Memohon kepadaNya, cukupkah hanya dengan berdoa?

20 Jan 2019 | Kabar Baik

Kejadian mukjizat pertama Yesus dimana Ia mengubah air menjadi anggur di pesta pernikahan di Kana identik dengan peran Maria yang memohon kepadaNya.

Tentu hal itu tak bisa dipungkiri karena Maria lah yang mula-mula datang kepada Yesus dan melaporkan bahwa pesta itu kekurangan anggur. Tapi saat Kabar Baik yang ditulis Yohanes ini dibacakan pastor saat perayaan ekaristi mingguan tadi, aku merenungi satu hal baru, andai para pelayan tak menuruti perkataan Maria supaya melaksanakan apapun yang dikatakan Yesus, adakah mukjizat itu tetap terjadi?

Di atas kertas tentu bisa karena Yesus itu Anak Allah dan kuasaNya tak bisa dibatasi oleh apapun. Tapi dalam konteks pesta pernikahan Kana, apa yang dilakukan para pelayan untuk mengisi tempayan-tempayan dengan air hingga penuh amatlah signifikan karena dari situlah mukjizat terjadi.

Apa yang bisa kita pelajari dari situ?

Sebagai umat Katolik, kita harus bersyukur karena seperti halnya peristiwa mukjizat di Kana, hingga kini dan untuk selamanya, Bunda Maria adalah perantara doa kita yang begitu setia. Kita berdoa dan memohon melaluinya dan banyak orang bersaksi permohonan itu dikabulkan Tuhan. Aku sendiri pernah beberapa kali memohon secara khusus melalui perantaraan Bunda Maria dan permohonan itu dikabulkanNya.

Tapi memohon itu tak berhenti hanya di doa dan kata-kata. Kita harus sigap seperti para pelayan yang mengisi keenam tempayan penuh dengan air. Artinya, misalnya ketika kita memohon pekerjaan yang baik, ya hal itu harus dibarengi dengan usaha keras untuk mendapatkannya; belajar, mencari pengalaman dan tak segan untuk mulai mengerjakan hal-hal yang barangkali jauh dari yang diimpikan dan dimohonkan.

?Tapi untuk apa kita mengusahakan kalau belum tahu apakah permohonan kita dikabulkan, Don??

Lagi-lagi mari kita merefleksikan diri dalam posisi para pelayan itu. Adakah mereka juga tahu apa yang akan dilakukan Yesus? Adakah dalam hati mereka bertanya-tanya kenapa kok malah disuruh mengisi tempayan dengan air? Bukankah yang habis itu anggurnya bukan airnya?

Tapi kupikir ucapan Maria terhadap mereka amat manjur, ?Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” (Yohanes 2:5)

Artinya, para pelayan itu meski tak kita kenal siapa saja namanya tapi mereka adalah contoh terbaik dalam percaya kepada Tuhan melalui perkataan Sang Ibu untuk mengikuti apa yang dikatakan Yesus, AnakNya.

Jadi, kalau kamu memohon pada Tuhan melalui Bunda Maria, jangan berhenti. Tetap percaya namun jangan lupa membuktikan kepercayaan itu melalui ketaatan kita untuk mengikuti kehendakNya karena hanya bersandar kepada Tuhanlah kita akan mendapatkan yang terbaik meski barangkali hal itu berbeda dari yang kita mohonkan mula-mula.

Tapi jangan-jangan kalian belum tahu kehendakNya?

Belum? Aduh! Sini-sini kubisikin?

Sydney, 20 Januari 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.