Melayani sesama karena lebih dulu dilayaniNya, mengasihi sesama karena lebih dulu dikasihiNya

7 Mar 2019 | Kabar Baik

Pantang dan puasa selama masa Pra-Paskah tak melulu terhadap makanan yang kita sukai, hobi yang kita senangi. Yang lebih mendasar daripada itu menurutku adalah bagaimana kita diajak untuk menguatkan semangat melayani sesama kita.

Kamu boleh puasa empat puluh hari empat puluh malam lamanya. Kamu boleh pantang makan daging dan garam atau social media tapi kalau kepada sesama kamu tak melayani, apalah gunanya?

Mengapa semangat melayani itu penting?

Alasannya hanya dua.
Pertama, karena Yesus mengajarkannya demikian.

?Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.? (Matius 20:26)

Kedua, karena Yesus telah melayani kita terlebih dulu.

?Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Matius 20:28)

Menjadi pelayan

Pada prakteknya, menjadi pelayan tak mengharuskan kita untuk bekerja sebagai pelayan seperti yang kita temui di restaurant.  Para pelayan yang bekerja di restaurant adalah pekerja yang berprofesi sebagai pelayan. 

Tapi konteks pelayan dalam iman tidak tergantung pada profesi. Bukan tentang siapa, tapi apa yang dikerjakannya.

Melayani

Lalu apakah melayani itu? Melayani bagiku adalah bagaimana kita membagikan kasih. 

Pagi tadi saat turun dari kereta, kurang lebih 25 meter di depanku ada seorang ibu setengah baya yang barang bawaannya jatuh berantakan di lantai stasiun. Tak lama kemudian, seorang wanita muda menghampiri dan menolongnya pada saat yang lain memilih untuk tetap melenggang. Kedua perempuan itu tak saling kenal tapi kenapa si wanita yang lebih muda tadi mau menghampiri dan menolong?

Perempuan muda itu adalah contoh orang yang melayani. Ia membantu ibu setengah baya tadi karena ada dorongan yang membuatnya tergerak untuk membantu.

Apa atau siapa yang mendorong itu?

Kita bisa bilang dorongan itu adalah rasa iba dan rasa kasihan. Benar? Benar! Tapi rasa adalah hasil, pasti ada sesuatu yang membuat rasa-rasa itu ada. Apakah itu? Roh! Roh Kasih!

Tidak mungkin kita bisa mengasihi jika kita tidak dikasihi dan Roh Kasih yang hadir dalam diri adalah bukti bahwa kita dikasihi oleh Allah!

Tapi apakah orang yang tidak melayani berarti tidak diberi Roh Kasih?

Tidak! Orang yang tidak melayani adalah orang yang barangkali belum tergerak untuk meneruskan kasihNya kepada sesama. Maka marilah pada masa Pra Paskah ini kita lebih menggali sejauh mana kita telah menanggapi kasih Allah dengan cara mengasihi sesama.

Mengasihi karena lebih dulu dikasihiNya, melayani karena lebih dulu dilayaniNya.

Sydney, 7 Maret 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.