Melibatkan sesama dalam mengasihiNya, menghadirkan Tuhan dalam mengasihi sesama

23 Agu 2019 | Kabar Baik

Ketika ditanya oleh seorang ahli Taurat tentang hukum yang terutama dari Taurat, Yesus memberi jawab dua hal terkait dengan hukum mengasihi atau yang kita kenal sebagai Hukum Kasih.

Pertama, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.? (lih. Mat 22:37)

Kedua, ?Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.? (lih. Mat 22:39)

Hukum lain bukannya jadi tidak penting, tapi kedua prinsip kasih di atas adalah yang harus jadi landasan hidup kita.

Dua hal yang menggelisahkan

Hari-hari ini ada dua hal yang menggelisahkan hatiku.

Yang pertama adalah kasus seorang pemuka agama yang dalam ceramahnya dianggap menghina simbol agama lain. Kontan saja ceramah yang terekam dalam video yang lantas mem-viral itu begitu menggoncang dan menimbulkan reaksi banyak orang. Ada yang memaafkan, ada yang memilih melupakan. Ada yang menuntutnya ke muka hukum, ada yang menuntutnya di muka umum baik di ranah nyata maupun media sosial.

Yang kedua adalah kasus tentang bagaimana gara-gara sebuah ujaran di social media terkait kebencian terhadap satu ras membangkitkan gelombang demonstrasi disertai kerusuhan. Luka yang belum sembuh benar karena perlakukan tak adil yang berkepanjangan terhadap saudara-saudara kita di sana kembali tertusuk, pedih dan menyakitkan.

Memahami kasih

Dua hal di atas benar-benar menggelisahkanku. Betapa rentan kita untuk menyakiti dan disakiti orang padahal kurang beragama apalagi kita ini untuk dianggap sebagai bangsa yang ber-Tuhan?

Memahami Hukum Kasih adalah kuncinya dan pagi ini aku mendapat ?penerangan? baru. Setelah sekian puluh (bahkan ratusan barangkali) mendengar ayat-ayat indah di atas, aku merasa kita perlu lebih masuk ke dalamnya.

Membawa sesama dalam mengasihi-Nya

Bila beribadah dan beragama adalah salah satu cara kita mengamalkan kasih terhadap Tuhan penguasa alam semesta, adakah kita sudah melibatkan manusia di dalam kasih kita itu?

Beragama jangan sampai meninggalkan sesama meski sesama itu berbeda dalam beragama. Tuhan yang kita sembah bukanlah layaknya raja-raja di dunia yang bisa kita beri sesembahan sementara di dalam hati kita mengkhianatinya. Menyudutkan dan tak mengindahkan perasaan sesama yang berbeda keyakinan, bagiku tak ubahnya adalah tanda pengkhianatan kita terhadap sifat Maha Kasih Tuhan. Karena bukankah Ia begitu mengasihi sesama siapapun dia seperti halnya Ia mencintai kita bagaimanapun adanya kita.

Membawa Dia dalam mengasihi sesama

Bila hidup dalam bingkai persatuan bangsa adalah salah satu cara kita mengamalkan kasih terhadap sesama, adakah kita juga melibatkan Tuhan di dalamnya?

Tak ada satupun dari kita yang diciptakan Tuhan dalam keadaan sama. Semua berbeda, semua unik adanya. Tak ada seorang pun bisa minta dilahirkan dalam suku atau ras tertentu. Maka ketika perbedaan yang paling hakiki itu dikoyak dalam kehidupan sosial kita, yang jadi pertanyaan sekarang, adakah kita lupa membawa Tuhan dalam interaksi kasih dengan sesama?

Hadirkan Tuhan dalam interaksi kita dengan sesama sehingga kita selalu ingat bahwa Ia menciptakan kita semua baik adanya meski berbeda. Tak ada seseorang yang lebih baik dari seseorang yang lainnya hanya karena beda ras/suku yang melekat dalam identitasnya.

Memahami kasih terhadap Tuhan dan sesama tak bisa dijalankan dalam dua jalur yang berbeda dan terpisah satu dari yang lainnya. Kasih terhadap keduanya hidup dan dihidupi dalam diri kita, menyatu dalam tubuh, jiwa serta roh yang sama. Ketika kita mengasihi Tuhan, tidak akan mungkin kita untuk tidak melibatkan sesama manusia di sana dan sebaliknya ketika kita mengasihi sesama, libatkanlah Tuhan karena Kasih adalah Ia.

Melbourne, 23 Agustus 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.