Melihat Aku, melihat Bapa. Melihat kalian, melihat siapa?

4 Mei 2019 | Cetusan, Kabar Baik

Filipus punya satu permohonan kepada Yesus.?Ia ingin melihat dan bertemu Bapa. Untuk itu, Filipus memohon supaya Yesus melunasi keinginannya.

Yesus menjawab, ?Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.? (lih. Yohanes 14:9)

Kemiripan

Waktu kecil dulu, setahun sekali saat Lebaran, aku dan keluarga berkunjung ke rumah eyang dari pihak Papa di Blitar, Jawa Timur. Pada kesempatan-kesempatan bertemu dengan keluarga besar, banyak yang bilang begini, ?Mukamu plek-jiplek (sama persis -jw) dengan Papamu, Don!?

Mereka yang lebih senior dari papa, komentarnya beda lagi, ?Donny ini fotokopi-annya Mas Slamet ya!? Slamet adalah eyang kakungku yang tak sempat aku temui karena ia meninggal dunia sekitar enam tahun sebelum aku dilahirkan.

Lain lagi ketika Natal tiba dan kami berkunjung ke rumah eyang dan eyang buyut dari pihak Mama di Klaten, Jawa Tengah. Setiap ketemu dengan saudara jauh yang lama tak bersua, mereka berkomentar, ?Matanya Donny mirip Mbak Tyas yo! Sipit!? Tyas adalah Mamaku.

Yang lebih tua komentar beda lagi. ?Kulit dan matanya Donny mirip Pak Pran!? Pak Pran adalah eyang kakungku, ayah dari Mama yang juga tak sempat kutemui karena meninggal dunia sekitar delapan bulan sebelum aku lahir.

Tapi semirip apapun aku dengan siapapun, aku adalah diriku sendiri. Wajah adalah wajah, bukan keseluruhan hidup. Artinya, jalan hidup yang kutempuh, keputusan-keputusan hidup yang kuambil, semua itulah yang pada akhirnya membedakan aku dengan alm. Papa, almh. Mama maupun para eyang kakung yang juga sudah almarhum semuanya.

Yesus dan Bapa

Yesus dan Bapa, tidak demikian.
Yesus memang pribadi yang berbeda dari Bapa tapi apa yang Ia lakukan sepanjang hidup di dunia adalah untuk melakukan kehendak Bapa. Segala perkataan dan pikiran yang Ia keluarkan adalah apa yang menjadi kesaksianNya terhadap Bapa di surga.

Sehingga ketika Ia berkata bahwa kalau seseorang melihat Dia maka orang itu telah melihat Bapa memang benar adanya.

Tapi Don, Petrus mengajak kita untuk isa serupa dengan Yesus (lih. 1 Petrus 1:23), adakah itu berarti kita juga bisa bilang bahwa ketika seseorang melihat kita maka ia otomatis telah melihat Bapa?

Bagaimana kita menjalani hidup sesuai ajaranNya, mencoba melaksanakan kehendakNya dan menyerahkan hidup seutuhnya kepada Tuhan adalah cara kita untuk membuat orang tahu bahwa Bapa berkarya atas hidup kita. Itu saja!

Aku ingin menutup cerita ini dengan penggalan kisah yang sebenarnya jarang kuceritakan pada siapapun.

Saat SMP dulu aku pernah terlibat baku pukul dengan seseorang. Kupikir tempat kejadiannya sepi dan tak ada orang menyaksikan. Tapi tiba-tiba ada seorang pria setengah baya berteriak ke arahku, ?Woyy?. stop! Stop! Jangan berkelahi!?

Awalnya aku tak mengindahkan tapi tiba-tiba aku teringat suaranya. Dia adalah salah satu kawan dekat dari papaku.

Ia berlari ke arahku. Awalnya aku hendak melarikan diri tapi terlambat. Bahuku digenggamnya.

?Kamu Donny, kan? Anaknya Pak Didiek, kan? Apa kata papamu kalau tahu kamu main pukul sembarangan begini??

Aku terdiam!
?Mau kulaporkan ke papamu??

Aku terdiam lagi.?
Di titik itu, aku sadar bahwa yang mirip, yang plek-jiplek hanyalah wajahku dengan wajah papaku. Nyatanya, saat itu apa yang kuperbuat jauh dari apa yang Papa perbuat pada sesamanya.

Aku bukan papaku, papaku bukan aku.

Sydney, 4 Mei 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.