Membaca ‘Sasmita’ Jaman dari Penolakan Taksi Online

20 Jun 2017 | Cetusan

Sebuah peristiwa yang menurutku teatrikal terjadi di Bandar Udara Adisucipto Yogyakarta, Minggu (18/6) malam sekitar pukul 20:00 WIB.

Seperti dilansir Brilio, seorang sopir ‘taksi online’ dihukum buka baju di depan umum dan disuruh meneriakkan permintaan maaf oleh petugas keamanan setelah sebelumnya ketahuan mengangkut penumpang dari kawasan bandara yang terletak di Maguwo, sisi timur Kota Jogja itu.

Sebenci-bencinya aku terhadap upaya main hakim sendiri seperti itu, ada baiknya kita meresapi dan merenung ‘sasmita’ apa yang ingin disampaikan oleh Tuhan sehingga mengijinkan hal itu terjadi?

Kita tak bisa asal menyalahkan atau main boikot sana-sini terhadap taksi-taksi konvensional di bandara itu karena kalau begitu apa bedanya kita dengan mereka?

Lagipula, protes terhadap munculnya layanan taksi online itu tak hanya terjadi di Jogja saja tapi juga merebak ke kota-kota besar lainnya termasuk Roma, Rio De Jenairo, London, Toronto bahkan hingga Melbourne, Australia!

Kejadian itu adalah tanda betapa imbas modernisasi tak bisa ditolak apalagi dikendalikan dan secara reflek, kita melawannya.

Manusia saling berlomba untuk menjadi yang terdepan lewat inovasi karya dan usaha akibatnya pada manusia lain yang tak ada di paling depan ya kalah atau setidaknya terkesampingkan.

Yang paling bisa diharapkan untuk mengatur semua ini sebenarnya pemerintah. Bagaimanapun juga pelaku bisnis konvensional dan keluarganya tetap butuh makan dan diperhatikan sementara mereka yang ‘baru datang’ dengan model terkini (baca: online) juga berhak untuk berkembang.

Tapi sejak kapan kita bisa puas terhadap kinerja pemerintah dimanapun mereka memerintah? So, daripada frustrasi dan uring-uringan sendiri, yang lebih bisa dilakukan adalah menata hidup dan bersiap menghadapi modernisasi yang akan terus menggelombang dan datang.

Hari ini kita disuguhi soal transportasi online, ke depannya akan ada begitu banyak hal mengejutkan. Simak saja soal artificial intelegent yang ketika diterapkan dalam sistem pekerjaan akan begitu banyak merampas posisi pekerjaan yang hingga saat ini dipegang manusia.

Peran kita akan banyak diambil alih robot yang kita ciptakan sendiri dan ketika itu sampai pada tahap kenyataan bagaimana kita membayangkan dunia? Adakah kita bertarung melawan robot-robot yang pintar karena kita minta untuk jadi cerdas?

Pilihan untuk tetap bersaing barangkali baik tapi yang paling bijak adalah bagaimana tetap bertahan.

Bersaing itu seolah mengharuskan diri untuk jadi pemenang padahal bukankah podium kemenangan hanya untuk satu orang yang duduk di tempat terpucuk? Bertahanlah karena hidup ini tak selamanya harus dimenangkan tapi mutlak harus dipertahankan.

Terbuka terhadap hal-hal baru, berpikir kreatif untuk tak melulu mengadopsi yang baru nan trendi serta melibatkan hati, moral dan ketenangan pikir adalah modal utama ketimbang berbagai macam skill yang namanya saja semakin sulit untuk diucapkan itu!

Inilah tanda jaman itu! Dan sebagaimana Jayabaya mengharapkan kita untuk tidak ikut-ikutan gila di jaman yang kian gila, tetaplah ingat dan waspada.

Jadi, ayolah jangan ikut-ikutan gila! Menyuruh orang telanjang di gerbang masuk kota yang terkenal begitu santun dan mriyayeni itu bukankah sama artinya menelanjangi moral dan akhlak kita yang grogi saat menghadapi hantu modernisasi?

…masih seperti dulu, tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna… (Yogyakarta/KLa Project)

Berita terkait:

  1. Sopir taksi online dihukum buka baju di Bandara Yogyakarta
  2. Anti-Uber protests around the world, in pictures
Sebarluaskan!

1 Komentar

  1. Apik mas…
    Turut prihatin… semoga jogja k3mbali santun

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.