‘Mba

14 Okt 2013 | Cetusan

Sebagai manusia biasa, aku punya serangkaian keraguan yang kubawa ketika pindah dari Indonesia ke Australia, lima tahun silam dan salah satunya adalah kekhawatiran apakah Simba bisa get along denganku atau tidak?

Simba?adalah nama anjing kesayangan istriku. Ia, bukan ?makhluk baru? saat itu. Hampir setiap percakapan per telepon maupun ketika kami sedang bersama sejak Simba ada, ia adalah cerita yang seolah tak pernah mengenal kata ?akhir? dari mulut istriku yang ketika itu masih pacarku.

Terlebih karena pada waktu yang nyaris bersamaan dengan lahirnya Simba, 2002, aku di Klaten juga memelihara Pluto lalu Prita dan Ellen. Jadi, Simba dan bagaimana istriku berinteraksi dengannya adalah pedomanku dalam memelihara dan memberlakukan seekor anjing.

Tapi minggu pagi itu, sesampainya aku di Sydney, masi di garasi rumah istriku, keraguan itu pudar. Simba dengan kebat berlari menghampiriku lalu merangkulku layaknya dua sahabat yang terpisahkan jarak begitu lama dan sejak saat itu hingga sekarang dan selamanya, Simba memang menjadi kawanku.

Masa dimana aku belum mendapat pekerjaan, November 2008 – Februari 2009 dan harus di rumah sendirian karena istri bekerja adalah masa yang akan kukenang sebagai masa dimana aku begitu dekat dengan Simba.

Sesudah mengantar istri pergi kerja ke bus shelter dekat rumah, aku memberi makan Simba lalu mengajaknya bermain di taman belakang sebentar lalu menyuruhnya masuk dan aku duduk di depan komputer, mencari pekerjaan melalui internet, terima telepon dari agen pekerjaan dan selama itu pula Simba selalu ada di sisiku.

Ketika aku sedang kecil hati dan tak sabar karena begitu lama menunggu untuk mendapatkan pekerjaan, ia seperti tahu kegundahanku, menjilati tangan dan kakiku seolah memberi tahu bahwa tak ada yang bisa dilakukan ketika kita telah mengusahakan semuanya kecuali sabar.

Kedekatan itu lantas membuatku memutuskan untuk menampilkan fotonya di halaman ?Contact Me? pada website pribadiku yang waktu itu harus kususun buru-buru karena beberapa perusahaan yang kulamar memintaku untuk membuat dan menunjukkannya.

Dan karena aku begitu menghargai kedekatan itu pula, ketika akhirnya aku mendapatkan kerja, Februari 2009, aku menyisihkan uang dari gaji pertamaku untuk membelikan Simba baju hangat karena waktu itu hendak masuk musim gugur lalu musim dingin.

Meski aku tak bisa lagi bersama dengannya sepanjang hari setelah bekerja, namun biasanya sepulang kerja, aku dan istri mengajak Simba jalan-jalan keliling kompleks lalu menonton televisi bersama dan selayaknya anggota keluarga, kami tak menempatkan Simba di lantai tapi kami angkat dan dudukkan di sofa di tengah-tengah antara aku dan istriku.

Capek dan ngantuk nonton tivi, kami tak lantas meninggalkan Simba begitu saja. Kami ajak Simba naik ke atas untuk tidur bersama kami. Bukan di atas keset, atau kasur khusus, tapi kami angkat ke atas tempat tidur kami. Ya, kami tidur bersama-sama, bertiga! :)

Bahkan, hingga beberapa saat sebelum Odilia, anak pertamaku, lahir, tradisi tidur bersama itu masih kami lakukan.

Odilia lahir, perhatian kami tentu tak lagi hanya ditujukan kepada Simba. Demikian pula ketika Elodia, anak keduaku, lahir, dua tahun sepuluh bulan sesudah Odilia lahir. Kami tak lagi bisa tidur bersama Simba meski dalam kesempatan-kesempatan yang memang makin sempit, kami masih tetap mencoba memanjakan Simba.

Ketika Odilia dan Elodia bermain bersama di atas matras di depan televisi, kami selalu melibatkan Simba untuk bermain bersama. Dari kesempatan-kesempatan bermain bersama itu, kulihat Simba begitu sayang pada Odi dan Elo; sering kulihat ia berusaha menjilati tangan dan wajah anak-anakku; sesuatu yang sangat kusyukuri mengingat Simba sebenarnya tak terlalu suka pada anak kecil.

Interaksi antara Simba dengan anak-anakku juga akan selalu kuingat setiap kami menyuapi Odilia maupun Elodia. Namanya juga anak-anak, makan pasti tak rapi-rapi amat, nah di sini Simba berperan begitu baik untuk mengambil remah-remah makanan yang jatuh ke lantai untuk dimakannya.

Tapi usia adalah fakta yang tak bisa menutupi kenyataan bahwa hidup ini memiliki masa kadaluwarsa.

Dalam setiap pemeriksaan ke dokter langganannya secara berkala, Simba dilaporkan semakin mengalami penurunan seiring pertambahan usianya.

Akhir agustus silam, sepulang dari Jakarta, ketika mengambil Simba di boarding housenya, dokter melaporkan kondisi ginjal Simba yang tak begitu bagus.

?Ini penyakit alami dari anjing-anjing tua. Tak ada obatnya, kita hanya bisa menjaga supaya kondisinya tetap bertahan baik.?

Tak mengkhawatirkan, tapi sejak saat itu, dalam hati, aku sebenarnya mulai menata hati untuk datangnya hari dimana Simba harus pergi.

Sepanjang september, keadaan Simba tak kunjung membaik. Geraknya semakin lamban. Ia tak lagi berlari ke arah pintu dan menggonggong ketika ada orang datang. Ia tak terlalu tertarik lagi dengan reward yang kami berikan setiap malam dan bahkan banyak waktu ia habiskan untuk duduk dan tiduran di atas matras.

Lalu tibalah hari Selasa silam, 7 Oktober 2013.
Dalam percakapan menjelang tidur, aku mengusulkan kepada istriku untuk membawa Simba kembali ke dokternya karena aku memperhatikan bahwa ia semakin tak nyaman dengan tubuhnya. Kami lantas membawanya ke dokter pagi harinya untuk diambil darahnya lalu diperiksa.

Rabu sore, dokter memberi tahu istriku keadaan Simba.
Keadaannya makin buruk dan mereka menawarkan treatment untuk Simba. ?Kita harus memberikan yang terbaik bagi Simba selagi kita mampu!? tukasku pada istri sepulang kerja sambil mengelus-elus Simba yang rebahan tanpa daya sekuat dayanya dulu.

Kamis pagi, 9 Oktober 2013, istriku menemukan darah di kotoran Simba dan mengusulkan untuk membawanya lagi ke dokter, ?Aku punya feeling sepertinya ia terminal (keadaan yang sudah tak bisa diobati lagi)!?

Aku mengangguk mengiyakan, bayangan itu kian nyata di ufuk benak.
Sesampainya di tempat praktek dokter, kami diberitahu kenyataan yang sangat memukul, ?Kemungkinan Simba hidup hanya bertahan hingga sebelum Christmas!?

Kami berkeras. ?Tetap berikan yang terbaik buat dia!? ujarku dan istri meyakinkan dokter untuk melakukan proses cuci darah dan hal ini lalu dilakukan pada kamis siang.

Kamis malam, aku terlibat diskusi dengan istriku.
?Kita harus berkeputusan yang terbaik untuk Simba dan semoga yang terbaik untuk kita meski itu sangat sangat berat untuk diputuskan!? tukasku.

Malam itu waktu berjalan terasa lambat. Aku dan istriku tak bisa tidur nyenyak karena pagi harinya, istriku akan menelpon dokter untuk menyampaikan keputusan kami.

?Bagaimana keadaan Simba?? tanya istriku melalui saluran telepon pada Jumat pagi yang lalu.
?Ia tak merespon treatment yang kemarin kita berikan, unfortunately..? tukas suara di seberang sambungan telepon.

Istriku diam sejenak. Dengan suara terbata-bata, iapun mengutarakan keputusannya di hadapanku yang memeluk anak-anakku, pagi itu. ?I?ll let him go!?

Kepedihan tak terbendung lagi. Pagi itu, sama seperti pagi sebelumnya, aku sama sekali tak berniat melakukan apapun karena pikiranku tertuju pada seorang kawan yang begitu setia padaku dan keluargaku. Pekerjaan di kantor tak bisa kuhandle dengan baik sebaik hari-hari sebelumnya. Sebentar-sebentar aku melongok jam, termenung membayangkan masa-masa yang pernah kulewati bersama Simba dan akhirnya kutuliskan semua ini, sekitar tiga jam sebelum jam yang telah kami tentukan bagi Simba untuk kami tidurkan selamanya?

Simba, 2002 - 2013

Simba, 2002 – 2013

Jumat, 11 Oktober 2013, pukul 6 sore lewat 28 menit ketika matahari masih cukup terang. Dalam pelukan orang yang paling mencintainya, istriku, setelah pula dipeluk oleh orang-orang yang juga tak kalah mencintainya, aku, Odilia dan Elodia, Leonardus Simba Taufan berpulang untuk selamanya.

Ia tertidur, dan dalam tidur abadinya tak’kan ada lagi sakit dan nestapa.

Selamat tidur, ?Mba, Suatu waktu nanti, ketika kita bertemu kembali, sambutlah aku seperti halnya engkau menyambutku pada minggu pagi pada kedatanganku ke Sydney dulu…

Sebarluaskan!

13 Komentar

  1. Daaaaan, pagi-pagi langsung mbrebes mili :((

    I know how it feels. Campur aduk antara nggak rela, sedih, tapi mau yang terbaik buat anggota keluarga yang paling setia. Go to rainbow bridge, Simba.

    Balas
    • Thanks. Bagaimanapun pedihnya akhirnya aku mencoba mensyukuri bahwa Tuhan baik banget memberi kesempatan untuk mengenal dan dikenal, mencintai dan dicintai Simba :)

      Balas
  2. I’m so sorry for Simba.
    Leonardus Simba Taufan? Yg baptis siapa,bos?

    Balas
    • Kami sendiri :) Iseng saja ;)

      Balas
  3. bener2 ikut sedih om :”(
    walau aku bukan penyuka hewan dan gak punya hewan peliharaan, tapi tetep bikin haru kisah ini.
    selamat jalan, Mba…

    Balas
  4. Aku merinding dan nangis bacanya T.T

    Balas
  5. Ikut berduka Don
    Simba sudah bahagia di alam sana….

    Terbayang sedihnya Donny dan keluarga….

    Balas
    • Makasih, Bu Enny

      Balas
  6. ah aku ikut menangis pagi ini.
    dan hei, Leonardus itu nama baptis yang keren untuk seekor SIMBA!

    Balas
    • Heheh itu yang memberi nama baptis si Joyce. Simba kan artinya raja hutan, dia milih Leonardus karena ada Leo nya yang berarti raja hutan juga, singa :)

      Balas
  7. ceritanya jadi mengingatkan aku sama kucing kesayanganku mas, sayangnya dia mati secara tragis, ketabrak mobil..
    turut berduka mas atas anjing kesayangannya..

    Balas
    • makasih.. he is happy now :)

      Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.