Membuka mata yang buta dan membuat yang tuli mendengar melalui social media

9 Feb 2018 | Kabar Baik

Markus menulis ?kesimpulan? Kabar Baik hari ini berdasarkan komentar orang-orang yang hadir di tengah-tengah Yesus, “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.? (Markus 7:37)

Yesus membuat yang tuli jadi mendengar dan yang bisu berkata-kata. Tapi di atas semuanya itu, Ia menjadikan segala-galanya baik.?Yang disembuhkan Yesus tak hanya mata dan telinga fisik tapi juga hati. Jika mata dan telinga fisik bisa membuat kita melihat dan mendengar hal-hal yang fisikal, mata dan telinga hati kita gunakan untuk ?melihat? dan ?mendengar? hal-hal yang ada di sekeliling kita, terutama yang terkait dengan kepedulian hidup di dunia.

Lalu bagaimana Ia membuat mata dan telinga hati kita mampu ?melihat? dan ?mendengar? sehingga semuanya bisa jadi lebih baik? Di zaman now ini, salah satu alat yang digunakan olehNya adalah social media!

Hah?! Yang benar aja?
Masa Yesus menyembuhkan yang buta dan tuli mata serta telinga hati lewat social media? Bukankah social media itu sarang hoax? Tempat dimana hal-hal sepele dibesar-besarkan? Tempat dimana banyak kampanye jahat disebarluaskan?

Jika kita hanya memandang dari satu perspektif barangkali memang demikian. Tapi mari kita membuka wawasan lebar-lebar, tidak adakah hal baik yang bisa kita temukan di social media?

Kawan lamaku tinggal tak jauh dari sebuah rumah reot yang hampir rubuh. Rumah itu didiami seorang nenek tua dan cucu. Secara ekonomi, mereka hidup pas-pasan. Kawanku lalu memotret keadaan rumah, mewawancarai si nenek dan cucunya lalu mengunggah kisahnya di social media. Kawanku berinisiatif untuk mencari bantuan, siapa tahu ada hati yang tergerak.

Tak seberapa lama, status itu mem-viral dan beberapa hari kemudian kawanku menulis pesan baru di social media. Ia mengucapkan terimakasih kepada para donatur karena bantuan untuk memperbaiki rumah telah terkumpul.

Hal seperti ini adalah contoh dari apa yang kutulis di awal tadi.

Jika tak ada social media, cerita rumah reot itu barangkali hanya bisa didengar dan dilihat oleh orang-orang sekitarnya. Kalaupun kawanku berusaha mengumumkan, tanpa social media, efek penyebarannya tak akan seluas itu. Melalui social media, kita melihat dan mendengar adanya keadaan yang mengenaskan tersebut.

Tapi lantas kalau sudah demikian apa yang perlu kita lakukan? Selesaikah tugas kita hanya dengan mengetahui bahwa ada yang membutuhkan bantuan?

Tentu tidak!?Kita harus memahami perbedaan antara terdengar dan didengar, terlihat dan dilihat.?Kalau kamu mendengar dan melihat kabar tentang orang yang butuh bantuan lalu diam saja, kamu menganggap berita itu sebagai sesuatu yang terdengar dan terlihat.

Kalau kamu mendengar dan melihat kabar tentang orang yang memerlukan bantuan, bergeraklah untuk membantu sebisa dan semampumu! Hal itu akan membuat yang terdengar jadi didengar, yang terlihat jadi dilihat. Dengan begitu, apa yang dituliskan Markus di atas bahwa ?Ia menjadikan segala-galanya baik? pun bisa kita amini tak hanya dengan ucapan tapi juga dengan tindakan.

Jadi, sudah tak butakah matamu? Sudah tak tulikah telingamu?

Sydney, 9 Februari 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.