Memahami Lima Roti dan Dua Ikan di Masa Kini

5 Agu 2019 | Kabar Baik

Dalam peristiwa dimana Yesus memberi makan pada lima ribu orang hanya bermodal lima roti dan dua ikan, ada sudut menarik yang barangkali jarang kita selami bersama.

Sudut itu adalah seperti yang ditulis Matius sebagai berikut:

Lalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput. Dan setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat? (lih. Mat 14:19)

Lima Roti dan Dua Ikan

Meski Yesus tahu bahwa secara manusiawi lima roti dan dua ikan tak kan cukup untuk diberikan pada 5000 orang, tapi Ia mensyukurinya sebagai sesuatu yang datang dari BapaNya di surga. 

Lalu apa yang terjadi sesudah itu? Mukjizat! Lima ribu orang makan hingga kenyang, bahkan ada dua belas bakul sisa yang tak termakan! (Mat 14:20). Berlimpah ruah!

Kita diajak untuk mengikuti hal yang sama; mensyukuri berapapun rejeki yang Tuhan beri. Bersyukur adalah tanda bahwa kita menghargai sedikit-banyaknya rejeki sekaligus membuka gerbang bagi pengadaan mukjizat olehNya dalam hidup kita.

Eyang Putri Pranyoto (eyang dari pihak almh. Mama) adalah pejuang tangguh. Sang Suami, meninggal saat Eyang yang akrab kupanggil Ibuk itu berusia 46 tahun.?

Pun anaknya enam, waktu itu semuanya masih butuh biaya. Sementara profesi awalnya hanyalah guru, ia berhenti lama tak bekerja untuk mengabdi penuh kepada keluarga, mendampingi suami, mengasuh anaknya, menjadi ibu rumah tangga. 

Maka Ibuk harus kembali bekerja untuk menghidupi keluarga besarnya.

Menggunakan kemampuannya yang kampiun dalam menulis dan berkata-kata (talenta ini akhirnya menurun kepadaku yang hingga kini menulis), Ibu bekerja menjadi seorang editor di sebuah percetakan dan penerbitan ternama, Intan Pariwara.

Meski gajinya jika dihitung-hitung tetap tak mencukupi kebutuhan, ibuk tak pernah berhenti melakukan dua hal: bersyukur(berdoa) dan terus berusaha. Menyekolahkan anak-anaknya hingga tuntas, menyaksikan bagaimana cucu-cucu bertumbuh dan kini hidup menikmati masa tua yang berbahagia bersama keluarga Tanteku (anak keempatnya) di Salatiga sana.

Desember lalu, ketika ia merayakan ulang tahun ke-88 dan kami sekeluarga besar berkumpul mengadakan perayaan ekaristi di rumah di Klaten, aku bertanya, apa resepnya kok bisa sukses menjadi istri, ibu dan eyang bagi sebegini banyak anak-keturunan?

Ia tersenyum dan berkata, ?Sing penting ki nekad.? Mlaku. Aja nyerah. Tuhan pasti paring dalan! (Yang penting nekad, jalan terus dan jangan menyerah, Tuhan pasti memberi jalan – jw).?

Menghargai dan bersyukur

Dulu, setelah mensyukuri lima roti dan dua ikan sebagai berkat yang datang dari BapaNya, Yesus mengadakan mukjizat. Dua ribu tahun sesudahnya, melalui sosok Ibuk aku melihat hal yang sama; sikap syukur atas berapapun rejeki yang diberi dan Tuhan menjalankan mukjizatNya.

Ibuk mengakui ketidakcukupan rejeki dibanding kebutuhannya tapi Ibuk juga tidak lupa mengakui bahwa kuasaNya tidak terbatasi angka-angka yang terpampang pada lembar uang yang diterimanya untuk membiayani enam anak, satu menantu dan satu cucunya waktu itu. 

Tangan Tuhan selalu bekerja untuk mencukupkan dan membuat yang tak mungkin jadi mungkin. Tinggal seberapa mau kita menghargai dan mensyukuriNya.

Sydney, 5 Agustus 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.