Memaafkan tanpa tahu apa yang harus dimaafkan?

24 Agu 2018 | Kabar Baik

Kita diajar untuk mengampuni kesalahan orang tak hanya sekali, tak hanya tujuh kali.

?Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.? begitu kata Yesus seperti ditulis Matius dalam Matius 18:22.

Berat? Tak ringan tentu saja! Namun tak ada yang tak mungkin ketika Allah menguatkan. Melalui kuasa Roh Kudus kita pasti bisa menjalaninya.

Tapi sebelum memaafkan berulang-ulang kali banyaknya itu, pernahkah kita berpikir apakah sejatinya kita ini tahu tentang kesalahan orang lain yang harus dimaafkan itu? Jangan-jangan kita asal main memaafkan saja yang penting ikut apa yang dikatakan Yesus?

Misalnya seorang ibu, anggap Surti namanya.

Suatu pagi Bu Surti berjalan kaki hendak menuju ke pasar membeli bahan baku makanan untuk keluarganya. Seperti biasa, ia bertemu dengan kawan, seorang ibu yang lain, Karti panggilannya. Dan seperti pagi-pagi sebelumnya juga, Bu Surti menyapa Karti, ?Halo Jeng! Selamat pagi, apakabar??

Tapi aneh! Si Karti yang disapa tadi malah melengos, buang muka.

Perasaan Bu Surti tentu campur aduk. Sedih tapi sekaligus bingung. Ada apa? Kenapa tiba-tiba ia tak menyapa seperti biasanya? Adakah ia punya salah? Tapi kalau demikian kenapa sampai tak menyapa?

Alih-alih mencari penyebab, Bu Surti memilih untuk memaafkan, supaya ?nggak rame? dan? mengikuti ajaran tentang memaafkan seperti tertulis di atas.

Yang dilakukan Bu Surti tentu tidak salah, memaafkan bahkan sebelum Karti mengaku salah itu sikap berbesar hati yang luar biasa.

Tapi kalau ia mau berpikir lebih dalam lagi untuk mencari tahu kenapa Karti bisa melengos dan buang muka, barangkali kebesaran hatinya akan terlengkapi dengan satu sifat baru: bijaksana.

Bu Surti tidak tahu kenapa Karti melengos. Karti membuang muka karena ia merasa dikhianati oleh Bu Surti yang tak mengajaknya pergi ke acara diskonan di toko seberang alun-alun padahal ia merasa tak pernah meninggalkan Bu Surti pada kesempatan yang sama sebelum-sebelumnya.

Nah, kalau begitu bukankah sejatinya yang punya salah itu bukan saja Si Karti yang melengos tadi? Bukankah Bu Surti pun juga punya andil salah setidaknya di mata Karti?

Kawan, kita ini manusia lemah. Jangan-jangan pada saat kita mengampuni orang lain, justru seharusnya yang kita lakukan adalah mohon ampun dan minta maaf terlebih dulu terhadap yang kita ampuni atas kesalahan yang barangkali tak kita sadari?

Sydney, 24 Agustus 2018

Sebarluaskan!

1 Komentar

  1. Please Forgive me

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.