Melawan aturan atau kritis terhadap keadaan?

10 Sep 2019 | Kabar Baik

Hari ini kita akan merenungi tentang mana yang lebih benar, melawan aturan atau kritis terhadap keadaan. Sumber permenungan kita ambil dari Kabar Baik hari ini. Yesus dilukis Lukas kembali berhadap-hadapan dengan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Kali ini peristiwanya terjadi di sebuah rumah ibadat di suatu Hari Sabat. Seperti kita ketahui bersama, ada banyak hal yang tak boleh dilakukan di Hari Sabat. Dan waktu itu, Yesus diamati betul karena hadir pula seorang yang mati tangan kanannya di rumah ibadat tersebut.

Melawan aturan Sabat?

Di dalam hati, mereka siap-siap menyalahkan Yesus? andai saja Ia berniat menyembuhkan orang itu karena menurut aturan hal itu dilarang dilakukan di Hari Sabat.

Tapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada orang yang mati tangannya itu: “Bangunlah dan berdirilah di tengah!” Maka bangunlah orang itu dan berdiri. (Luk 6:8)

Lalu Yesus berkata kepada mereka: “Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” (Luk 6:9)

Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua lalu berkata kepada orang sakit itu: “Ulurkanlah tanganmu!” Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya. (Luk 6:10)

Maka marahlah orang-orang Farisi dan ahli Taurat melihat tindakan Yesus tersebut.

Kritis terhadap keadaan

Banyak orang menitikberatkan tema Kabar Baik hari ini pada bagaimana Yesus melakukan perlawanan terhadap hukum yang berlaku. Lalu hal tersebut sedikit banyak menginspirasi untuk melakukan hal yang sama.

Bagiku Yesus memang melawan tapi bukan untuk menghancurkan melainkan untuk menggenapi; mengoreksi yang salah dan meletakkan yang sudah benar di posisi yang lebih tepat. Sudut pandang yang harus digunakan dalam menilai Kabar Baik hari ini adalah iman kita bahwa Yesus itu Tuhan. 

Tapi kita ini bukan Tuhan. Kita adalah muridNya. Ada begitu banyak hal yang tak bisa kita lakukan seperti halnya Yesus melakukan.

Maka melawan hukum harus kita baca sebagai ajakan untuk kritis terhadap keadaan.

Kritis bukan berarti melawan. Kritis adalah sebuah keadaan dimana kita menjalankan aturan secara sadar. Artinya, ketika aturan yang kita lakukan membawa perubahan positif, hal itu harus kita apresiasi sebagai tanda kekritisan kita. Sebaliknya, ketika aturan kita rasa malah menjerumuskan kita pada hal-hal yang negatif, kita utarakan keberatan itu dalam ranah diskursus yang sehat.

Contoh paling gampang adalah soal aturan lalu lintas tentang mengenakan helm bagi para pengendara sepeda motor. Helm, hingga saat ini diyakini adalah sarana terbaik untuk menghindarkan hal-hal yang tak diinginkan terjadi ketika seorang pengendara mengalami kecelakaan dan melibatkan benturan kepala dengan benda atau permukaan yang keras.

Kita tak perlu melawan hal tersebut. Kalau tertangkap polisi karena tak mengenakan helm ya tak perlu sok kritis karena itu bukan kritis yang pada tempatnya.

Sebaliknya, misal kita melihat ada sekelompok masyarakat yang hendak mendirikan rumah ibadah namun dilarang karena aturan yang tidak adil serta cenderung tendensius SARA ya kita lawan!

Prinsip Kasih

Semangat perlawanannya bukan dalam konteks supaya negara tunduk pada perubahan yang kita mau tapi dalam tataran bahwa kita memperjuangkan keadilan bagi seluruh warga dimana negara menjamin kegiatan peribadatan.

Bentuk perlawanannya juga tak bisa semena-mena dan mengambil jalan barbar dimana kekerasan dihalalkan. Perlawanan haruslah menunjukkan harkat dan martabat kita.

Karena kita mengaku diri sebagai insan kristiani yang mengenal kasih Tuhan, maka perlawanan harus dilakukan dengan memperhatikan prinsip-prinsip kasih. ?

Bagaimana prinsip kasihNya? Ah, tulisan ini akan terlalu panjang jika harus mengulasnya sekaligus di sini, kan?

Sydney, 10 September 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.