Memilih theme tidak semudah mengagumi keindahannya

21 Des 2015 | Digital

Hal yang paling menyenangkan dari membangun sebuah situs menggunakan WordPress adalah memilih theme. Sebaliknya, bagian yang paling menjengkelkan adalah instalasi plugin.

Kenapa menyenangkan, karena theme identik dengan keindahan. Ibaratnya membangun sebuah mobil, memilih theme seperti memilih model mobil sedangkan plugin ibaratnya seperti memilih spion, kaca film, velg lalu memasangnya, mengujicoba kompatibilitasnya, menukarnya kalau ternyata tidak compatible dan membuat kita berpikir, ?Oh, kupikir semua sudah sekalian jadi satu? Ternyata harus beli sendiri-sendiri??

Dua pertanyaan itulah yang lantas membuatku berpikir untuk mencari theme blog ini yang memiliki feature-feature dasar yang bisa didapat tanpa harus meng-install plugin tambahan dan tidak harus peduli pada kompatibilitas!

X Theme

blog_xtheme

Pilihan pertama jatuh pada X Theme. WordPress theme yang konon memecah rekor penjualan theme tertinggi sepanjang sejarah.

Feature-feature yang ada dalam X Theme sangat brilian dan semuanya tak memerlukan plugin tambahan.

Tapi dari sisi harga, cukup mahal, $64 per tahun dan harus diperpanjang untuk mendapatkan update terbaru. Oh ya, update adalah hal yang harus sangat diperhatikan karena WordPress adalah framework yang terus berubah (evolving) sehingga theme juga harus di-update untuk menyelaraskan perubahan tersebut.

Divi Theme

Divi WordPress Theme

Aku tak mau lantas menyerah begitu saja pada X Theme. Aku ingin mencari pembanding. Lalu aku menemukan artikel ini?dan aku tertarik pada Divi, theme dengan kemampuan kurang lebih sama dengan X Theme keluaran Elegant Themes Premium WordPress Themes.

Kalian mungkin mengira aku menyukai Divi karena namanya sama denganku? Bisa jadi demikian. Tapi katakanlah benar, hal itu kuanggap hanya sebagai awal ketertarikan saja. Selebihnya aku mendalami Divi dan menganalisa apakah theme itu memang benar-benar bagus sekeren namanya atau tidak :)

Dari sisi harga, Divi kudapatkan dengan cuma-cuma karena ada sebuah entitas yang sudi membayariku untuk mendapatkan lifetime support seharga $249! Artinya, selama aku hidup dan selama Elegant Themes hidup, aku berhak untuk menggunakan semua themes dan plugins keluaran mereka!

Di titik itu aku mulai melibatkan Damar Benni yang kemudian hadir memberikan sentuhan grafis pada blog ini. Ia yang tak memiliki background IT tapi sangat kuat dalam desain menjadi partner yang sangat menyenangkan.

Tapi mungkin karena terlalu lama aku mengulik Divi, timbullah rasa bosan dan aku memutuskan untuk mencari pembandingnya lagi.

Braxton Theme

blog_braxton

Untuk mencari pembanding Divi, aku berpikir satu hal, theme yang kupilih haruslah memiliki kecepatan akses yang baik! Aku lalu membaca artikel ini dan jatuh hati pada Braxton!

Braxton adalah theme terlaris menurut Forbes dan dari sisi pengembangan, ia cukup mature. Artinya, dalam perjalanannya, Braxton memiliki kualitas teknis yang bagus karena ia pada akhirnya dikembangkan berdasarkan banyak usulan-usulan pengembangan serta laporan error/kesalahan yang disampaikan para pengguna.

Hampir saja aku membeli Braxton tapi kemudian aku berpikir, bagaimana dari sisi SEO-nya?

Socially Viral Theme

blog_sociallyViral

Aku lantas membaca artikel ini?dan aku memutuskan untuk menghentikan rencanaku lalu mencoba berpaling ke Socially Viral.

Socially Viral adalah theme supercepat dan konon dari sisi SEO sangat memadai yang dirilis oleh My Theme Shop. Karakteristik theme buatan perusahaan yang berpusat di Illionis ini adalah kecepatan akses dan SEO friendly-nya. Bersama Socially Viral, aku mencoba theme-theme lain seperti Cool?dan Best.

Tapi dari uji kecepatan yang kulakukan, Socially Viral mencapai skor tertinggi.

Aku tak lantas memutuskan begitu saja. Aku mencari-cari referensi tambahan tentang Socially Viral dan hampir semuanya memberikan nilai positif terhadapnya.

Awal Desember 2015, atau kurang dari sebulan sebelum rilis, aku memutuskan menginsall-nya di sini.

Berbarengan dengan itu, konsep konten dan struktur kategori yang baru pun kusempurnakan. Untuk mengakomodasinya, aku menggunakan premium plugin keluaran My Theme Shop, Mega Menu namanya.

Hari ke hari aku mencoba mengembangkan dan mengoptimalkan Socially Viral, aku menemukan persoalan yaitu menyangkut konsep konten yang akan kubagi beberapa hari ke depan, Socially Viral tidak terlalu bisa mengakomodir tanpa aku harus melakukan code tweaking. Padahal sejak awal, aku menghindari code tweaking karena meski aku adalah developer, aku tak ingin menghabiskan waktu terlalu banyak untuk membangun situs dan kehilangan energi untuk mengisi konten!

Extra Theme

blog_extra

Kamis, 17 Desember 2015, pagi hari sebuah newsletter dari Elegant Themes kuterima dan membuat segala persiapan yang telah kulakukan berubah saat itu juga!

Mereka merilis Extra, theme yang dikhususkan untuk magazine dan blog dan seharusnya rilis sejak 2014 silam!

Theme berbasis Divi ini begitu memikat dan memiliki kelengkapan feature yang dimiliki Divi (dalam video rilisnya, Elegant Themes mengutarakan bahwa Extra adalah Divi yang di twist/twisted untuk disesuaikan keperluan blogger)

Aku lantas menghubungi Damar Benni dan ia setuju usul pergantian itu. Siang hari, aku lantas menghapus semua setting yang semula kuperuntukkan Socially Viral dan menginstall Extra di sini.

Fakta mengecewakan saat release date

Semuanya tampak ok-ok saja hingga ketika superblog ini akhirnya kurilis, 20 Desember 2015 sekitar pukul 1 dinihari waktu Sydney, aku mendapati bahwa kecepatan akses situs ini sangat memprihatinkan!

Dari theme DonnyVerdian.Net yang semula hanya memuat kurang dari 20 http requests dan memiliki waktu load kurang dari satu detik, saat situs ini dirilis, ia memiliki 150 http requests dengan waktu load lebih dari sepuluh detik!

Apa aku nggak ngechek terlebih dahulu sebelum rilis??Jawabanku adalah tidak.

Kok bisa?
Karena aku memiliki keterbatasan finansial kalau harus menduplikasi setting DonnyVerdianNet dengan DV.FYI waktu itu. Kegagalan untuk membuat duplikasi sistem itulah yang memang sebenarnya sudah kuperkirakan tapi tak kusangka akan sedemikian berbedanya. Belum lagi karena aku menggunakan plugin proteksi password untuk mencegah awam masuk ke situs DV.FYI yang waktu itu belum kurilis, aku menemui kesulitan saat mencoba menganalisa situs menggunakan beberapa online tool yang biasa kugunakan!

Lambatnya waktu akses pada 20 Desember 2015 lalu ternyata bukan puncak permasalahan. Sore hari aku mendapatkan email dari WordPress yang mengabarkan bahwa situs ini mati dengan error code, ketidakmampuan sistem untuk mengakses database karena keterbatasan memori. Hal ini cukup lumrah dan sebenarnya aku mensyukuri karena ini pertanda ada begitu banyak orang mengakses situs ini di hari pertama rilisnya hingga membuat server mati karena tak kuasa melayani permintaan akses!

Malam harinya aku lantas memutuskan memperbesar memori server dan melakukan sedikit tweaking (maaf tak bisa ku-share di sini detailnya). Waktu itu juga kupergunakan untuk menganalisa ulang layout dan mengurangi gambar-gambar untuk meminimalisasikan jumlah http requests. Aku juga melakukan kompresi gambar lebih ketat lagi, membersihkan debris database, menghapus plugin-plugin yang tak kupergunakan dan memperbaiki sistem caching lalu merilisnya ulang hingga tampil dengan performance lumayan seperti sekarang.

Tapi ini bukanlah akhir. Dalam dua bulan mendatang hingga di peringatan tiga belas tahun aku ngeblog, 14 Februari 2016, aku akan memanfaatkan waktu tersebut untuk menata ulang, apakah aku akan tetap menggunakan Extra/DiVi atau harus berpindah ke theme lain? Apakah aku bisa tetap memilih cache sistem seperti sekarang ini atau harus beralih ke yang lain juga?

Karena hidup sejatinya memang sesuatu yang tak pernah bosan untuk berubah.

…bersambung
Besok aku akan bercerita tentang plugin dan cache setting yang kuterapkan di sini.

*credit photo (featured image) by Pexels.com

Sebarluaskan!

14 Komentar

  1. Anyar Gres | Samilaris | Review

    Hmmm….. “Review” nek dijawakne dadi opo ya?

    Balas
  2. Barusan klak klik menu-menu….

    Warna submenu “Khusus” setelah halaman di-scroll ke bawah jadi hitam, berbeda dengan ketika halaman belum discroll.

    Balas
    • Suwun, kuperbaiki nanti

      Balas
    • Sudah kuperbaiki. Please have a look :)

      Balas
      • Sudah dicoba lagi. Hasilnya masih tetap sama, warna link submenu “Khusus” jadi hitam (ngga keliatan karena kurang kontras).
        Aku pakai chrome, sudah refresh page, clear cache.
        Atau mungkin memang dibuat seperti itu?

        Balas
        • Kok bisa ya? di tempatku udah normal padahal

          Balas
        • Coba lagi, harusnya udah putih dengan teks hitam

          Balas
          • Sudah mantap, keliatan kontras (kuning, hitam). Top !!!
            Heheh

            Balas
  3. Aku lebih suka tampilan yang kemaren, mas..
    Iki aku mumet re ndelok blog e malahan.. :(

    Balas
    • Semua butuh dibiasakan, Nduk :) Makasih btw sudah mencoba…

      Balas
  4. Sub menu KHUSUS di saya background hitam 85% , warna font hitam 100% :D

    Balas
    • Iya, aku lagi bingung benerin.. karena di sini udah OK

      Balas
    • Coba lagi, harusnya udah putih dengan teks hitam

      Balas
  5. keren mas…tp klo dari segi warna, saya kurang suka..ini cuma masalah selera aja sih, so far sih keren….klo dibandingkan dengan themes yang donnyverdian.net, saya lbih suka yang dulu…lbh simpel…. mungkin karena konsep di tempat yang baru ini juga berkonsep baru, tentu memang lebih enak ubah semuanya ya mas…

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.