Menanggalkan jubah

29 Okt 2018 | Kabar Baik

Merenungi Kabar Baik hari ini aku tertarik untuk tak mengikuti ?arus utama?. Kebanyakan orang menggunakan lead tentang bagaimana orang buta akhirnya disembuhkan Yesus. Aku lebih tertarik pada hal yang dilakukan si orang buta itu saat mendapati Yesus keluar dari kota Yerikho.

Markus menuliskan begini, Lalu ia menanggalkan jubahnya, ia segera berdiri dan pergi mendapatkan Yesus. (lih. Markus 10:50).

Pesan tersebut begitu mengena bagiku. Kenapa?

Karena ia buta. 

Aku tak tahu apakah ia buta sejak lahir atau tidak. Tapi apapun itu, Si Buta menganggap tindakan menanggalkan jubah sebagai tanda hormat dan perendahan hati/diri adalah wujud yang kasat mata (visual) dan layak untuk ditunjukkan kepada Yesus. Bayangkan! Seorang yang buta mencoba menunjukkan sesuatu yang bermakna dalam khasanah ?kasat mata? bukankah ini luar biasa!

Tindakan inilah yang barangkali menjadi pertimbangan utama Yesus untuk menyembuhkannya, barangkali. 

Dalam keseharian, kita juga dituntut untuk menanggalkan jubah demi ikut di jalanNya. Menanggalkan jubah tentu bukan dalam makna sebenarnya tapi dalam arti kita harus menanggalkan kesombongan dan merendahkan hati di hadapanNya dan dalam berjalan di jalanNya.

Dua belas tahun silam akhirnya aku meraih gelar kesarjanaan. Sesuatu yang harusnya sudah kuterima delapan tahun sebelumnya.

Dulunya aku sudah berpikir tidak ingin melanjutkan kuliah, toh aku sudah mendirikan perusahaan, kalaupun aku melamar, toh orang-orang sudah tahu pengalamanku jauh melebihi pengalaman dan kemampuan seorang sarjana sekalipun!

Tapi semuanya kembali pada pertanyaan awal, ?Apakah aku tak ingin membahagiakan kedua orangtuaku yang sudah mengusahakan biaya dan pengorbanan lain yang tak sedikit demi menyekolahkanku? Adakah semua harus terbengkalai begitu saja? Mungkin mereka bangga dengan pencapaian kerjaku, tapi apa salahnya membuat mereka lebih bangga dengan membuatku lulus dari kuliah??

Aku ?menanggalkan jubah!?

Menanggalkan kesombongan karir yang kucapai selama ini, ?macak mahasiswa?, pergi ke kampus setiap hari berkendara motor roda dua. Ikut duduk di kelas mendengarkan mata kuliah bersama mahasiswa-mahasiswa lain yang dilihat dari umurnya, bahkan saat mereka sedang belajar membaca dan menulis aku sudah fasih membuat website!

Tak menolak antri menyewa buku di perpustakaan, memfoto kopi bahan kuliah, mengerjakan tugas dan repot-repot berpindah-pindah laboratorium utuk mengejar praktikum demi praktikum.

Hingga akhirnya aku dinyatakan lulus. Kedua orang tuaku dan adik, saudara kandungku satu-satunya, kuundang datang ke kampus menyaksikan akhirnya aku diberi jubah lagi, jubah kesarjanaan.

Bangga mereka meluap-luap. Aku ingat betul, Papa memelukku dan Mama menyelamatiku, ?Selamat yo, Le! Wes lunas kabeh!?

Bayangkan jika aku tak ?menanggalkan jubah?, bayangkan jika aku tetap berpegang bahwa kesombongan adalah hal yang layak karena aku bekerja keras, semua itu tidak akan pernah terjadi.

Mari menanggalkan jubah. Kalau masih tak bisa menerima untuk apa merendahkan hati, untuk apa melepas kesombongan toh kita telah bekerja keras? Mikirnya simple aja, menanggalkan jubah berarti menyediakan diri untuk ?diberi? jubah baru, diberi kemampuan baru dan pengalaman baru juga!

Sydney, 29 Oktober 2018

Jangan lupa isi Survey Kabar Baik 2018. Hasil isian kalian dalam survey tersebut sangat mempengaruhi bagaimana pola tulisan dan distribusi renungan Kabar Baik ini akan berkelanjutan. Klik di sini untuk informasi selengkapnya!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.