Memilih Jokowi meski mungkin bukan karena Jokowi

18 Jan 2019 | Cetusan

Pada akhirnya aku memantapkan hati untuk memilih Jokowi lagi pada Pilpres tanggal 17 April 2019 mendatang! Hal ini sungguh tak mudah untuk kunyatakan oleh karenanya kutaruh sebagai pembuka tulisan ini.

Kawan-kawan dekatku yang kuberi tahu pun awalnya tak percaya pada pilihan itu karena dalam rentang empat tahun terakhir, cara pandangku terhadap Jokowi selalu berubah-ubah.

Bahkan pernah dalam satu tulisan aku menulis begini

?Jika Tuhan memberiku umur hingga 2019 mendatang, kalau aku masih berkewarganegaraan Indonesia, dan kalau Jokowi memilih untuk maju lagi, jelas aku tak akan memilih dia lagi.?

Lalu apa yang membuatku akhirnya madhep-mantep ndherek Pak Jokowi sekali lagi?

Memilih Jokowi bukan karena Jokowinya

Aku memilih Jokowi pada mulanya adalah karena ketidakyakinanku pada pilihan pasangan calon yang satunya. Jadi, aku memilih Jokowi bukan karena Jokowi-nya.

Jokowi dalam empat tahun belakangan sudah memerintah dengan baik tapi masih ada banyak hal yang mungkin belum dan semoga tidak abai untuk dikerjakan jika ia terpilih lagi April mendatang.

Soal penyelesaian masalah-masalah HAM masa lalu, masih diberlakukannya hukuman mati, belum adanya kebijakan yang tegas menyangkut aksi berbasis SARA hingga yang terbaru adalah kisruhnya penerbitan ijin reklamasi Teluk Bali yang selama ini diperjuangkan banyak kawan di Bali sana.

Tapi untuk tak menggunakan hal pilih dalam Pilpres mendatang, hal itu sama dengan merendahkan harkat serta martabatku sendiri. Aku mencoba menjadi warga negara yang baik dan Pilpres adalah hajatan negara untuk memilih pemimpin berikutnya. Kalau aku memilih untuk tidak memilih lantas apa kontribusiku kepada negara?

Ketika pemerintahan berikutnya berjalan baik, aku tak berhak bertepuk tangan karena aku bukan bagian dari pendukungnya. Demikian pula ketika pemerintahan buruk aku merasa tak berhak untuk mencaci-makinya, karena aku juga tak berjuang untuk tidak membuatnya terpilih!

Jokowi
Jokowi

Regenerasi kepemimpinan 2024

Alasan lain untuk memilih Jokowi adalah supaya proses regenerasi kepemimpinan nasional terjadi di 2024 sehingga generasi mendatang bisa belajar bahwa syarat menjadi pemimpin nasional itu tak harus tua!?

Di tingkat kabupaten/kotamadya dan propinsi, hal ini sudah cukup teratasi dengan banyaknya pemimpin yang usianya berkisar di 30-40an, tapi di tingkat nasional? Kapan orang-orang di bawah 50 tahun bisa memimpin lagi? 

Negara ini sejatinya sudah memulainya dengan baik.?Bung Karno memproklamasikan kemerdekaan pada saat usianya 44 tahun lalu Pak Harto jadi presiden di usianya yang ke-46 tahun. Tapi sesudahnya? Belum pernah ada lagi karena Pak Habibie jadi presiden di usia 61 tahun, Gus Dur di usia 59 tahun, Bu Megawati di usia 54 tahun, Pak SBY di usia 55 tahun dan Pak Jokowi di usia 53 tahun!

Memilih Jokowi adalah memilih untuk terjadinya proses regenerasi kepemimpinan nasional pada 2024 mendatang. Kenapa? Kalau Jokowi terpilih lagi, lima tahun lagi ia sudah tidak bisa maju lagi dalam Pilpres, sementara kalau pasangan sebelah yang menang, 2024 ia masih bisa maju lagi lho!

Artinya?
Kamu perlu menunggu lagi sampai 2029 untuk melihat terjadinya regenerasi kepemimpinan nasional! Di saat itu, calon-calon pemimpin nasional yang harusnya moncer di 2024 seperti AHY, Ridwan Kamil,? Ganjar Pranowo dan Sandiaga Uno sudah terlalu tua sementara kalau ngarepin Jan Ethes, usianya baru akan beranjak tiga belas tahun?

Jadi?
Ya Jokowi! Siapa lagi?!

Sebarluaskan!

2 Komentar

  1. Jokowi kurang adil pada kami minoritas Bro itu yg membuat kami lebih baik Golput

    Balas
    • ya silakan golput, ga ada yg maksa

      Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.