yang seharusnya telah kita skenariokan dengan baik dan mulus adanya?

Sydney, 24 Juli 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.