Membuang barang ‘bekas pakai’

2 Sep 2010 | Australia, Cetusan

Seperti halnya materi lainnya yang ditakdirkan untuk tinggal di dunia, maka benda-benda yang kita miliki sebagai fasilitas sebutlah itu gadget, pakaian, piranti dapur, piranti berkebun dan lain sebagainya pun memiliki masa edar sekaligus masa kadaluwarsa. Pakaian misalnya, ada saat dimana ia tak indah lagi kita pakai entah itu karena berat badan kita yang membengkak atau karena kalian sudah tak terlalu suka dengan modelnya yang sudah so-last year itu!
Kalau di Indonesia, salah satu teman dekatku menuliskan di blognya, ia memilih untuk memberikan barang-barang ‘bekas’ nya ke pemulung. Sayang di sini tak ada orang yang mau jadi pemulung, atau entah barangkali saja kalau ada juga akan dilarang terkait isu kebersihan itu sendiri. Lalu bagaimana orang-orang Australia mengelola barang-barang bekasnya?

Garage Sale / Sunday Market

Solusi yang ‘menghasilkan’ adalah dengan menjual barang bekas kita di garage sale maupun sunday market.
Apa itu garage sale? Garage sale, mudahnya adalah jualan di garasi. Sebagian besar orang yang tinggal di sini memiliki garasi. Nah, pada akhir pekan biasanya mereka yang memiliki banyak barang bekas membuka lapak non-permanen di garasi tempat tinggal mereka lalu dijual lah barang-barang itu. Sunday market hampir sama dengan garage sale, tapi bedanya mereka tidak berjualan di garasi rumah masing-masing melainkan biasanya di areal parkir ataupun taman yang memang pada setiap minggunya dijadikan lahan berjualan. Konsepnya barangkali sama dengan konsep ‘pasar kaget’ di Jawa. Kalau dulu kita kenal istilah Pasar Wage atau Pasar Pon karena mereka berjualan hanya khusus di hari-hari tersebut, maka demikian pulalah adanya Sunday Market itu.

Sumbangkan ke Charity

Ada banyak charity di sini yang mau menerima barang-barang bekasmu untuk kemudian dijual kembali oleh mereka dengan harga yang sangat murah.
Kebanyakan dari mereka adalah charity-charity kristiani yang meski demikian tidak mengkhususkan diri untuk kaum kristiani saja. Sebut saja Vincent de Paul, salah satu charity terbesar di Australia yang jelas dari namanya saja tampak unsur ‘kristiani’ nya. Namun meski demikian, sekali lagi kutekankan, ia tidaklah mengkhususkan menerima/menjual barang kepada kaum kristiani saja melainkan untuk umum dan bukti kebesaran namanya adalah betapa masyrakat Australia tak pandang bulu apakah dia beragama atau tidak, kristen atau yahudi atau apapun, nyumbang is nyumbang :)
Yang menarik dari menyumbang ke charity, dalam hal ini adalah Vincent de Paul, kita memberikan sumbangan itu melalui pos-pos yang telah disediakan di tempat-tempat tertentu. Adapun pos-pos tersebut bentuknya cukup menarik. Ia berdiri seperti kotak pos dan kita tinggal memasukkan apapun yang ingin kita masukkan selalu cukup/muat. Kalau tak muat, misalnya kita ingin menyumbang sofa atau tv, kita tinggal menelpon dan staff mereka akan datang menjemput barang-barang tersebut.
Lalu diapakan barang-barang itu?
Setelah barang dikoleksi, mereka lantas menyortir barang-barang tersebut. Adakah yang benar-benar sudah tak layak pakai, jika memang demikian maka kemungkinan besar barang-barang itu akan dibuang. Barang-barang yang layak ‘dijual’ kemudian dibersihkan dan dikondisikan untuk ‘layak jual’ diberi label, didistribusikan ke outlet-outlet St Vincent de Paul yang tersebar di seluruh penjuru Australia dan dijual.
Terkadang, jalan-jalan dan sedikit berbelanja ke outlet-outlet tersebut sangat menarik karena ada begitu banyak barang unik nan murah. Kenapa kukatakan sedikit, karena ada baiknya kita tak berbelanja ke sana karena barang-barang yang disediakan di sana bukankah diperuntukkan bagi kaum duafa yang berpenghasilan jauh lebih sedikit daripada kita?
Lagipula kan nggak lucu kalau misalnya kita tiba-tiba nemu barang yang pernah kita miliki lalu kita serahkan ke charity dan “Loh, ini barang kita… mari kita beli lagi!
Eh, eh.. ada yang bisik-bisik “Lha kok dijual lagi dan nggak diberikan saja gratis ke orang-orang?” Maka jawabku, “Hmmm… ini Australia, Bung!” :)

Hari Pembuangan

Ada hari-hari tertentu tergantung kesepakatan masing-masing council (semacam kecamatan) dimana kita diperbolehkan untuk membuang barang-barang bekas apapun itu di depan rumah.
Lalu sebuah mobil boks besar dari council akan segera memunguti barang itu dan mengumpulkannya ke satu tempat dan entah apa yang akan mereka lakukan, tergantung kesepakatan antar-council. Hal menarik dari ‘Hari Pembuangan’ ini adalah, ada sekalangan masyarakat yang hobinya mengumpulkan barang-barang bekas yang dibuang oleh orang lain lalu dimanfaatkannya untuk kepentingan sendiri.
Mereka biasanya memiliki info tentang kapan council A akan mengadakan hari pembuangan. Jadi, misalnya hari pembuangan adalah esok pagi dan sore sehari sebelumnya orang-orang mulai membuang barang bekasnya ke depan rumah, malam hari itu adalah malam pesta bagi mereka. Legalkah itu? Oh sangat! Malah keberadaan mereka justru membahagiakan banyak pihak termasuk council yang bisa mengirit kerja karena telah ‘dibantu’ oleh mereka sebelumnya.
Jadi kalau kalian sering mendengar cerita tentang ‘Orang memungut TV yang relatif masih baru di muka rumah orang lain’ itu memang benar-benar ada dan nyata! :)

Berikan ke Teman

Ya, kalau kalian punya teman dekat dan kebetulan mereka membutuhkan barang yang telah tak kita pakai lagi, kenapa tidak kita hibahkan saja barang itu ke mereka?
Aku punya banyak teman, kebetulan mereka sesama Indonesian, maka terutama untuk kebutuhan perlengkapan bayi misalnya, ada begitu banyak teman yang menawarkan barang-barang miliknya untuk kita pakai.
Sebaliknya, ketika anak kita sudah kunjung membesar dan pakaian tak cukup lagi ia kenakan, maka kita pun bergantian ramai-ramai menawarkan ke teman lain yang membutuhkan.
Loh, tapi apa kata orang kalau anak kita pakai barang bekas?
Beuhhh.. di sini mah ngga ada yang peduli dengan apa yang kau kenakan :)

Kirim ke Indonesia

Ini agak berlebihan karena pada kenyataannya, biaya pengiriman barang ke Indonesia terkadang sangat tidak logis dibandingkan dengan berapa nilai barang itu sendiri.
Kebanyakan mahasiswa yang telah lulus kuliah dan akan kembali ke Indonesia selamanya, memilih cara ini sekaligus ‘boyongan’ meski ada juga yang memilih empat cara di atas yang jelas jauh lebih mudah dan praktis.
Aku sendiri beberapa kali melakukan tapi memilih cara ‘menitip’ teman yang hendak pulang berlibur ke Indonesia atau hendak pulang sehabis berlibur ke Australia :)
Perkara bobot barang tentu menjadi hal yang patut diperhitungkan mengingat kapasitas bagasi yang terbatas dan bukankah kita menitip itu secara cuma-cuma dan hanya bermodalkan “Ah, kita kan berteman?”

Sebarluaskan!

30 Komentar

  1. Baju bekas bs jg jadi bahan jualan di Indonesia. Istilahnya “awul-awul”. Garage sale di Indonesia nggak selalu berarti barang bekas yg dijual oleh orang2 yg emang bermukim di Indonesia, tp bs jadi barang bekas hasil impor dari luar negeri terutama Korea.
    Di sanalah sebagian orang yg hendak pergi ke luar negeri dalam waktu tidak terlalu lama mendapatkan coat atau winter jacketnya :D

    Balas
    • waduh lokasi dimana tuh non :) berminat kalau ada moment ituh

      Balas
      • @ arham
        Tempat jualan awul-awul/baju bekas biasanya di pasar. Di Bogor ada di Pasar Bogor dan pasar di Terminal Merdeka. Di Jakarta juga ada, tapi nggak ingat namanya

        Balas
    • hihihi memang yah, barang korea sedang ngeTrend diantara para remaja Indonesia saat ini :)

      Balas
    • kalau di Pontianak pakaian bekas ini dinamakan lelong, laku keras deh… kebanyakan sih katanya dari Malaysia…
      saya juga pernah (sering) beli hahaha….

      Balas
  2. yang pasti mengirim baju bekas ke Indonesia justru dipungut pajak….
    Di sini kalau membuang barang besar seperti sofa, justru harus membayar. Jadi solusi terbaik, beli baru dan minta toko untuk mengambil yang lama.
    soal yang barang charity kenapa dijual, ya mereka kan juga butuh uang untuk menyortir/administrasi perkumpulan itu. Kalau menurutku wajar sekali.
    EM

    Balas
    • Ah, EM.. kau mencerahkanku! Aku baru sadar kenapa mereka harus menjual dan tidak memberikan cuma-cuma…
      Komentarmu memperkaya tulisanku!

      Balas
      • Bagaimana kalau menyoal auction di eBay? adakah yang seperti itu di Aussie sana mas DV ?

        Balas
  3. sebentar mas Don,
    diawal tulisan disebut “tidak ada orang yang mau jadi pemulung disana”, lha terus sekalangan orang yang hobi mengumpulkan barang bekas di hari pembuangan itu disana disebut apa ya?

    Balas
    • maksudnya di sini pemulung sebagai mata pencaharian utama mungkin. Meskipun ada saja yang memang bermatapencaharian Junkyard, tapi sedikit sekali.
      Di sini juga banyak pemulung musiman, yang mencari barang-barang antik waktu dibuka garage sale/ atau Sunday Market (di sini namanya Flea Market). Karena biasanya pemilik tidak mengetahui “value” dari barang antik tersebut.
      EM

      Balas
    • Setuju ama EM…
      yang kumaksud pemulung itu memang yang mengabdikan diri untuk bekerja sebagai pemulung, Mas :)

      Balas
      • Kalau di Indonesia sekarang pemulung ituh bisa jadi jutawan lho. bahkan pengemis aja bisa jadi lebih banyak duit daripada blogger blogger yang biasa berlaptop ria

        Balas
  4. ihirrr…theme e anyar ik :)

    Balas
  5. siap menerima kiriman barang bekas dari Ostrali. Biar seken yang penting dari Ostrali :D

    Balas
  6. Kalau dikampung saya, om, bos barang rongsokan/bekas itu malah cepat kaya. Tak pernah ada jeda dalam sepanjang hari, pagi hingga sore, pengumpul barang bekas itu selalu setor ke bos rongsokan.
    Salam kekerabatan.

    Balas
  7. lucu juga ya? kalo di sini, ada barang yg udah gak kita pake lagi ya dikasi ke siapa gitu, atau dibuang. hmm jadi mikir2 buat bikin garage sale. lumayan buat tambah2 beli sayur *halah* :D

    Balas
    • Kalau di kemang banyak tuh mba :)

      Balas
  8. betul, jangan lupa mainan anak2 kita juga jangan dibuang tapi di sortir yang baik untuk diberikan ke anak tak mampu atau tetangga yang membutuhkan

    Balas
  9. Kalau saya, barang bekas bisa diberikan ke pemulung atau bisa diberikan pada orang seperti yu pijet (dia akan memilih barang yang akan dipakai).
    Kemarin pas pulang ke Semarang, adikku punya cerita lucu…
    Dulu…(masih aktif)…Saya sering mengirim baju kantor (blazer+ celana panjang/rok) yang baru dipakai beberapa kali dan masih bagus ke adikku, karena beli baju jadi di Jakarta relatif lebih murah dan modelnya bagus. Keponakanku suka lungsuran bajuku, dibanding beli baru yang mahal untuk pegawai baru. Pas dus itu tiba di rumah adikku, teman anaknya pas ke rumah. Suatu ketika, keponakanku lulus dari PTN di Semarang..temannya bilang….”Bilang mamamu dong, boleh nggak kita minta blazer dan celana panjang bekas, kiriman tantemu?”
    Ternyata bajuku muat bagi para lulusan PTN itu dan untuk melamar kerja (maklum melamar kerja di Bank harus berpakaian rapih, termasuk pake blazer)..dan tahu nggak Don…lebih dari lima orang dari grup keponakanku diterima di Bank BUMN..dan mereka bilang, itu berkah dari bajuku…hahaha

    Balas
  10. Hueh. Kemarin sore aku udah komen dari bb, tapi salah pencet jadi back, cape deee ngetik ulang hahahaa….
    Skrg di pc.
    Di Jakarta juga sudah musim garage sales, malah garage sales nya online. Ya pilih2 yang terbaik lah. Cuma aku sih heran aja kalau ada yg jualan baju 25rb. Mbok ya dikasih saja ke pemulung or ke panti, kan lebih berguna dibanding beberapa puluh ribu. Dasar merki aja tuh orang :p.
    Ceritamu di atas sedikit menjawab juga tanya di kepalaku kenapa banyak sekali bal (karung) berisi baju-baju bekas bermerk dari luar negeri yang sampai ke Indonesia melalui pelabuhan-2 pinggiran. Kalau di Medan itu datangnya di Tjg Balai dan hampir di setiap lingkar luar Medan, ada pasar khusus yang menjual baju-baju bekas import itu. Dulu aku suka cari baju bekas ke sana Don, cari yang modelnya aneh-aneh *tahu sendiri, di Medan itu fashion ga idup jaman2 dulu* untuk dipakai manggung sec dulu kan anak band :). Baju-baju itu ada yang murah banget ada juga yang mahal kayak baju baru. Tapi mereka berdalih baju itu bermerk (kayak Gap, Giordano & merk2 ga jelas dri Luar)…
    Ternyata negara kita juga hobi terima lungsuran pakaian ya :)

    Balas
    • Wahh menarik ada garage sale online. ada linknya mba Zee :) ?

      Balas
  11. barang bekas LN sama di sini jauh banget levelnya ya….

    Balas
  12. Ha, sayang ya. Terdengar seperti pemborosan besar-besaran. Saya sih mencoba menggunakan barang hingga “titik nadir” — yang saya tidak punya anggaran lebih untuk membeli barang-barang baru hehe.

    di sini mah ngga ada yang peduli dengan apa yang kau kenakan

    Haha, saya suka dengan kata-kata tersebut.

    Balas
  13. Nah, yang terakhir itu tuh .. aku siap nampung iPhone mulusnya mas DV kok :) hihihi..
    btw kalau disini, garage sale cuman berlaku buat orang orang hype, misalnya kawasan kemang tapi yg elite ngak semua

    Balas
  14. Soal barang-barang yang nggak terpakai lagi ini kadang memang merepotkan. Tapi kalau aku sih, biasanya aku kasihkan ke karyawan yang bekerja di rumah, atau disumbangkan ke lembaga-lembaga sosial untuk diberikan kepada mereka yang membutuhkan. Nah, kalau baju-baju yang masih bagus (kadang bahkan ada yang belum pernah dipakai), tapi nggak muat lagi (maklum makin kesini kan makin berat, bukan makin ringan … hehehe :D ) itu jatahnya keponakan-keponakan …

    Balas
  15. di rumah, saya juga punya buku2 masa SMA yang kondisinya masih bagus, tapi sepertinya sudah tidak dipakai lagi oleh anak2 SMA jaman sekarang, jadi bingung mesti dibawa kemana.

    Balas
  16. mas D…
    kalo soal yang jual beli itu dan kenapa gak dikasih dengan cumua2, aku ada sedikiy pengalaman di sini…
    kemaren kami baru saja menggelar pasar murah barang bekas layak pakai, pasar murah ini benar2 kami adakan di pemukiman padat penduduk yang memang penghasilan mereka jauh daripada kita2 ini.. kenapa dijual dengan harga murah, karena kami juga kepengen ‘ngajari’ mereka untuk menghargai nilai suatu barang, dan juga biar mereka ga manja dan terus2an njaga’ne pemberian orang2. dengan adanya harga yang harus dibayar, walaupun sangat murah [kemaren kami menjual kaos dengan harga rata2 500 rupiah, ada beberapa sepatu crocs original bekas yg kami jual seharga 2000 rupiah], kami ingin mereka merasa memiliki suatu barang dengan suatu usaha dan keringat mereka sendiri.
    kemudian uang hasil penjualan itu sepenuhnya kami kembalikan kepada mereka untuk menambah dana pembuatan toilet umum…hehehheh, soale mereka susah kalo dimintai sumbangan untuk membangun toilet umum ini.. :D
    akhirnya toh balik ke mereka lagi..

    Balas
  17. Di tempat tinggalku sekarang delet pelabuhan, dan banyak baju2 dan barang bekas dari LN yang diturunkan dari kapal untuk dijual di sini. Terkenal dengan sebutan CAKAR>> cap karung.. hehe..
    Aku sendiri belum pernah beli baju cakar, meski beberapa tetanggaku beli di sana dan memang kondisinya masih bagus2, tapi entah ya, aku kok durung tegel awakku pake barang bekas orang lain yang, siapa tau panuan di negerinya sana? Hhhiiy…

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.