Meminta solusi kok malah dikasih kelegaan?

11 Des 2019 | Kabar Baik

Pernah ada yang bertanya kepadaku, ?Salahkah jika aku berdoa meminta solusi atas satu permasalahan kepada Tuhan?? Tentu tidak! Ia Maha Kuasa! Ia bisa memberi apa yang kita pinta. Tapi persoalannya sekarang, bagaimana kalau solusi yang kita dapatkan dariNya tidak sesuai keinginan?

Jawaban paling nyaman untuk diberikan adalah, ?Yang terbaik menurutNya belum tentu sama dengan yang kau ingini.? Salahkah jawaban itu? Lagi-lagi tidak! Tapi persoalannya kemudian adalah bagaimana kita menghadapi hal tersebut?

Katakanlah kamu menginginkan sebuah mobil listrik canggih keluaran Tesla tapi yang kau dapat adalah mobil sedan keluaran 90an?

Katakanlah kamu menginginkan sebuah pekerjaan kantoran yang prestisius tapi yang kau dapat adalah menjadi pegawai administrasi di sebuah kantor di pelosok?

Katakanlah kamu menginginkan sakit orang tuamu sembuh tapi yang kau dapati adalah ia justru semakin sakit?

Rasa kecewa? Tentu ada!?Rasa capek? Pastinya juga ada.?Bahkan, alih-alih mensyukuri, terkadang kita malah terjebak dalam perasaan ?beban lebih berat? ketimbang saat sedang berusaha keras berjuang mendapatkan apa yang diinginkan.

Meminta solusi? Ia memberi kelegaan

Tapi Kabar Baik hari ini semoga menenangkan!

Tuhan mengundang kita yang kecewa, letih, capek, lesu dan terbeban berat untuk datang kepadaNya karena Ia akan memberinya dengan kelegaan.

Tapi, DV? Kenapa hanya kelegaan? Kelegaan bukan solusi persoalan gue!?

Betul! Tapi apapun persoalanmu, apapun solusimu, semua perlu dihadapi dengan kelegaan. Maka, apakah kelegaan itu?

Kelegaan adalah rasa ikhlas

Bagiku kelegaan adalah rasa ikhlas.

Ikhlas menjalani hidup yang terkadang memang penuh problema, ikhlas meminta solusi, ikhlas menerima apapun yang terbaik dariNya atas problem tersebut.

Seorang ibu yang kukenal pernah merasa tak tenang menjelang pernikahan anaknya. Ia sebenarnya tak setuju dengan pilihan calon istri dari putra kesayangannya, ?Pokoknya aku akan menyadarkan anakku supaya tak memilih perempuan itu! Anakku sarjana lulusan Amerika! Mencari yang lebih baik dari dia pasti bisa!?

Maka di saat orang-orang disekitarnya sibuk mempersiapkan pernikahan sang anak, ia malah ?belingsatan? sendiri. Tiap hari murung. Ketika si anak mengajaknya berdiskusi tentang pernikahan, ia menggerutu. Tak satupun ide yang ditawarkan sang anak dianggap baik. Pokoknya salah sampai si anak memilih perempuan lain yang sesuai kehendaknya barulah barangkali bisa dibenarkan. Lain tidak!

Hingga akhirnya ia diberitahu sang suami bahwa sikapnya itu tidaklah elok. Bahwa hidup si anak adalah hidupnya sendiri, bukan hidup orangtuanya, ibunya. Si ibu lantas sadar. ?Aku pasrahkan pada anakku. Meski aku tak terlalu setuju tapi aku ikhlas. Itu adalah yang terbaik bagi anakku!?

Sesudahnya, perangai si ibu jadi berubah. Ia lebih bisa diajak berdiskusi, bahkan darinya muncul banyak ide yang bisa membuat acara pernikahan anaknya berlangsung lebih meriah dan megah lagi.

Sang ibu, meski awalnya tak ikhlas dan tak lega tapi pada akhirnya merasakan keikhlasan dan kelegaan itu. Dengan ikhlas, ia bisa menatap hidup lebih baik lagi.

Maka mari belajar ikhlas, belajar lega.

Lega karena kita tahu bahwa hidup ini memang tak mudah untuk dijalankan. Lega karena kita tahu bahwa apa yang kita inginkan saat meminta solusi tak melulu sama dengan kehendakNya. Lega bahwa tak semua harus dan bisa kita menangkan. Bukan karena Tuhan mau melihat kita kalah tapi justru karena untuk mencapai kemenangan sejati yaitu keselamatan abadi, kekalahan-kekalahan itu adalah pengorbanan.

Seperti Yesus dulu yang tampaknya saja kalah karena ditangkap, didera, disalib hingga mati. Tapi sejatinya justru karena keikhlasanNya menerima semua itu maka Bapa mengangkatNya sebagai pemenang. Ia mulia melalui pengorbananNya.

Sydney, 11 Desember 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.