Menanggung kesalahan masa lalu = menanggung salib hidup?

11 Des 2018 | Kabar Baik

Bagaimana memikul salib itu?  Semua harus dikembalikan pada rujukan hakikat bagaimana dulu Yesus memikul salibNya. Ada tiga hal yang menurutku menonjol tentang bagaimana Yesus dulu memikul salibNya.

Pertama, punya alasan kuat yang mengacu pada kebenaran kenapa harus berkorban. Yesus menjalankan kehendak BapaNya di surga untuk menebus dosa manusia.

Kedua, memutuskan dalam keadaan sadar dan penuh kasih untuk berkorban. Yesus sadar, Ia datang ke Yerusalem dan menjalani semua pengorbananNya dalam keadaan penuh kasih.

Ketiga, keberanian menanggung akibat. Jelas, Yesus menjalani penderitaan nan keji dan akhirnya wafat di kayu salib.

Mencari sosok memikul salib yang mudah adalah melihat pada orang-orang yang kita kenal dengan pengorbanannya. Misalnya Munir. Ia mengorbankan diri dan hidupnya untuk kemanusiaan. Keputusannya diambil secara sadar dan secara berani ia menanggung akibatnya, diracun di atas pesawat ketika hendak belajar ke Negeri Belanda.

Tapi bagaimana dengan kisah yang satu ini.

Ada seorang kawan jauh. Awalnya beranak-istri hingga suatu waktu ia berselingkuh dan istri menceraikannya. Tiga tahun hidup dalam buaian wanita selingkuhannya itu, kawan tadi sadar. Ia meninggalkan wanita tadi dan minta rujuk dengan istri dan anak-anaknya. Sayangnya sang istri menolak.

Kawan tadi pun jatuh dalam penyesalan dan berujar, ?Baiklah! Biar kupikul salib ini!?

Adakah menurutmu kawan tadi memanggul salib atau menanggung akibat?

Jika dilihat dari kesalahan masa lalu, jelas kawan itu menanggung akibat. Kalau tak selingkuh, istri tak menceraikannya. Kalau tak menceraikannya tak perlu rujuk! Logikanya mudah demikian, kan?

Tapi mari menggunakan sudut pandang yang ?berbeda? dari biasanya.

Bagiku, kawan tadi sedang memikul salib. Sisi ?manusia baru? dari kawanku itu sedang memikul salib akibat ulah dan salah sisi ?manusia lama? nya sendiri!

Kawanku tak mau berlama-lama hidup dalam ?manusia lama? ia memutuskan untuk bangkit menjadi ?manusia baru?.

Keputusan untuk meninggalkan selingkuhannya adalah pengorbanan yang memiliki tujuan benar yaitu bertobat! Ia berkeputusan dalam keadaan sadar dan dalam kesadarannya, meski berharap banyak tapi ia tahu resiko terburuk yaitu ditolak mantan istrinya.

Perjuangannya tak kan pernah mudah bahkan bisa jadi kalau sang istri telah benar-benar menutup hati, hingga mati pun cita-cita untuk rujuk tak kan pernah terpenuhi. Tapi jika memang cara itu adalah silih atas dosa-dosa yang pernah dilakukannya, bukankah tak ada yang lebih baik daripada itu?

Tapi bagaimana kalau dalam seiring perjalanan waktu kawanmu itu lantas tak sabar dan lelah memanggul salib?

?Nggak papa!?Manusiawi!?
Yesus pun jatuh hingga tiga kali. Tapi ingat! Jatuh tiga kali, Yesus juga bangkit tiga kali! Maka ketika kita tak sabar atau terlampau letih untuk memikul salib atas kesalahan kita di masa silam dan akhirnya terjatuh, jatuhlah demi kemanusiaan kita! Tapi jangan lupa untuk bangkit karena kita ingin selalu jadi muridNya seperti yang dikatakanNya hari ini,

Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. (lih. Lukas 14:27)

Sydney, 11 Desember 2018

Jangan lupa isi Survey Kabar Baik 2018. Hasil isian kalian dalam survey tersebut sangat mempengaruhi bagaimana pola tulisan dan distribusi renungan Kabar Baik ini akan berkelanjutan. Klik di sini untuk informasi selengkapnya!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.