Menanggung kebenaran

29 Mei 2019 | Kabar Baik

Aku merenungkan apa yang dikatakan Yesus hari ini tentang menanggung kebenaran. ?Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya.? (lih. Yoh. 16:12)? Pesan itu disampaikan beberapa saat sebelum Ia naik ke Surga, mengakhiri peziarahanNya di dunia, dua ribu tahun silam.

Kesan yang muncul setelah membacanya adalah betapa Tuhan amat mengerti akan kelemahan manusia. KeputusanNya untuk tidak mengatakan segala hal pada saat itu adalah karena kelemahan manusia dalam menanggungnya. Hal itu membuatNya lantas mengirim Roh Kudus yang adalah Roh Kebenaran. Roh yang memimpin manusia untuk masuk ke dalam seluruh kebenaran.

Menanggung kebenaran? Apa itu?

Persoalannya sekarang, dengan telah dikaruniakanNya Roh Kudus, sudahkah kita ini sanggup menanggung kebenaran?

Apakah menanggung kebenaran itu? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring, kata ?menanggung? memiliki beberapa arti. Tiga arti yang menurutku menarik terkait dengan ?menanggung kebenaran? adalah menyangga, menderita dan bertanggung jawab.?

Tiba-tiba aku teringat lagi-lagi masa lalu waktu aku masih tinggal di Kampung Tegal Blateran di Klaten sana. Kampung tempatku lahir dan dibesarkan itu memang selalu menyenangkan untuk dikenang.

Salah satu tradisi di kampung ketika ada kondangan entah itu pernikahan, kematian, doa lingkungan atau apapun, adalah makanan yang dihidangkan bukan secara prasmanan (self service) tapi diedarkan. Petugas yang mengedarkan disebut sebagai sinoman.

Orang-orang yang membantu ?nyinom? biasanya adalah pemuda-pemudi usia di awal 20 tahunan. Mereka mengenakan kemeja putih lengan panjang dan celana katun hitam.

Bagi petugas sinoman

Gerak mereka gesit. Menyelinap di antara baris kursi menanggung nampan berisi makanan serta minuman.

Acara yang biasanya membuat bosan karena berkepanjangan jadi tercerahkan ketika pasukan sinoman datang. Air liur tak tertahankan. Ingin makan, minum dan makan!

Tapi reaksi para tamu tak semuanya begitu.

Mereka yang menderita sakit gula, misalnya. Mereka menolak diberi teh panas manis. ?Aku emoh, gulaku dhuwur! Njaluk sing ora legi wae, Mas! (Aku nggak mau. Kadar gulaku tinggi. Minta yang nggak manis aja, Mas! -jw)?? Lalu ketika pesanannya tak kunjung datang, orang tadi jadi murung dan gelisah. Apalagi melihat kanan-kirinya sudah ramai menyeruput teh yang semerbak wanginya itu.

Ada juga yang mungkin saking laparnya, setelah habis satu porsi ia minta tambah. ?Mas, kok sithik porsine? Mbok aku njaluk sak porsi meneh! (Mas, kok porsinya sedikit? Aku minta satu porsi lagi dong! -jw)?

Tukang sinom pun jadi bingung hendak menjawab apa karena ia tak tahu apakah sang tuan rumah punya cadangan porsi makanan atau tidak. Ketika akhirnya tuan rumah bilang bahwa porsinya terbatas, si petugas sinoman tadi mengabarkan pada yang meminta, ?Nyuwun ngapunten, Bu. Sampun telas niku? (Mohon maaf, Bu! Sudah habis jatahnya! -jw)? Si Ibu itupun bertekuk muka, laparnya nanggung, perut masih keroncongan.

Tapi yang paling berat dari menjadi seorang sinom adalah ketika ia secara tidak sengaja menumpahkan entah itu makanan atau minuman dari atas bakinya.

Baik para tamu maupun tuan rumah, mereka biasanya akan marah kepada petugas sinom karena dianggap tidak becus dalam bekerja. Piring dan gelas pecah, suasana yang gaduh, porsi makanan dan minuman yang terbuang, belum lagi kalau ada yang ketumpahan entah itu makanan maupun minuman panas. Wah, kacau pokoknya!

Aku membayangkan, tugas kita menanggung kebenaran itu layaknya orang yang bertugas jadi sinoman.

Dan ketika terjatuh?

Di satu sisi, kedatangan kita dirindukan karena kebenaran yang kita bawa membuat orang-orang lapar dikenyangkan, yang haus dilampiaskan dahaganya. Tapi di sisi lain, ada saja orang yang mencoba untuk memilih-milih kebenaran; mana yang disukai, mana yang tidak. Mereka maunya benar tapi kebenaran yang versi mereka.

Tapi tak ada yang lebih berat ketika kita yang menanggung kebenaran menjadi goyah dan terjatuh. Padahal, namanya juga manusia, sekuat-kuat dan sehati-hatinya kita dalam menjalankan hidup beriman, sesekali jatuh juga, kan!?

Nah ketika terjatuh, orang-orang banyak yang menyalahkan dan menimpakan kesialan kepada kita. ?Makanya jadi orang jangan sok alim! Tuh buktinya kamu masih bisa bikin salah? besar pula salahnya! Mending kayak gue, Bro! Jangan sok agamis yang penting bahagia!?

Tertunduk bukan menyerah

Dan ketika dibegitukan,  kita hanya bisa tertunduk.

Tak apa-apa. Tertunduk itu wajar asal bukan tanda meyerah kalah. Ketertundukan adalah karena kita mencoba memandang ke bawah, mengevaluasi dan mengais apa saja yang terjatuh lalu mengambilnya satu-per-satu, menaikkannya kembali ke dalam nampan dan kita bangkit lagi berdiri, menanggung kebenaran dengan penuh tanggung jawab!

Sydney, 29 Mei 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.