Melihat dan mendengar. Ajakan atau batasan?

2 Agu 2018 | Kabar Baik

Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya. (Mat 13:16-17)

Kita sering mendengar perkataan Yesus di atas, kan? Bagaimana mengartikannya?

Banyak orang menganggap mereka yang melihat dan mendengar adalah mereka yang akrab dengan dunia supranatural.

Salahkah? Tidak! Bisa jadi benar! Tak semua orang menguasai supranatural dan hal itu adalah anugerah.

Tapi di sisi lain aku juga percaya bahwa yang diberi kuasa untuk itu tak hanya orang-orang supranatural saja. Bagiku, apa yang dikatakan Yesus itu bukan tentang bagaimana Ia membatasi tapi sebuah ajakan.

Sebuah ajakan untuk kita semakin peka dalam melihat dan mendengar karena di dalam kuasaNya, semua bisa saja kita dapatkan.

Jadi, meskipun tak dianugerahi karunia supranatural, jangan berkecil hati, mari kita mulai dari diri sendiri.

Diri sendiri?
Ya! Sudahkah kamu yakin bahwa kamu sudah mengerti dirimu sendiri sepenuhnya seutuhnya?

Aku lahir dengan ukuran kepala lebih besar dari anak lainnya. Badanku kurus, jidatku lebar yang membuatku terbiasa dipanggil apapun mulai dari E.T, Cunong, Bathuk, Jidat, Nonong hingga yang dulu paling menyakitkan, ?Botol? alias Botak dan Tolol.

Panggilan-panggilan itu menerorku dan aku tak kuasa melawan. Alhasil aku minder dalam pergaulan. Yang paling menyiksa adalah saat masa pubertas tiba. Aku merasa tak menarik sama sekali sementara rasa ingin berkenalan dengan lawan jenis begitu tinggi.

Tak hanya soal urusan itu, kurangnya rasa percaya diri membuatku tak maju dalam banyak hal lain. Misalnya dulu saat hendak ikut lomba nyanyi. Tangan dan kakiku gemetaran bukan karena takut bernyanyi buruk tapi karena tak kuat membayangkan akan ada berapa orang menghujat saat nanti aku naik ke panggung.

Tuhan membuka jalan.
Selepas SMP, Papa dan Mama mengirimku sekolah ke SMA Kolese De Britto Yogyakarta.

Di sekolah homogen pria itu aku belajar tentang bagaimana mengenali, menerima dan mencintai diri sebagai ciptaan yang dikasihi Tuhan.

Di sana aku diajari untuk memandang kelemahan bukan hal yang memalukan; jika bisa, diperbaiki, jika tidak diterima apa adanya sebagai hal yang tak terpisahkan dari diri kita.

Sementara itu keunggulan dipandang sebagai anugerah yang menyatu dengan kelemahan tadi dan bisa digunakan untuk memuliakan Allah dalam hidup.

Rasa percaya diriku terpupuk. Hasilnya, aku tak malu lagi dengan kepala yang besar dan jidat yang lebar. Hal itu kusadari sebagai identitasku, untuk apa ditutup-tutupi? Di titik itu aku merasa telah bisa melihat dan mendengar diriku sendiri secara lebih baik.

Rasa percaya diri yang tinggi jugalah yang menolongku amat sangat dalam meraih sukses di dunia kerja. Saat bermigrasi ke Australia, 2008 silam, aku datang dengan bekal tanpa pengalaman kerja di benua ini. Kuliah pun bukan di universitas di sini dan Bahasa Inggris-ku sangatlah payah dan tidak mumpuni.

Takut? Tidak sama sekali!

Kenapa? Karena Tuhan telah memberikan rasa percaya diri yang memampukanku untuk melihat dan mendengarkan diriku. Aku tahu bagaimana mengelola kelemahan dan kelebihanku untuk berkompetisi di tempat baru ini.

Apa yang kubagikan ini adalah semata untuk memberitahukan kepada kalian bahwa Tuhan tak membatasi siapa yang bisa melihat dan mendengar. Ia mengajak, Ia mengundang untuk jadi bagian daripadaNya.

Bagaimana kita meanggapinya?

Sydney, 26 Juli 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.