Mau damai atau ?damai??

26 Okt 2017 | Kabar Baik

Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan.
(Lukas?12:51)

Perikop Kabar Baik hari ini adalah salah satu yang mengejutkan dan kadang dijadikan ?senjata? oleh orang-orang ?luar? untuk menyerang iman kita.

Mereka menelan mentah kata per kata yang dituliskan Lukas sehingga Yesus terkesan tak membawa damai melainkan pertentangan. ?Kalau begitu katanya Dia Raja Damai? Mana buktinya?? Begitu biasanya mereka bertanya?

Tiba-tiba aku teringat satu kejadian dulu. Suatu sore aku pernah tertangkap polisi karena berkendara nggak pakai helm, lupa pula bawa SIM.

?Kok nggak pakai helm?? tanyanya sambil mengambil kunci motorku.

?Rumah saya cuma deket situ, Pak. Ini disuruh Papa beli rokok lalu balik rumah kok sesudahnya?? jawabku memelas.

?SIM kamu mana?? tanyanya lagi, lebih tegas. ?Ke? ke.. ketinggalan di rumah Pak! Saya nggak bawa dompet cuma bawa duit!? jawabku lagi, lebih memelas.

Pak polisi segera mengeluarkan buku dan menuliskan sesuatu. ?Kamu saya tilang karena nggak pakai helm dan nggak bawa SIM! Datang ke pengadilan ya??

?Waduh, Pak! Tunggu dulu, Pak! Damai saja lah Pak! Damai? damai?? berapa Pak?? aku menghiba?

Pak polisi itupun menjawab keras, ?Kamu jangan mencoba menyuap saya. Nggak mau tahu! Kamu harus ke pengadilan!? Ia lantas pergi begitu saja?

Dalam pengertianku, ?damai? yang ditentang Yesus adalah jenis damai yang seperti itu. Damai yang dikondisikan melalui cara-cara busuk dengan menyuap uang sehingga Pak Polisi mau berdamai dan membatalkan tilang.

Sedangkan damai yang ditawarkan Yesus adalah damai yang seperti ditawarkan Pak Polisi itu. Kita berdamai saat aku mau ke pengadilan dan mengakui kesalahanku serta membayar denda, baru damai!

Setelah lebih dari dua puluh tahun sejak peristiwa itu, satu hal yang kusyukuri adalah Pak Polisi itu tak mengambil motorku padahal bisa saja sore itu ia merampasnya untuk dibawa ke kantor polisi menunggu aku datang membawa SIM dan STNK.

Begitu pulalah hidup. Meski kita kadang menolak keselamatanNya, tak ikut di jalanNya, Tuhan tidak serta-merta merampas hidup kita. Ia masih memberi kesempatan untuk berbuat lebih baik lagi.

Jadi masih mau ?damai? atau damai? Mau gampang dan cepat tapi enaknya cuma tahan sebentar atau mau berjuang, sepanjang hidup tapi enaknya kekal dan abadi di rumahNya kelak?

Kamu sendiri yang tentukan!

Sydney, 26 Oktober 2017

Sebarluaskan!

2 Komentar

  1. Don, lah habis kena tilang, dulu kamu ikut sidang di pengadilan ya kagak?

    Balas
    • Ya sidang akhirnya :)

      Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.