Melarang orang lain untuk mendekat padaNya? Siapakah kita?

27 Agu 2018 | Kabar Baik

Para murid gusar karena banyak orang membawa anak kecil datang kepada Yesus.

Sebabnya? Tak tahu. Matius tak menuliskan dalam perikop Kabar Baik hari ini, Matius 19:13-15. Pokoknya mereka marah dan menghalau supaya Yesus tak diganggu anak-anak kecil itu.

Jika kalian membaca tulisanku yang ini, anak-anak kecil yang datang kepada Yesus sejatinya adalah simbol. Simbol kepolosan dan simbol kemauan untuk datang kepada Tuhan melalui GerejaNya.

Maka marilah kita merefleksikan dalam diri sendiri, bagaimana kita meresapi hal ini?

Aku mencoba merenungi Kabar Baik hari ini sebagai sebuah pesan bahwa siapapun berhak untuk datang kepadaNya. Kita tak punya hak sama sekali untuk melarang meski kita sudah merasa begitu dekat dengan Tuhan.

Di Australia, pernikahan sejenis telah disetujui sejak tahun lalu dan pihak Gereja Katolik tetap pada pilihan yang kukuh, tidak setuju karena tak sesuai kodrat manusia, pernikahan harus dilakukan antara pria dan wanita.

Tapi menolak aturan bukan berarti menolak manusia-manusianya. Gereja tetap menghormati kaum LGBT untuk hadir dalam perayaan dan aktif dalam kegiatan-kegiatan seperti layaknya umat yang lain.

Bagaimana dengan di Indonesia?

Satu hal yang tak pernah terlupa dulu adalah ketika pergi ke Gereja, perayaan baru berlangsung sekitar sepuluh menit lalu berjalan seorang bapak setengah baya dan duduk di kursi deretan depan.

Orang ramai berbisik-bisik membicarakan si bapak tadi karena rumornya ia baru saja meninggalkan istrinya dan tinggal bersama wanita simpanannya.

Pergunjingan mudah ditebak, mereka merasa si bapak tadi tak pantas untuk datang ke gereja apalagi menerima Tubuh dan Darah Kristus.

Adilkah demikian?

Sebagai manusia kita boleh geram tapi keadilan bukan ditakar dari kegeraman kita. Keadilan milik Tuhan.

Kalau kita menilai kaum LGBT maupun si bapak yang meninggalkan istrinya itu tak layak masuk ke Gereja, apakah kau pikir kita sudah lebih layak dari mereka?

Kita mungkin tak marah dan melarang seperti halnya para murid Yesus hari ini tapi pandangan mata yang sinis, omongan dan gosip yang ?membunuh jiwa?, semuanya sama saja.

Sedekat apapun terhadap Tuhan, kita tak berhak melarang seorang siapapun itu untuk datang kepadaNya. Kedekatan kita kepada Tuhan tak menambah sedikitpun kuasa untuk melakukan hal-hal seperti itu.

Sydney, 27 Augustus 2018

Sebarluaskan!

7 Komentar

  1. saya tidak setuju dgn ulasan diatas. Kalau mempergunjingkan memang tidak boleh atau berdosa. Tetapi anda lupa bahwa Yesus sendiri berkata jika diantara jemaat ada yang berbuat dosa berat , panggil empat mata dan nasehati, gak berubah , dengan 2 .. 3 org …gak berubah juga … seluruh jemaat harus menegurnya dan terakhir ekskomunikasi.
    Lalu buat apa dibuat Hukum Kanonik. Gereja diadakan bukan buat berkumpul dan hanya untuk Ekaristi saja …. ada banyak hal lain yg diperlukan yaitu…merubah kita menjadi lebih layak di hadapan Tuhan…. Yesus berkata kepada wanita yg akan dirajam… setelah semua laki laki dgn batunya pergi… ada terusannya … Jangan Berbuat Dosa Lagi…. kalau contoh diatas LGBT dan Kawin lagi… dia berbuat dosa lagi lagi dan lagi…. seharusnya sudah jangan jadi Katolik lagi … menyebabkan yg lain dan yg belum paham akan menirunya…

    Balas
    • Saya tidak lupa! Persoalannya siapa yang berhak memanggil pendosa berat? :) Kita? Kamu? Aku? Siapa kita? :)

      Balas
      • Selama kita gak berani menegor… kita belum mendapat Roh Kudus… kalau anda cuma menulis saja …. gak berani menegor … hanya iman saja gak ada perbuatan.. Dan buat apa iman anda tanpa perbuatan…. ????

        Balas
        • Wow… anda hebat bisa menghakimi saya :) Doakanlah saya supaya bisa lebih baik lagi :)

          Balas
  2. LGBT tetap haram hukumnya dalam Gereja Katolik Roma tapi tidak tau dengan gereja2 lain

    Tapi memang urusan mencari keselamatan kepada Tuhan itu hak nya masing2 pribadi manusia

    Balas
  3. Yang menegor Penatua .. Romo atau pengurus Gereja.. … yang menegornya .
    Suara Tuhan akan ada lewat seseorang… bukan lewat mimpi … bkn lewat suara di telinga … Yang berani menegor ada Roh Kudus di hatinya.Yang diam saja… blm ada Roh Kudus.

    Balas
    • Wow.. lagi-lagi wow…

      Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.