Sangat banyak yang prihatin dengan apa yang terjadi dalam kasus Google Chromebook yang melibatkan Nadiem Makarim (dan Ibam); dua nama besar dalam dunia startup tech Indonesia.
Kenapa semua ini bisa terjadi?
Apa ini salah Jokowi?
Nadiem ditumbalin?
As much as aku pengen langsung nyosor ke muara itu tapi aku memilih menyusuri arus agak sedikit ke hulu supaya lebih runut.
Menurutku, semua kekisruhan ini berawal dari penunjukan Nadiem sebagai menteri dan ketidaktahuannya terhadap lanskap medan yang ia bakal hadapi waktu itu. Mungkin dia tahu garis besarnya, tapi garis-garis lain yang setebal rambut barangkali gak terlihat dan lupa diperhitungkan.
Mungkin dia tahu bahwa nggak semua yang dia lakukan di sektor swasta bisa diterima dengan baik di sektor pemerintahan tapi dalam prakteknya, pengetahuan itu ternyata beda jauh dari kenyataan. Bahwa gak semua yang manggut-manggut dan bilang “Siap, Ndan” atau “Iya, Pak” itu berarti sepaham. Bisa jadi mereka justru sedang menimbun dendam di belakang dan ketika jabatan Nadiem terselesaikan, semuanya disemburkan ke mukanya seperti yang terjadi sekarang.
Dari yang kulihat di podcast-podcast, konon Nadiem selama jadi menteri jarang ngantor dan jarang kunjungan ke kampus-kampus. Aku gak menyalahkan karena di dunia swasta terlebih industri digital, hal seperti ini wajar; gak perlu in-person meeting, yang penting ada hasil dan sesuai KPI. Tapi lagi-lagi di medan bernama pemerintahan, garis-garis tipis bernama kepantasan, unggah-ungguh, ketimuran itu hal yang juga harus diperhitungkan bahkan kadang jadi yang paling penting untuk dipertimbangkan.
Belum lagi soal model kurikulum dan gebrakan lainnya yang konon (kupakai kata konon karena aku gak mengikuti secara detail) bertujuan menata ulang sistem pendidikan yang sudah berlangsung lama. Bagus sih tapi lagi-lagi Nadiem mungkin gagal mengukur sedahsyat apa gegar dan gempa yang ditimbulkan. Nadiem, jangankan untuk mengubah cara lama, untuk memindahkan pantat dari satu kursi ke kursi lain aja bisa jadi ada oknum yang merasa mager dan berat bro!
Tapi benar kata kalian, Nadiem gak salah karena dia sejak awal memang diminta membuat perubahan?
Betul! Kesalahan ada pada orang yang mengajaknya masuk ke dalam sistem :) Bisa jadi orang itu punya mimpi ketinggian tapi gak punya kapabilitas di level eksekutif untuk bikin keputusan. Dia gawal untuk mengukur target dan mengelola risk management kalau terjadi kenapa-napa termasuk kalau pas akhir masa jabatan belum kelar semuanya.
Keputusan eksekutif itu gak bisa cuma dilandaskan pada kata “pokoknya”.
Pokoknya yang penting Si Nadiem yang keren itu mau memimpin departemen.
Pokoknya harus cepat, harus sat-set..
Pokoknya kerja! kerja! kerja!
Tapi ketika Nadiem ‘dibegitukan’? Ya jangan tanya saya! Gitu?
Di sinilah sebenarnya blusukan itu penting!
Bukan blusukan ke got dan ke masyarakat, kecuali dia sedang pengen meraih simpati untuk pemilihan ke depan tapi blusukan ke instansi dan departemen-departemen. Belanja masalah sedetil-detilnya karena barangkali akar dari semua akar persoalan itu memang justru ada di sana.
Prihatinku untuk kasus Nadiem dan Ibam serta semua anak bangsa yang tadinya barangkali berpikir untuk pulang ke Tanah Air dan ingin berkontribusi untuk negeri tapi harus kembali berpikir panjang gara-gara paparan kasus seperti ini!
Tinggalkan Balasan