Memanggul salib memanggul iPhone X

8 Nov 2017 | Kabar Baik

Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.
(Luk?14:27 Luk?14:33)

Dalam Kabar Baik hari ini, Lukas menulis pernyataan Yesus bahwa syarat untuk menjadi murid Yesus itu kita harus memanggul salib dan melepaskan diri dari segala milik kita!

Aduh!
Padahal baru kemarin aku memperpanjang kontrak pasca bayarku dengan sebuah operator selular di sini dan aku sedang sangat gembira karena perpanjangan kontrak itu membuatku mendapatkan iPhone X, handphone keluaran Apple edisi terbaru yang di-bundle dengan kontrak tersebut.

Gawat nih?! Haruskah aku melepaskan iPhone X-ku supaya tetap jadi muridNya? Atau tak bisakah aku tetap jadi murid Yesus kalau aku tetap memiliki gadget mutakhir nan cerdas itu?

Beruntung aku dulu sekolah di SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Di sekolah yang diasuh oleh para pastor Yesuit itu aku diajari untuk bersikap bebas namun disertai rasa penuh tanggung jawab dalam mengambil keputusan hidup selama semua itu untuk kemuliaan Allah yang lebih besar, Ad Maiorem Dei Gloriam.

Jadi, ketika memilih untuk memperpanjang kontrak dan mendapatkan iPhone X, aku tetap yakin bisa jadi murid Yesus selama aku tak menempatkan diri dan ego ke dalamnya dan justru bagaimana aku harus mampu menggunakan gadget itu sebagai sarana untuk memuliakan Allah dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutku ada tiga hal baik yang bisa terjadi dengan kontrak dan iPhone X baruku itu.

Pertama, peningkatan data yang kudapat.
Data untuk mengakses internet di zaman now barangkali sudah termasuk kebutuhan primer. Dalam kontrak sebelumnya, oleh operator aku hanya mendapatkan jatah 10GB per bulan dan kuota ini kadang tak mencukupi pemakaian dataku sehingga aku beberapa kali harus membayar denda karena kelebihan data yang kupakai dan ini tidak murah.

Kontrak baru ini, dengan tarif bulanan yang relatif sama, aku mendapatkan jatah 100GB atau sepuluh kali lipat! Yang kubayangkan, aku tak kan sanggup menghabiskan data sebanyak itu sehingga secara nalar akan ada uang yang bisa kuhemat ketimbang harus bayar denda akibat kelebihan data yang kupakai.

Penghematan itu tentu bisa kualokasikan untuk membiayai ?pos-pos? yang lain yang memerlukan, bukan?

Kedua, jatah telepon internasional.
Sebagai migran yang tinggal di Australia, menelpon rekan serta kerabat juga saudara di Indonesia adalah kebutuhan yang tak bisa dihindarkan. Di kontrak lalu aku hanya mendapatkan jatah 400 menit telepon internasional per bulan. Dengan kontrak baru ini aku tak dibatasi lagi alias unlimited!

Ini luar biasa karena aku tak perlu lagi takut berlama-lama telepon ke Indonesia! Semakin sering menghubungi orang-orang yang kita kasihi dan perhatikan di Tanah Air, bukankah itu juga menghangatkan hati?

Ketiga, tentang fitur iPhone X itu sendiri.
Sebagai seorang blogger yang hiperaktif, dukungan gadget dengan fitur yang canggih tentu amat membantu proses kreasi konten termasuk menulis dan memotret.

Belum lagi hobi lamaku yang muncul lagi akhir-akhir ini yaitu mencipta lagu, iPhone X tentu akan bisa lebih optimal untuk kupakai merekam ide atau mengolah suara atau instrumen dengan app yang kuinstall di dalamnya ketika aku sedang dalam perjalanan menuju atau pulang dari kantor.

?Ah tapi itu semua alasan yang kau buat-buat, Bos! Sejatinya dengan kontrak dan handphone yang sekarang toh kamu juga bisa hidup?? begitu pesan Tunggonono semalam via WA setelah ia kukabari berita ?gembira? tentang iPhone X-ku itu.

Hehehe, apa salahnya membikin alasan, Nggon? Bukankah hidup ini pun sejatinya terbangun dari serangkaian alasan yang kita buat pada awalnya lalu pembuktian bahwa alasan-alasan itu benar atau salah pada akhirnya? Jadi, ketika aku menempatkan begitu banyak alasan untuk memiliki iPhone X, sesaat berikutnya adalah titik awal pembuktian bahwa alasan-alasanku itu benar adanya hingga nanti saat aku ganti gadget lagi.

Di titik ini, bagiku, memiliki iPhone X dengan memperhatikan alasan-alasan di atas dan membuktikan alasan-alasan itu adalah salah satu proses pertanggungjawaban pilihan yang kuputuskan secara bebas sekaligus pengejawantahan memanggul salib di zaman now?

Sydney, 8 November 2017

Sebarluaskan!

1 Komentar

  1. Berbahagialah yang di negeri seberang, di Jakarta internet 4G saja masih belum rata hahaha..

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.