
Kasus mantan penerima beasiswa LPDP yang viral karena memamerkan paspor UK anaknya sambil bilang “Cukup aku aja yang jadi WNI, anakku jangan” adalah sesuatu yang memang kurang pada tempatnya.
Pantas kalau kemudian banyak orang merasa tersinggung oleh lontaran Tyas meski sebenarnya yang paling perlu melakukan introspeksi, menurutku adalah pemerintah Indonesia karena dalam permintaan maaf yang disebarluaskan, Tyas mengutarakan alasan kenapa muncul pendapat itu yang adalah karena rasa kecewa dan frustrasinya terhadap Pemerintah Indonesia.
Tyas sebenarnya tidak perlu mengutarakan semua itu kalau ia memiliki kesadaran penuh bahwa meski WNI, dia toh tinggal di luar negeri. Tyas belum mampu menghayati pepatah lama “Dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung” padahal itu adalah prinsip penting untuk hidup sebagai seorang perantau.
Aku berasumsi, meski tinggal di Inggris, dunia Tyas masih sangat Indonesia. Bisa kutebak, banyak grup WA di telepon genggamnya yang isinya teman dan saudara yang bicara Indonesia. Akun-akun yang difollownya, podcast dan kanal berita yang ditonton juga mungkin tentang Indonesia.
Ibaratnya, Ia bicara, melihat, mendengarkan dalam Indonesia meski hidup di Inggris.
Maka nggak heran ketika kiriman Paspor Inggris untuk anaknya datang, yang ada dalam benaknya adalah ia harus berbicara dan menyampaikan berita baik itu kepada Indonesia, kepada dunianya. Untuk membuat related ke Indonesia, Tyas pun melakukan perbandingan kewarganegaraan sehingga muncul statemen itu, “Cukup aku aja yang jadi WNI, anakku jangan!”
Mari membayangkan kalau Tyas itu dalam kesehariannya lebih banyak berinteraksi dengan sesama penduduk yang tinggal di Inggris.
Mari membayangkan kalau Tyas itu mem-follow lebih banyak akun Inggris dan menikmati podcast serta mengikuti berita-berita Inggris.
Maka ketika kiriman paspor anaknya datang, ia tidak akan merasa perlu membicarakannya secara publik karena dalam konteks Inggris, tak ada yang perlu dirayakan secara berlebihan apalagi membandingkan dengan Indonesia, bukan?
Sama seperti misalnya ketika seseorang pindah dari pelosok ke Jogja lalu berhasil mendapatkan KTP Jogja, apa istimewanya KTP itu untuk orang-orang Jogja meski mungkin ketika memamerkannya di kampung halaman, ia akan dianggap sebagai orang istimewa karena ber-KTP Jogja!
Sebagai sesama perantau, aku tahu menghayati peribahasa
“Dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung” itu tak semudah mengucapkannya.
Aku sudah 18 tahun tinggal di Australia, pun kewarganegaraanku sudah bukan lagi Indonesia, tapi kadang masih sulit untuk move on daripadanya. Istriku lahir di Indonesia. Kami berbicara, berdebat, berpikir dan berdoa dalam Bahasa Indonesia. Kanal-kanal youtube favoritku ya masih Rocky Gerung, Bocor Alus Politik hingga Rakyat Bersuara!
Tapi akhir-akhir ini setidaknya aku mencoba mengerem dan mengelola waktu untuk mengikuti semua itu hanya di akhir pekan, pun kalau senggang (meski kadang sulit terutama kalau pas scrolling lalu melihat kiriman meme tokoh politik tertentu ya tetap aja ketawa ngakak dan kadang ikutan me-repost).
Di hari kerja aku berusaha fokus pada pekerjaan dan lebih banyak berinteraksi dengan kawan kerja dan penduduk lokal yang tentu bukan orang Indonesia. Aku lebih aktif di grup-grup WA gereja paroki lokal ketimbang membalas pesan kawan-kawan di WAG-WAG Indonesia.
Bukan karena aku anti Indonesia, bukan pula karena aku kacang yang lupa pada kulitnya karena bagaimanapun juga aku lahir dan besar di sana.
Tapi aku harus memijakkan kaki di bumi dan menjunjung langit yang sudah kupilih yaitu bumi dan langit Australia. Untuk itu aku berusaha menciptakan sela antara aku dengan Indonesia supaya aku menjadi manusia yang punya kesadaran diri sepenuh dan seutuhnya.
Berbekal itu, ketika misalnya aku melihat ada harga barang murah atau mendapati layanan publik yang cepat dan efisien, aku tak lantas mudah terpancing untuk membingkai temuan-temuan itu dalam kerangka keindonesiaan.
Aku berusaha untuk jadi orang yang nggak dikit-dikit membandingkan apa yang kudapati di sini dengan Indonesia, meski sebagai manusia aku sering gawal juga!
Jadi untuk Mbak Tyas, semoga masalahmu cepat selesai.
Kenali bumi yang kamu pijak dan langit yang kamu junjung. Letakkan Indonesia dalam bingkai nostalgia yang indah untuk dikenang.
Kalau ada yang tampak pahit atau menyakitkan, ingatlah yang manis dan yang harumnya menyenangkan…
Tinggalkan Balasan