Membantu pada yang seagama saja? Jangan kau kubur talentamu!

18 Sep 2018 | Kabar Baik

Hari ini, lagi-lagi Yesus bicara tentang Kerajaan Surga.

Tentang bagaimana Seorang Tuan yang hendak bepergian ke luar negeri memberi talenta kepada tiga orang hambanya.

Pada yang satu diberinya lima, yang satunya lagi dua, dan yang terakhir satu saja. Semua menurut kesanggupannya masing-masing.

Dua orang pertama, yang diberi lima serta dua talenta, mereka menjalankan hingga beroleh laba. Sementara yang satu, ia menggali lubang lalu menyembunyikan talenta itu.

Ketika Sang Tuan pulang, perhitungan pun digelar.

Kepada yang diberi lima dan diberi dua talenta, Sang Tuan berbahagia karena keduanya, telah setia dalam perkara kecil, maka ia lantas memberikan tanggung jawab dalam perkara? besar. Keduanya diajak masuk dan turut dalam kebahagiaan sang tuan. (lih.?Mat 25:21)

Tapi pada yang menyembunyikan talenta, Sang Tuan marah besar.

Kenapa? Karena ia tak menjalankan talenta itu. Ia menyembunyikan talenta dengan alasan takut karena ia telah dijejali persepsi yang salah terhadap Tuannya itu. Baginya, Sang Tuan adalah sosok kejam yang menuai di tempat dimana ia tak menabur dan yang memungut dari tempat dimana ia tidak menanam. Maka dihukumlah hamba itu.

Talenta adalah bakat dan kemampuan. Tuhan memberi waktu selama kita hidup untuk mengembangkan bakat dan kemampuan itu agar berguna bagi kemuliaanNya dan sesama kita.

Tapi pertanyaannya sekarang sudah optimalkah kita memanfaatkan semuanya itu?

Menyumbang ketika terjadi musibah bencana alam menurutku adalah salah satu aplikasi praktis tentang bagaimana kita memanfaatkan talenta yang diberi Tuhan.

Tapi alangkah menggelikan ketika misalnya ada orang yang berpikir mau memberikan sumbangan asal yang disumbang adalah orang-orang yang seiman, asal yang disumbang adalah orang-orang yang pada saat 2019 memilihnya dan junjungan politiknya!

Bagiku, orang-orang seperti itu tak ubahnya sebagai orang yang dalam analogi yang disampaikan Yesus hari ini mencoba untuk menyembunyikan dan mengubur talenta di dalam tanah!

Kenapa? Karena orang tadi tak membebaskan dirinya untuk memanfaatkan talenta seleluasa-leluasanya! Talenta diperam, dipendam seolah ia hanya boleh dimanfaatkan untuk yang seiman atau yang sesuai takaran kita saja.

Tetapi bukankah Paulus mengajarkan supaya kita berbuat baik kepada setiap orang terutama kepada kawan-kawan kita seiman seperti yang ditulis pada umat di Galatia (lih. Galatia 6:10)?

Benar! Tapi memahami hal tersebut haruslah melihat dari sisi konteksnya. Konteks waktu itu (beberapa tahun setelah Yesus naik ke surga), orang-orang Kristen sedang dikejar-kejar pemerintah untuk dibunuh sehingga Paulus merasa penting untuk menekankan hal itu untuk memberikan rasa tenang bahwa kita tak sendirian dalam beriman.

Hal tersebut tak bisa serta-merta kita aplikasikan di masa kini bahwa kita harus membantu yang seiman saja! Lagipula apakah kamu sudah yakin bahwa kamu itu beriman ketika kamu memutuskan membantu hanya pada mereka yang kamu anggap sama?

Kenapa aku bertanya begitu karena Tuhan yang kau imani itu, Ia tidak pernah membeda-bedakan orang yang hendak dibantu berdasarkan asal-usul, baik-buruk dan agamanya.

Jadi?

Bongkar!
Bongkar kuburan talentamu! Jangan puas dalam hidup yang seolah-olah kamu telah berkarya bagi sesama dengan memberi batasan semu pada makna ?sesama? itu sendiri. Lepas bebas saja dalam membantu! Berikan talentamu pada dunia supaya dunia semakin mengenal Dia yang mengutus kita!

Sydney, 18 September 2018

Jangan lupa isi?Survey Kabar Baik 2018. Hasil isian kalian dalam survey tersebut sangat mempengaruhi bagaimana pola tulisan dan distribusi renungan Kabar Baik ini akan berkelanjutan.?Klik di sini?untuk informasi selengkapnya!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.