Mau melawan kejahatan? Kasihilah orang-orang jahat terlebih dahulu. Bisa?

30 Jul 2017 | Kabar Baik

Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar, lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.
(Matius 13:49 – 50)

Bagi orang yang mengharapkan akhir dari segala kejahatan di muka bumi ini terjadi secepatnya barangkali harus sedikit menyimpan kecewa.

Kenapa?
Yesus, seperti ditulis Matius mengatakan bahwa orang jahat baru akan dipisahkan dari orang baik pada akhir jaman. Atau dengan kata lain, hingga hari kiamat, kejahatan dan orang jahat tetap akan ada.

Tapi haruskah kita putus asa jadinya? Tentu tidak. Upaya untuk mewujudkan doa ‘di atas bumi seperti di dalam surga’ tetap menuntut kita untuk bersikap proaktif, salah satunya supaya kita tetap jadi orang baik, tidak ambil bagian dalam rencana si jahat itu sendiri!

Caranya?
Menurutku ada lima. Setidaknya renungan itulah yang kudapat sembari nge-vacuum dan ngepel lantai tadi pagi hehehe.

#1 Kenali Si Baik
Kuasa Tuhan adalah kuasa baik, tak ada yang jahat sedikitpun dariNya. Oleh karena itu kita harus mengenal seperti apakah kuasaNya tersebut dengan jalan mendekatkan diri pada Gereja Katolik dan meresapi Kabar Baik yang kita dapatkan untuk memaknai hidup sehari-hari.

#2 Kenali si jahat
Kuasa setan adalah kuasa jahat, tak ada yang baik dari sedikitpun darinya meski terkadang ada ‘gula-gula’ yang tampaknya baik tapi akhirannya tetap jahat.

Dari Alkitab kita bisa mempelajari pola-pola si jahat bekerja dan itu saja tidak cukup. Kita harus peka terhadap jaman serta kemajuan dan modernisasinya karena meski pola-pola mereka sama, variasi jebakan si jahat amat banyak! Mereka pandai menyesuaikan diri dengan jaman, hadir memanipulasi seolah-olah dirinya adlaah solusi dari permasalahan hidup yang pelik.

#3 Kenali diri sendiri
Mengenali diri sendiri tak lepas dari mengakui bahwa diri ini sejatinya lemah. Dari penyadaran ini, kita pada akhirnya mengharapkan kuasa yang lebih besar dan menguatkan untuk mendampingi kita. Karena menjadi kuat adalah baik, maka kita hanya berharap dari kuasa baik yang besar, yaitu Tuhan!

Mengenali kelemahan spesifik diri termasuk dalam proses pengenalan ini. Misalnya ada orang yang amat mudah tergoda selingkuh, orang yang mudah untuk mencuri dan korupsi, orang yang mudah jatuh karena disanjung, orang yang mudah terpancing untuk marah dan masih banyak lagi.

#4 Putuskan
Kita diberi akal dan budi untuk membuat keputusan-keputusan hidup terkait diri sendiri dan lingkungan sekitar.
Jadi, setelah mengenal Sang Maha Baik dan si jahat, serta mengerti keberadaan diri, kitalah yang harus memutuskan apakah akan ikut Roh Baik atau menyerah pada roh jahat.

Misalnya kita didekati direktur perusahaan yang menghendaki proyeknya dijalankan dalam departemen yang kita pimpin. Kita tahu cara tersebut tidak benar karena ada tahapan-tahapan resmi namun di satu sisi kita lemah apalagi kondisi keuangan keluarga morat-marit.

Di titik itu kita harus memutuskan apakah akan tetap menolak dengan resiko ekonomi keluarga tak berubah, atau menerima uang suap dan ekonomi keluarga berubah meski mungkin tak lama karena setelah kamu ditangkap KPK dan masuk berita, apa yang lebih menyenangkan yang diharapkan anak-anak dan istrimu selain hidup yang jujur meski harus sederhana yang penting bersama-sama?

#5 Pertahankan
Jika kamu berhasil memutuskan untuk tetap ikut Tuhan dan mengalahkan roh jahat, jangan terburu-buru untuk senang karena godaan roh jahat ada mengintai di tikungan-tikungan hidup selanjutnya. Pertahankan kuasa Allah yang meraja dalam hidupmu dengan terus-menerus bersyukur lalu ulangi tahap 1,2,3 dan 4 di atas terus-menerus tanpa kenal henti hingga akhir nanti.

Don, tapi saran-saranmu itu kan menyangkut ke diri sendiri, bagaimana dengan orang-orang lain di sekitar kita? Bagaimana usaha kita untuk membuat orang jahat menjadi baik kembali?

Tentu ada banyak cara tapi sebelum memulai yang banyak, cobalah satu yang paling sederhana tapi justru menjadi ajaran utama Yesus, kasihilah sesamamu seperti engkau mengasihi dirimu sendiri.

Karena orang jahat pun adalah sesama kita, maka kasihilah mereka seperti mu mengasihi diri sendiri lalu biarkan Tuhan sendiri yang mengubah mereka karena kamu dan aku tak punya hak apapun untuk mengubah seseorang kecuali Tuhan yang menghendakinya sendiri!

Sydney, 30 Juni 2017

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.