Memprioritaskan Tuhan

15 Jun 2010 | Cetusan

Berpikir tentang bagaimana memprioritaskan sesuatu menurutku barangkali adalah demikian,
Hari minggu silam, kami sekeluarga terkena flu. Dengan alasan recovery, kami, aku dan istriku, lantas memutuskan untuk tidak pergi kemana-mana hari itu kecuali ke gereja. Bagi kami, pergi ke gereja untuk merayakan Perayaan Ekaristi mingguan adalah sesuatu yang mutlak wajib. Kalian boleh bilang ini sesuatu yang ‘fanatik’, tak mengapa, tapi pernahkah kalian berpikir sebaliknya betapa Tuhan itu juga sangat fanatik untuk mencintai kita setiap saat dengan melimpahkan anugerah kehidupan yang elok ini sehingga secara logis pun, alasan untuk bersyukur atas ‘fanatisme’ Tuhan terhadap kita itu bukanlah sesuatu yang berlebihan, kan?
Namun, hingga menjelang jam jadwal perayaan yang jam enam sore itu, kondisi kami tak juga membaik. Aku terjebak dalam benturan antara idealisme fanatik dan kondisi kesehatan yang kuhadapi. Awalnya gamang, namun dengan keteguhan hati, aku lantas memanjatkan doa kepadaNya, sebuah permintaan maaf yang agak sedikit spontan, “Tuhan, maafkan aku. Inginku ke gereja bersama anak dan istriku untuk bersyukur kepadaMu tapi apa daya kami terserang flu. Nah ketimbang kami menulari orang lain di gereja mending kami menyembuhkan diri di rumah ya…”
Tuhan tak membalas ucapanku dan aku juga tak sedang berniat untuk mereka-reka bagaimana Ia menjawab doaku itu.
Tapi kuyakinkan diriku bahwa Ia meneguhkan pilihanku melalui logikaku. Aku berpikir bahwa bayangkan jika flu kami menular ke semua orang yang datang ke gereja? Takutnya mereka, para umat itu, tak jadi bersyukur tapi malah merutuki kenapa kami yang terkena flu tetap nekat berangkat ke gereja dan menulari mereka semua..
Dalam hal ini aku menempatkan perkara agama bukan melulu perkara Tuhan yang selalu harus dimenangkan. Aku tak juga merasakan idealisme ku kalah, hanya lebih ke soal bagaimana mengalihkan semangat spiritualitas ke perkara sosial (tidak membiarkan virus flu menular ke orang lain) sekaligus membuktikan bahwa Tuhan ada dalam setiap perkara yang harus kita menangkan termasuk bagaimana cara mengalahkan flu yang menyebalkan ini!

Sebarluaskan!

36 Komentar

  1. jadi inget bapaknya temenku pas heboh flu babi terus mogok ke gereja :)
    aku yakin Tuhan juga memaklumi kalian gak misa hari minggu kemaren, drpd malah nularin yg lain. Mamaku kalo pas gak bisa ke gereja,terus di rumah selimutan sambil nonton misa di TV (ada sih di sini tiap minggu) katanya serasa ikut misa :)
    Udah sembuh kan sekarang?

    Balas
    • Flu babi akhir taon lalu membuat salam damai yang harusnya dilakukan salaman jadi dihilangkan di sini. Air suci di muka pintu gereja juga dihilangkan hingga sekitar tiga bulanan sampe dampak flu babi mereda scara nasional :)
      Puji Tuhan udah sembuh :) Thanks

      Balas
  2. Antara mempriorotaskan Tuhan-“fanatik”-realita-logika,
    untuk itulah kita telah diperlengkapi dan dikaruniakanNya akal budi dan hikmat yang harus selalu digunakan dalam bersikap dan mengambil keputusan…. ;)

    Balas
    • Sepakat… Tuhan pun kuyakin mengenal logika karena bukankah logika adalah anugerah dari Nya :)

      Balas
  3. Hemmm… bener kata mbak Tanti…
    diberikannya kita hikmat dan akal budi untuk bisa menelaah dan mengambil keputusan yg tepat :)
    soo…. gmn? Udh sembuh kah skr?

    Balas
  4. seneng baca artikelmu mas ….
    gaya penulisannya unik ….
    sip,
    bener-bener menarik ….
    salam kenal
    Rubiyanto

    Balas
  5. Aku kok paling nggak suka ngeliat orang yang tau sakit, apalagi menular, tapi maksa masuk sekolah, kerja maupun pelayanan.
    Memang sih kesannya tangguh, berkomitmen dan bertanggung jawab… tapi…
    ya seperti yang kamu tulis di atas itu.
    Walau mungkin memang ada beberapa kasus yang perlu di hajar penyakitnya, maju terus haha… setuju juga sama mbak Tanti :9

    Balas
    • Yang menarik, waktu awal2 kerja di Australia dan kena flu, aku nekat masuk kantor.. Waktu ditanya kenapa tetap kerja, aku bilang dengan berapi api bahwa aku pantang menyerah dengan sakit flu.
      Bosku tersenyum dan bilang kalau dia really appreciate dengan itu dan aku senang.. tapi lalu dia bilang Please kamu pulang. We dont want to close our door tomorrow just because all of us got a flu as same as you :)

      Balas
  6. intinya keseimbangan yo,mas? dan prioritas. he-e ra to? ;)

    Balas
  7. saya yakin Tuhan mengerti maksud anda bro, karena Tuhan Maha Tahu..

    Balas
    • Esensinya menurut saya bukan kepada “Maha Tahu” nya tapi lebih ke Maha Pemaaf nya…

      Balas
  8. Pasti Tuhan maklum Mas. lagian bagi gw yang penting niatnya. Niat untuk tidak menulari orang se-gereja gara2 virus yang Mas DV bawa menurut gw bagus sekali :-) NB Odi juga kena flu? Wah kasian kalo baby flu biasanya suka lama. Sekarang udah sembuh belum, Mas?

    Balas
    • Odi juga kena flu, skarang dah mulai membaik :)

      Balas
  9. Membaca tulisan ini, saya lalu teringat peristiwa tujuh tahun yang lalu. Ketika itu, saya, dalam panitia Natal, bertugas sebagai pambyawara (pembawa acara). Padahal, kondisi saya saat itu batuk kering dan suara hilang. Jelas hal ini sangat bertolak belakang dengan tugas yang harus saya emban. Dan, tak mungkin rasanya saya mencari pengganti dalam waktu yang demikian mepet acara.
    Siang, sebelum acara dimulai, saya bereksperimen di rumah dengan cara: mengunyah kencur. Ternyata, setelah mengunyah kencur (mentah) yang telah dikupas itu, suara saya mulai muncul. Terus saya mengunyah (sedikit-sedikit), sampai pada acara dimulai, dan saya dapat mengemban tugas itu hingga selesai, meski di sela-sela acara saya tetap terus mengunyah kencur hingga bibir dan lidah rasanya getir.
    Dan, beberapa teman setelah acara selesai mengomentari bahwa suara saya bening. Puji Tuhan!

    Balas
    • Saya setuju dengan Paklik…
      Menurutku yang menarik dari kisahmu adalah, di mana ada kemauan dan jalan, disitu Tuhan bekerja :)
      Usaha untuk makan kencur adalah usaha yang tidak hanya tinggal diam.
      Sebuah mentalitas yang baik, Pak.. :)

      Balas
  10. Niat Berbuat baik untuk sesama disitulah hakikatnya ya kan mas?

    Balas
  11. Menurut saya bukan seberapa sering kita ke gereja, tetapi seberapa sering hati kita connect sama Tuhan. Sepertinya percuma saja bila sering ke gereja, tetapi hati kita tidak connect sama Tuhan dan hal itu hanyalah untuk formalitas atau rutinitas.
    so buat gw yg penting hati kita connect sama Tuhan, bukan hanya pada hari minggu atau acara tertentu saja, tetapi connect dengan Tuhan setiap hari ^^

    Balas
    • Agak berbeda…
      maksud tulisan ini tidak membuat ke gereja ataupun beribadah lainnya itu tak penting lho :)
      Maksud tulisan ini adalah bahwa kadang fanatisme membungkam logika.. tapi ketika tak ada yang menghalang halangi misal dalam konteks ini aku dan keluargaku sehat, ke gereja adalah tetap kewajiban:)

      Balas
  12. Aku dibesarkan dalam keluarga yang ketat dalam aturan misa setiap minggu. Waktu flu pun tetap harus pergi misa. Kalau benar-benar nggak bisa bangun dari tempat tidur, nah, baru bisa deh bolos misa.
    Rupanya hal ini terbawa sampai sekarang. Kalau bolos misa, rasanya minggu itu jadi aneh, ada yang kurang gitu… :)

    Balas
    • Aku juga ngerasa aneh kok, makanya tulisan ini keluar :)

      Balas
  13. Hmmm… Betul katamu, kalau Tuhan saja selalu memprioritaskan kita dalam segala hal tanpa pernah absen, kenapa kita harus hitung2an saat akan bersyukur kepada Nya? Sedikit fanastime aku rasa masih normal, toh hanya orang itu yang tahu sendiri sejauh mana fanatismenya toh.
    Dan aku rasa Tuhan pasti mengerti alasanmu tdk ke gereja hehee..

    Balas
    • Hehehe, kamu orang pertama yang menangkap analogi terbalikku soal hubungan Tuhan ke kita, tak melulu kita ke Tuhan :)

      Balas
  14. singkat aja : moga2 udah sembuh hehehe…

    Balas
  15. Mas…aku senang sekali dengan postinganmu yang ini.
    semoga banyak orang yang membacanya sehingga orang2 yang memcanya tidak lantas melakukan sesuatu atas nama Tuhan tetapi sebenarnya Tuhan tidak mau orang-orang melakukan itu. atas nama tuhan tetapi membunuh dengan biadap atau melakukan perbuatan yang tercela.
    kalo postingannya ini punya rating akan ku kasih rating tertinggi dari semua tulisanmu ;)

    Balas
  16. tapi flunya udah sembuh kan sekarang, pak?:D

    Balas
  17. Hahaha… ini cerita religius yang lucu :p

    Balas
  18. Kalo persoalannya seperti itu, Tuhan pasti mengerti kok mas :)
    Tuhan kan Maha Tahu.
    Ia mengetahui apa yang ada didalam lubuk hati umat-Nya.
    Sekarang masih flu atau udah baikan nih?

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.