Memaafkan itu tak segampang bikin mie instan

15 Agu 2019 | Kabar Baik

Mie instan itu menyenangkan. Murah, meriah dan cara menyajikannya pun mudah.

Harganya dua ribu lima ratusan rupiah ( di Australia dijual juga banyak mie instan dari Indonesia seharga sepuluh kali lipatnya!). Rasanya meriah karena memang diproduksi dengan mempertimbangkan aspek rasa yang membuat ketagihan lidah. Cara bikinnya, paling banter sepuluh menit lalu siap santap. Namanya juga instan! Mudah!

Mie instan: murah – meriah – mudah

Paling enak, meski sebenarnya paling tidak dianjurkan, untuk dimakan pada malam hari. Saat hendak tidur? tiba-tiba lapar. Mau keluar mager (malas gerak -red). Mau pesan makanan lewat jasa antar-online, nunggunya bisa lama. Ya udah, ke dapur bikin mie instan lalu beres deh!

Waktu tanggal tua, stok mie instan di dapur adalah dewa penyelamat. Waktu kuliah di Jogja dulu, menjelang akhir bulan adalah saat yang paling tepat untuk membuka stock simpanan mie instan. Dompet jadi nggak kering-kering amat tapi perut tetap terisi?

Jika kemarin Yesus bicara tentang cara menegur orang yang berdosa, hari ini Dia bicara tentang memaafkan.

Memaafkan: (tak) murah – (tak) meriah – (tak) mudah

Memaafkan, menurut iman kita, ternyata tidak semudah salam-salaman dan tidak pula seperti bikin mie instan. Perlu tujuh puluh kali tujuh kali pemaafan seperti yang dikatakan Yesus dan ditulis Matius dalam Matius 18:22.

Sehingga maaf kita itu tidak murahan seperti mie instan meski juga jangan dijadikan hal yang mahal. Tujuh puluh kali tujuh pemaafan yang harus kita berikan adalah simbol bahwa memaafkan seseorang dari salah itu adalah pekerjaan seumur hidup.

Memberikan maaf juga bukan hal yang menyenangkan? jika standard yang kita pakai adalah kedagingan dan keduniawian kita. Oleh karena itu, tak seperti mie instan, memaafkan itu pahit, perih, asem, kecut rasanya! Kalau ingat salahnya, tiba-tiba dendam itu muncul lagi. Kalau ingat sakitnya dikhianati, mendadak menyesal ngapain ya gue maafin?! Kalau melihatnya yang bisa kembali ceria setelah kita maafkan, ?Duh! Tuhan mana sih? Kok diam saja dan tak membalaskan lukaku kepadanya??

Memaafkan juga tidak semudah mie instan dalam hal cara menghidangkannya. Apa perlu yang bersalah harus minta maaf lebih dulu secara proper baru kita maafkan? Atau perlukah yang bersalah membayar ganti rugi yang adil baru kita maafkan? Atau ia tak perlu minta maaf yang penting kita beri maaf dulu? Wah, lebih sulit lagi kan!?

Tapi sayangnya, jika kita ingin masuk surga, tak ada jalan lain selain memaafkan sesama kita terlebih dulu.

Lho, apa hubungannya?

Untuk masuk surga, kita perlu suci dan bersih dari dosa. Untuk itu, kita perlu dimaafkan oleh Tuhan karena Ia yang empunya Kerajaan Surga. Mau dimaafkan? SyaratNya kita juga harus mau memaafkan sesama kita. (lih. Mat 18:35).

Memaafkan untuk dimaafkan

Tapi kenapa Tuhan memberi syarat sedemikian berat bagi kita untuk meminta ampun? Bukankah katanya Tuhan itu Maha Kuasa dan Maha Ampun? Dia gak perlu susah-susah untuk mengampuni kita, kan?

Kata siapa?
Memaafkan kesalahan demi menyelamatkan umat manusia adalah ?proyek? terbesarNya! Bahkan AnakNya yang tunggal diturunkan ke bumi menjadi manusia, direndahkan, menderita sengsara hingga mati disalib? Itu semua adalah harga yang harus dibayar untuk memaafkan kita.

Maka kitapun harus melakukan hal yang sama. Memaafkan sesama demi keselamatan jiwa kita tidak melalui cara yang selalu mudah, tidak pula meriah dan kadang repot bikinnya?

Yang pasti kita tahu, di akhir nanti, semua akan membahagiakan!

Sydney, 15 Agustus 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.