
Libur Paskah kemarin, 10 – 12 April 2009, bersama Istri, Mama Mertua, keluarga Jaya dan Irna, serta keluarga Darell – Cucu dan anak mereka Ben, kami pergi melancong ke Port Stephens, NSW, Australia. Port Stephens adalah sebuah kawasan pantai dan pelabuhan yang pada akhirnya menjadi kawasan tujuan wisata, terletak sekitar 160 kilometer dari pusat kota Sydney. Adalah Captain Cook yang pada 11 Mei 1770 melewati tempat itu lalu menamainya sebagai Port Stephens sebagai penghormatannya kepada Sir Phillip Stephens, sekretaris angkatan lautnya.
Dan selanjutnya, aku akan bercerita melalui gambar saja.

Setelah menempuh perjalanan sekitar dua jam dari Sydney, menjelang Port Stephens dan selepas Newcastle, kami mampir ke Australian Shark & Ray Centre, sebuah balai konservasi ikan pesut dan hiu yang pada akhirnya dijadikan alternatif tempat wisata pula.
Inginnya masuk, tapi karena harga tiket yang menurut kami tidak terlalu “menguntungkan” karena kami harus membayar 25 AUD per kepala hanya untuk masuk, jalan-jalan dan melihat dua koleksi binatang buas laut itu lalu memberi mereka umpan makan, maka kami pun mengurungkan niatan dan pergi begitu saja.

Selanjutnya kami pergi ke Kingsley Beach.
Sebuah private beach yang letaknya sekitar lima kilometer dari Nelson Bay, tempat yang kami jadikan sebagai basecamp karena kami menyewa sebuah apartement di sana.
Seperti layaknya private beach lainnya, Kingsley Beach sangatlah bersih dan sepi. Pasir pantainya berwarna putih, dengan cekungan pantai yang hampir setengah lingkaran dengan tebing pada kedua sisi terluarnya adalah karang.
Tapi lucunya, meski ini adalah Australia dan bukan Indonesia, aku masih bisa menemukan sebuah grafiti, tulisan liar, bertuliskan “LOCAL” pada sebuah batu karangnya.
My oh my…

Sesampainya di Nelson Bay, menjelang Perayaan Hari Jumat Agung di gereja, kami menyempatkan diri dulu untuk makan siang sembari “inspeksi” keadaan sekitar.
Lalu pergilah kami ke pelabuhan yang pada tepiannya terdapat shopping center dan aneka restaurant serta banyak tersedia tempat hiburan untuk anak-anak termasuk yang terlihat di foto di atas, permainan membuat gambar dengan menggunakan pasir pantai yang diwarnai. Cukup bayar lima dollar, dan anak-anak bisa membuat sebuah lukisan pasir di atas kertas sesuka hati mereka.

Nelson Bay adalah sebuah pelabuhan yang menawarkan keriaan-keriaan di sekelilingnya.
Oleh karenanya, bisa dibilang sejauh mata memandang, dermaga-dermaga penuh dengan kapal-kapal pesiar milik pribadi pun terhampar.

Sabtu pagi, kami pergi ke Anna Bay untuk menikmati salah satu pantai terbesar di Port Stephens itu dan bermain sand boarding di Stockton Beach.
Sand Boarding adalah satu jenis permainan yang cukup menarik.
Kita dibawa ke sebuah padang pasir yang cukup luas lalu pada tebing-tebing pasirnya kita meluncur ke bawah menggunakan sebuah papan seperti skateboard tapi tanpa roda.
Sensasinya bisa dibilang luar biasa karena ketinggian tebing yang cukup “mendebarkan” serta kecuraman tebing yang lebih dari 45 derajat.
Per kepala dari kita dikenai biaya 20AUD untuk permainan sandboarding tersebut lengkap dengan akomodasi khusus yang akan kuceritakan pada bagian di bawah ini.

Oh ya, hampir kelupaan, bahkan perjalanan dari Anna Bay ke padang pasir di Stockton Beach adalah sesuatu yang menyenangkan sekaligus mendebarkan karena kita harus naik mobil 4wheeldrive (4WD) dan melewati gurun pasir yang naik turun itu…

Tak hanya sandboarding, Stockton Beach dengan padang pasirnya itu juga menawarkan wisata berkuda dan naik unta.
Sayangnya aku tak sempat bermain dengan kuda dan unta itu karena waktu sudah semakin bergerak ke arah siang dan perut yang mulai keroncongan.

Masih di Anna Bay, aku menemukan sebuah teropong yang bisa digunakan selama 80 detik setiap kita memasukkan uang 2 dollar.
Seorang perjaka muda barangkali akan senang mengenakannya karena dengan bebas ia bisa melihat lawan jenisnya berpakaian seksi berenang maupun bermandi matahari di pinggiran pantai.
Tapi ya itu tadi, untuk perjaka muda, sayangnya bukan untukku lagi … hihihi..

Hari ketiga, atau hari terakhir rangkaian liburan kami ke Port Stephens, kami mengikuti Whale and Dolphin Wathing Tour di lepas pantai Nelson Bay.
Harga paket yang ditawarkan cukup murah dan “berharga” yaitu sekitar 26 AUD.
Kami menaiki sebuah kapal pesiar yang cukup besar, lalu selama lebih kurang dua jam kapal itu berputar-putar di area yang menjadi tempat hidup lumba-lumba dan ikan paus berukuran kecil hingga sedang. Sayangnya karena bukan musimnya, siang itu kami tak bisa menikmati paus melainkan hanya lumba-lumba saja.

Dan inilah kami, para pelancong itu…

Sepulang dari Port Stephens, kami memang tak berniat untuk langsung pulang ke Sydney.
Rencana awal adalah pergi ke perkebunan lavender yang letaknya dekat Dugong, NSW.
Tapi apa daya, setelah berjuang selama lebih kurang satu jam untuk mencapai area tersebut, kami harus mendapati kenyataan bahwa perkebunan itu tutup meski pada brosur yang kami dapat, seharusnya hari itu tidak tutup.

Sebagai obat kecewa, sepulang dari Dugong menuju Sydney, secara tak sengaja kami melewati sebuah kota tua bernama Paterson.
Kota yang tepatnya bisa disebut desa karena hanya terdiri dari beberapa blok dengan rumah-rumah kayu khas pedesaan dengan halaman-halaman luas ber-acre-acre.
Sekitar setengah jam kami mampir sejenak untuk menyeruput kopi, ngemil kue-kue homemade serta of course, poto-poto!!!
O well, liburan telah usai.
Selasa ini aku kembali masuk kerja dan waktu hanya mengijinkan ku untuk mengenang apa yang pernah kami nikmati selama liburan Paskah kemarin.
Thanks God, setidaknya liburan kemarin cukup menjadi bekal untuk menghadapi pekerjaan yang telah menunggu di depan dan musim dingin yang telah bersiap di pelupuk mata…
Tinggalkan Balasan