Mempertahankan iman ala Maria. Gimana?

29 Sep 2018 | Kabar Baik

Malam ini ketika merenungi Kabar Baik, aku mendapat pencerahan tentang apa yang bisa kita pelajari dan teladani dari Maria.

Sepanjang hidupnya, Maria menunjukkan kepada kita bahwa percaya itu tak hanya sekadar ucapan, percaya itu tak sekadar pernyataan verbal. Percaya itu adalah menjalani semua yang dinyatakan dan diucapkan hingga kesudahannya.

Kepercayaan Maria berawal dari kedatangan Malaikat Gabriel yang menyatakan kabar sukacita bahwa ia akan dikandung Roh Kudus dan berakhir hingga akhirnya ia diangkat ke surga, melewati begitu banyak rintangan tentang bagaimana Yesus dikandung, dilahirkan, dibesarkan bahkan saat ia akhirnya yang harus memangku jasadNya yang mati disalib.

Sebagai insan yang beriman, kita diajak meneladani Maria. Maria yang menunjukkan kesetiaan terhadap apa yang diimaninya melalui pikiran, perkataan dan perbuatan. Kesetiaan yang teruji bukan dengan cara bermegah tapi justru dari ketidakstabilan karena kita ini, sama dengan Maria, adalah manusia.

Aku punya kawan. Ia pria. Menarik, pintar dan dulu berperawakan atletis. Tinggal di Sydney, Australia aku berteman akrab dengannya. Karir di bidang IT-nya menanjak. Pacar? Ada! Cantik pula.

Tapi semua itu lantas ditinggalkan.

Ia memilh pulang ke Tanah Air karena bapaknya yang terkena dementia membutuhkan perhatian.

Waktu itu aku sempat bertanya, ?Kenapa elo yang pulang? Bukankah loe punya kakak di Tangerang??

Ia tersenyum. Ia merasa harus pulang karena hanya ia yang belum menikah sementara kakaknya sudah beristri dan beranak, ?Perhatiannya pasti lebih ke keluarganya lah, Don!?

Hari Minggu kemarin, di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta utara aku bertemu dengannya. Lima tahun tak berjumpa, wajahnya tak lagi rupawan. Perawakannya mengurus meski perutnya membuncit. Ia juga mengaku sudah ketinggalan dengan tren IT karena pekerjaan sehari-harinya mengurus Papanya yang kemarin diajak bertemu denganku dan keluarga.

?Ya beginilah gue sehari-hari, Don!?

Aku mengangguk-angguk. Ada rasa haru. Sambil menepuk dadanya aku bilang, ?Gue iri! Loe masih bisa urus bokap.. bokap gue udah nggak ada dan gue nggak pernah ngurusin dia??

Cerita suka-duka pun keluar dari mulutnya. Tak mudah ternyata mengurus orang sakit. Kadang ia merasa ingin menyerah saja, pikiran macam-macam untuk mengakhiri ?penderitaan?nya muncul-tenggelam. ?Tapi gue memilih tetap di jalan ini, Don! Gue inget Tuhan! Gue inget dosa kalau gue nekad!?

Lebih dari dua jam berbagi cerita dan kamipun berpisah. Ia gandeng Papanya yang semakin tak bisa mengingat apa-apa karena dementia-nya.

?Ntar kalau semuanya udah beres, gue main-main ke Sydney deh!? Lambaian tangannya, senyum di wajah tirusnya membuatku yakin kesetiaan akan iman itu teguh bukan karena mulus dan lancarnya ibadah tapi justru dari jatuh-bangunnya kita dalam mempertahankannya seperti kawanku tadi dan seperti Maria.

Jakarta, 29 September 2018

Jangan lupa isi?Survey Kabar Baik 2018. Hasil isian kalian dalam survey tersebut sangat mempengaruhi bagaimana pola tulisan dan distribusi renungan Kabar Baik ini akan berkelanjutan.?Klik di sini?untuk informasi selengkapnya!

Sebarluaskan!

1 Komentar

  1. Wow keren Bro nangis aku baca tulisan kabar baik kamu hari ini…aku sendiri merasa masih kurang cukup mengurus alm Papaku dan alm Mamaku…sakit hati rasanya…sekarang …diberi lagi sama Tuhan..,mengurus Suami yg kena Stroke…Mudah2an aku bisa tabah seperti Bunda Maria.

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.