Seperti halnya materi lainnya yang ditakdirkan untuk tinggal di dunia, maka benda-benda yang kita miliki sebagai fasilitas sebutlah itu gadget, pakaian, piranti dapur, piranti berkebun dan lain sebagainya pun memiliki masa edar sekaligus masa kadaluwarsa. Pakaian misalnya, ada saat dimana ia tak indah lagi kita pakai entah itu karena berat badan kita yang membengkak atau karena kalian sudah tak terlalu suka dengan modelnya yang sudah so-last year itu!
Kalau di Indonesia, salah satu teman dekatku menuliskan di blognya, ia memilih untuk memberikan barang-barang ‘bekas’ nya ke pemulung. Sayang di sini tak ada orang yang mau jadi pemulung, atau entah barangkali saja kalau ada juga akan dilarang terkait isu kebersihan itu sendiri. Lalu bagaimana orang-orang Australia mengelola barang-barang bekasnya?
Garage Sale / Sunday Market
Solusi yang ‘menghasilkan’ adalah dengan menjual barang bekas kita di garage sale maupun sunday market.
Apa itu garage sale? Garage sale, mudahnya adalah jualan di garasi. Sebagian besar orang yang tinggal di sini memiliki garasi. Nah, pada akhir pekan biasanya mereka yang memiliki banyak barang bekas membuka lapak non-permanen di garasi tempat tinggal mereka lalu dijual lah barang-barang itu. Sunday market hampir sama dengan garage sale, tapi bedanya mereka tidak berjualan di garasi rumah masing-masing melainkan biasanya di areal parkir ataupun taman yang memang pada setiap minggunya dijadikan lahan berjualan. Konsepnya barangkali sama dengan konsep ‘pasar kaget’ di Jawa. Kalau dulu kita kenal istilah Pasar Wage atau Pasar Pon karena mereka berjualan hanya khusus di hari-hari tersebut, maka demikian pulalah adanya Sunday Market itu.
Sumbangkan ke Charity
Ada banyak charity di sini yang mau menerima barang-barang bekasmu untuk kemudian dijual kembali oleh mereka dengan harga yang sangat murah.
Kebanyakan dari mereka adalah charity-charity kristiani yang meski demikian tidak mengkhususkan diri untuk kaum kristiani saja. Sebut saja Vincent de Paul, salah satu charity terbesar di Australia yang jelas dari namanya saja tampak unsur ‘kristiani’ nya. Namun meski demikian, sekali lagi kutekankan, ia tidaklah mengkhususkan menerima/menjual barang kepada kaum kristiani saja melainkan untuk umum dan bukti kebesaran namanya adalah betapa masyrakat Australia tak pandang bulu apakah dia beragama atau tidak, kristen atau yahudi atau apapun, nyumbang is nyumbang :)
Yang menarik dari menyumbang ke charity, dalam hal ini adalah Vincent de Paul, kita memberikan sumbangan itu melalui pos-pos yang telah disediakan di tempat-tempat tertentu. Adapun pos-pos tersebut bentuknya cukup menarik. Ia berdiri seperti kotak pos dan kita tinggal memasukkan apapun yang ingin kita masukkan selalu cukup/muat. Kalau tak muat, misalnya kita ingin menyumbang sofa atau tv, kita tinggal menelpon dan staff mereka akan datang menjemput barang-barang tersebut.
Lalu diapakan barang-barang itu?
Setelah barang dikoleksi, mereka lantas menyortir barang-barang tersebut. Adakah yang benar-benar sudah tak layak pakai, jika memang demikian maka kemungkinan besar barang-barang itu akan dibuang. Barang-barang yang layak ‘dijual’ kemudian dibersihkan dan dikondisikan untuk ‘layak jual’ diberi label, didistribusikan ke outlet-outlet St Vincent de Paul yang tersebar di seluruh penjuru Australia dan dijual.
Terkadang, jalan-jalan dan sedikit berbelanja ke outlet-outlet tersebut sangat menarik karena ada begitu banyak barang unik nan murah. Kenapa kukatakan sedikit, karena ada baiknya kita tak berbelanja ke sana karena barang-barang yang disediakan di sana bukankah diperuntukkan bagi kaum duafa yang berpenghasilan jauh lebih sedikit daripada kita?
Lagipula kan nggak lucu kalau misalnya kita tiba-tiba nemu barang yang pernah kita miliki lalu kita serahkan ke charity dan “Loh, ini barang kita… mari kita beli lagi!”
Eh, eh.. ada yang bisik-bisik “Lha kok dijual lagi dan nggak diberikan saja gratis ke orang-orang?” Maka jawabku, “Hmmm… ini Australia, Bung!” :)
Hari Pembuangan
Ada hari-hari tertentu tergantung kesepakatan masing-masing council (semacam kecamatan) dimana kita diperbolehkan untuk membuang barang-barang bekas apapun itu di depan rumah.
Lalu sebuah mobil boks besar dari council akan segera memunguti barang itu dan mengumpulkannya ke satu tempat dan entah apa yang akan mereka lakukan, tergantung kesepakatan antar-council. Hal menarik dari ‘Hari Pembuangan’ ini adalah, ada sekalangan masyarakat yang hobinya mengumpulkan barang-barang bekas yang dibuang oleh orang lain lalu dimanfaatkannya untuk kepentingan sendiri.
Mereka biasanya memiliki info tentang kapan council A akan mengadakan hari pembuangan. Jadi, misalnya hari pembuangan adalah esok pagi dan sore sehari sebelumnya orang-orang mulai membuang barang bekasnya ke depan rumah, malam hari itu adalah malam pesta bagi mereka. Legalkah itu? Oh sangat! Malah keberadaan mereka justru membahagiakan banyak pihak termasuk council yang bisa mengirit kerja karena telah ‘dibantu’ oleh mereka sebelumnya.
Jadi kalau kalian sering mendengar cerita tentang ‘Orang memungut TV yang relatif masih baru di muka rumah orang lain’ itu memang benar-benar ada dan nyata! :)
Berikan ke Teman
Ya, kalau kalian punya teman dekat dan kebetulan mereka membutuhkan barang yang telah tak kita pakai lagi, kenapa tidak kita hibahkan saja barang itu ke mereka?
Aku punya banyak teman, kebetulan mereka sesama Indonesian, maka terutama untuk kebutuhan perlengkapan bayi misalnya, ada begitu banyak teman yang menawarkan barang-barang miliknya untuk kita pakai.
Sebaliknya, ketika anak kita sudah kunjung membesar dan pakaian tak cukup lagi ia kenakan, maka kita pun bergantian ramai-ramai menawarkan ke teman lain yang membutuhkan.
Loh, tapi apa kata orang kalau anak kita pakai barang bekas?
Beuhhh.. di sini mah ngga ada yang peduli dengan apa yang kau kenakan :)
Kirim ke Indonesia
Ini agak berlebihan karena pada kenyataannya, biaya pengiriman barang ke Indonesia terkadang sangat tidak logis dibandingkan dengan berapa nilai barang itu sendiri.
Kebanyakan mahasiswa yang telah lulus kuliah dan akan kembali ke Indonesia selamanya, memilih cara ini sekaligus ‘boyongan’ meski ada juga yang memilih empat cara di atas yang jelas jauh lebih mudah dan praktis.
Aku sendiri beberapa kali melakukan tapi memilih cara ‘menitip’ teman yang hendak pulang berlibur ke Indonesia atau hendak pulang sehabis berlibur ke Australia :)
Perkara bobot barang tentu menjadi hal yang patut diperhitungkan mengingat kapasitas bagasi yang terbatas dan bukankah kita menitip itu secara cuma-cuma dan hanya bermodalkan “Ah, kita kan berteman?”

Tinggalkan Balasan